Yamaha

Sensor Film di Era Digital

  Jumat, 07 Februari 2020   M. Naufal Hafizh
Buku Sensor Kontemporer: Pandangan pada Perkembangan Sensor Film di Indonesia yang ditulis oleh M Sudama Dipawikarta. (Istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Barangkali, sebagian masyarakat kurang mengetahui tugas Lembaga Sensor Film (LSF). Kebanyakan orang mungkin beranggapan lembaga tersebut sekadar “tukang potong” adegan pada film, menghilangkan bagian-bagian yang tak elok jika ditonton oleh khalayak.

Dari sisi kewenangan pun pandangan masyarakat sering tertukar antara ranah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan LSF. Di era digital, pekerjaan penyensoran film semakin kompleks.

Hasil penyensoran LSF pun kadang-kadang menimbulkan penafsiran berbeda. Beberapa pemilik film berharap agar LSF tidak terlalu ketat dalam menyensor film, tetapi sebagian masyarakat meminta LSF menyensor seketat-ketatnya, bahkan tidak perlu meloloskan film yang dalam pandangan mereka tidak bermutu.

AYO BACA : 4 Film tentang Kerajaan Inggris

Di sisi lain, peranti digital yang semakin melimpah dapat memudahkan masyarakat menonton apapun tanpa melalui LSF. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi semua pihak agar dapat memilih dan menghadirkan tontonan yang baik.

Selain menjaga masyarakat dari pengaruh negatif film, LSF harus menjadi lembaga yang mendukung kemajuan perfilman. Artinya, LSF menjadi sahabat sineas sekaligus sahabat masyarakat penonton.

Prinsip penyensoran sekarang adalah mengedepankan dialog yang elegan, didasarkan pada kesamaan visi yang peduli terhadap perkembangan perfilman Indonesia yang tidak hanya untuk menghibur masyarakat, tetapi dapat menginspirasi, mendidik, memperkaya, dan memperkuat kepribadian penonton sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa Indonesia.

AYO BACA : 3 Film Horor yang Bisa Jadi Obat Pikun

Permasalahan di atas merupakan bagian pokok dalam diskusi tentang sensor film yang akan diselenggarakan oleh penerbit Dunia Pustaka Jaya. Acara ini sekaligus peluncuran dan bedah buku Sensor Kontemporer: Pandangan pada Perkembangan Sensor Film di Indonesia yang ditulis oleh M Sudama Dipawikarta.

Buku ini mengupas bagian-bagian penting dari perkembangan sensor film. Penulis buku ini memiliki banyak pengalaman dalam urusan sensor film, karena sejak tahun 2015 dia menjadi anggota Lembaga Sensor Film Republik Indonesia.

Diskusi dan bedah buku Sensor Kontemporer menghadirkan tiga narasumber. Pertama, Asep Salahudin Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat dan Wakil Rektor IAILM Suryalaya, Tasikmalaya. Kedua, Hawe Setiawan, pemerhati budaya dan dosen pascasarjana Universitas Pasundan. Ketiga, Ni Luh Putu Elly P Erawati, anggota LSF sejak 2015.

Acara ini akan diselenggarakan pada Sabtu (8/2/2020) pukul 14.00 WIB, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No 2 Kota Bandung. Acara ini terbuka dan gratis.

AYO BACA : Begini Reaksi Tubuh Saat Nonton Film Horor

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar