Yamaha

Babak Baru (Penghitungan) Inflasi

  Rabu, 05 Februari 2020   Netizen Yana Hendriana
Ilustrasi inflasi.(Pixabay)

AYOBANDUNG.COM – Memasuki tahun 2020, berbagai kalangan memperkirakan tekanan inflasi di tahun ini akan meningkat. Kebijakan pemerintah menaikkan cukai rokok, iuran BPJS kesehatan dan tarif tol menjadi diantara faktor penyebab tingginya tekanan inflasi tersebut.

Kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen akan berdampak pada kenaikan harga eceran rokok di pasaran. Konsumsi rokok yang cukup tinggi menambah beban terhadap biaya hidup di masyarakat.

Senin (3/2) lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan rilis inflasi Januari 2020. Secara nasional, inflasi bulanan mencapai 0,39 persen. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan capaian inflasi di bulan yang sama tahun lalu yaitu sebesar 0,32 persen.

Namun demikian, angka ini juga masih di bawah perkiraan capaian inflasi oleh berbagai kalangan. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia sebelumnya memperkirakan capaian inflasi sebesar 0,46 persen (cnbcindonesia.com, 3 Februari 2020).

Inflasi Januari 2020 lebih banyak disumbang oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau. Komoditas penyumbang inflasi tertinggi diantaranya cabai merah, cabai rawit, ikan segar dan rokok.

Rokok yang terdiri dari komoditas rokok putih, rokok kretek dan rokok kretek filter secara total memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen. Inflasi rokok yang diakibatkan oleh kenaikan cukai masih belum dirasakan secara penuh di Januari ini. Kenaikan harga rokok itu sendiri berlaku untuk produksi rokok tahun 2020 yang telah menggunakan pita cukai terbaru.

Tekanan inflasi akibat kenaikan harga komoditas juga diimbangi oleh adanya penurunan komoditas-komoditas lainnya. Komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi khususnya terjadi pada kelompok transportasi dan beberapa komoditas makanan seperti daging ayam ras dan telur ayam ras.    

Diagram Timbang Baru

Dalam rilisnya, BPS mengumumkan penggunaan tahun dasar baru dalam penghitungan inflasi. Mulai Januari 2020, digunakan tahun dasar 2018 menggantikan tahun dasar 2012 yang digunakan dalam penghitungan inflasi sebelumnya. Perubahan tahun dasar ini sekaligus sebagai upaya pemutakhiran paket komoditas dan diagram timbang. Pemutakhiran tersebut didasarkan pada hasil Survei Biaya Hidup (SBH) yang telah dilaksanakan selama tahun 2018.

Dari hasil pemutakhiran, komoditas-komoditas yang dipantau dalam penghitungan inflasi mengalami perubahan. Perubahan komoditas pantauan ini merupakan cerminan pola konsumsi yang terjadi di masyarakat saat ini, sebagai dampak dari perkembangan ekonomi dan kemajuan teknologi. Beberapa komoditas lama dikeluarkan dari paket komoditas, karena sudah tidak dominan lagi dikonsumsi, seperti kalkulator, biaya puskesmas, Compact Disc (CD) dan lain-lain. Terdapat juga komoditas baru yang ditambahkan ke dalam paket komoditas seperti tarif ojek online, acessoris HP dan lain-lain.

Bobot konsumsi dari masing-masing komoditas terhadap nilai konsumsi secara total atau disebut diagram timbang, juga mengalami perubahan. Diagram timbang tersebut didasarkan pada seberapa besar rata-rata konsumsi di masyarakat untuk masing-masing komoditas.

Komoditas dengan nilai konsumsi yang tinggi akan memiliki pengaruh yang tinggi pula terhadap inflasi yang terjadi ketika komoditas tersebut mengalami kenaikan harga.  

Proses pemutakhiran diagram timbang ini erat kaitannya dengan metode yang digunakan dalam penghitungan inflasi. BPS menggunakan formula Laspeyres yang dimodifikasi untuk menghitung nilai Indeks Harga Konsumen atau inflasi.

Formula tersebut menggunakan bobot atau penimbang berdasarkan tahun dasarnya. Penggunaan tahun dasar yang sama dalam jangka waktu yang terlalu lama akan berdampak pada akurasi nilai inflasi itu sendiri. Seperti halnya komoditas rokok yang lagi hangat diperbincangkan, bobot konsumsi rokok terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga tahun 2018 akan mengalami pergeseran dibandingkan tahun 2012 yang lalu.

Data inflasi merupakan indiktor penting dan ditunggu oleh banyak pihak dalam setiap rilisnya. Asumsi dalam APBN, penentuan tingkat suku bunga Bank Indonesia, dan penyesuaian Upah Minimum Regional (UMR) menggunakan capaian inflasi sebagai salahsatu variabelnya. Tidak hanya oleh pemerintah, kalangan dunia usaha juga menggunakan angka inflasi sebagai dasar dalam menentukan kebijakan di perusahaannya.

Pemutakhiran paket komoditas dan diagram timbang merupakan upaya BPS untuk terus melakukan penyempurnaan data inflasi. Penggunaan tahun dasar baru yaitu 2018, sebagai babak baru dalam penghitungan inflasi akan diberlakukan untuk sekitar lima tahun ke depan. Diharapkan dengan adanya pemutakhiran ini dapat lebih menyajikan informasi khususnya data inflasi yang lebih akurat sesuai dengan kondisi ekonomi di masyarakat saat ini.   

* Yana Hendriana

 Statistisi Ahli Muda pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Barat

Netizen : Yana Hendriana
Statistisi Ahli Muda pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Barat

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar