Yamaha

[Lipkhas] Pakar: Kemunculan Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagat Bentuk Manipulasi Sejarah

  Selasa, 04 Februari 2020   Faqih Rohman Syafei
Pemimpin Keraton Agung Sejagat. (Facebook)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG. COM--Beberapa waktu belakangan, publik Indonesia digegerkan dengan munculnya kerajaan-kerajaan baru. Mulai dari Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire, hingga King of the King.

Beberapa diantaranya mengklaim mempunyai dana dengan jumlah yang fantastis di Bank Swiss. Bahkan, klaim Sunda Empire mengaku dapat mengendalikan nuklir hingga mampu mengumpulkan istri petinggi seluruh negara di Bali. 

Klaim-klaim sepihak itu menjadi daya tarik, dan membuat sebagian kecil masyarakat Indonesia mau bergabung dengan kelompok ini. Namun dalam kacamata sejarawan gerakan munculnya kerajaan atau kesultanan, bukan hal yang aneh bahkan sudah ada sejak sebelum kemerdekaan. 

Sejarawan Unpad, Prof Reiza D. Dienaputra mengatakan fenomena ini bukan hal baru dalam perjalanan sejarah Indonesia, bahkan menurutnya menjadi bagian dari identitas Indonesia. Artinya, sejak dahulu kala kerajaan atau kesultanan sudah ada sebelum negara ini terbentuk. 

"Kerajaan atau kesultanan sudah ada lama di Nusantara. Sudah ada sebelum kemerdekaan, karena NKRI ini dibangun dari berbagai kerajaan dari zaman kerajaan Hindu-Budha hingga kerajaan Islam," ujarnya saat dihubungi ayobandung.com belum lama ini. 

Namun demikian, saat ini fungsi kerajaan sudah bergeser yang dahulu sebagai pusat kekuasaan atau pemerintahan. Kini, kata dia kerajaan berperan sebagai penjaga identitas budaya dan pusat pengembangan seni dan kebudayaan suatu daerah. 

"Masa kemerdekaan, masih ada kerajaan kelanjutan dari sebelum kemerdekaan. Hanya bedanya setelah kemerdekaan yang lebih menekankan upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan, bergeser dari politik ke kebudayaan," katanya.

Menurutnya, kerajaan-kerajaan yang saat ini muncul tidak bertujuan untuk menjadi pusat budaya tetapi terkesan upaya memanipulasi sejarah dengan mengambil keuntungan tertentu. Misalnya, kasus Sunda Empire berdasarkan catatan sejarah yang ada saat ini, tidak pernah ada dan tercatat.

AYO BACA : Pakar dari UGM Ungkap Alasan Seseorang Jadi Pengikut Kerajaan Fiktif

"Mereka organisasi yang kemudian keluar dari pakem-pakem kerajaan sebagai pusat budaya yang muncul setelah kemerdekaan. Mereka memanipulasi sejarah," ungkap Reiza. 

Reiza menilai Sunda Empire ini dibangun berdasarkan rekonstruksi sejarah yang tidak berbasis data dan sumber sejarah yang jelas. Namun lebih pada imajinasi dan dongeng, bahkan mereka pun terlihat kacau ketika menjelaskan tentang kelompoknya sendiri. 

Ditambahkannya, sejarah berbeda dengan folklore, mitos ataupun dongeng. Sejarah adalah peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lalu dan menempatkan manusia sebagai aktor utamanya. Selain itu, ditandai dengan adanya tinggalan berupa sumber tertulis, lisan, benda dan visual. 

"Dalam sejarah harus ada sumber sejarah karena menurut pakar No Document, No History. Sejarah tidak boleh berbicara alkisah, konon katanya," tuturnya. 

Reiza menjelaskan fenomena serupa pernah muncul pada masa kolonial, ketika Indonesia masih bernama Hindia-Belanda. Ketika itu, fenomena ini disebut sebagai gerakan mileniarisme yang berlandaskan ideologi tentang keyakinan akan terjadi transformasi besar pada sistem kekuasaan pada masa itu. 

"Dulu, gerakan ini sebagai bentuk protes terhadap kekuasaan dan rezim yang berkuasa. Masyarakat masa itu tidak puas dengan sistem kolonial, dan mereka mengidentifikasikan bahwa hanya bisa berubah melalui transformasi kekuasaan," ucapnya. 

"Yang sekarang saya belum melihat apakah itu menjadi dasar, dari munculnya Sunda Empire, Agung Sejagat. Apakah faktornya ada atau tidak saya belum bisa berikan komentar," tambahnya.

Dia mendorong kerajaan atau kesultanan yang tergabung dalam Forum Keraton Nusantara untuk mulai mengidentifikasi. Hal tersebut, demi mencegah munculnya kerajaan "bodong" yang membuat masyarakat terkecoh dengan untaian kisah sejarah yang tidak benar. 

"Mendorong kerajaan yang ada terdata di forum kerajaan dan kesultanan Nusantara untuk mengidentifikasi dirinya dengan benar jadikan sejarah sebagai basis indentitas dirinya. Jangan sampai mengidentifikasi diri seakan-akan sejarah, tapi bukan sejarah, ini yang bahaya disini," katanya.

AYO BACA : Guru Besar UGM Tentang Kerajaan Fiktif: Mereka Bukan Orang Bodoh

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar