Yamaha

Siapa Mau Puasa Gawai?

  Selasa, 04 Februari 2020   Netizen Feri Anugrah
[Ilustrasi] Anak bermain gawai. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.COM -- Ketika anak saya berusia dua tahun, dia sering menonton kartun kesukaannya di gawai ibunya. Awalnya, biasa saja dan berjalan normal. Namun, lama-kelamaan, ternyata efeknya kurang baik. Anak saya mulai marah-marah kalau gawainya diambil ketika dia sedang asyik nonton kartun karena waktunya tidur sudah tiba. Bahkan, sampai mukul-mukul ibunya.

Akhirnya, dengan tegas gawai itu saya simpan. Jika sesekali saya dan istri main gawai di rumah, itu pun dilakukan sambil susumlumputan agar tidak ketauan anak. Kalau anak saya memegang gawai, itu pun lebih sering hanya untuk video call dengan kakek atau neneknya atau sekadar menonton kartun favoritnya. Tidak lebih dari itu.

Sehari saja tidak memegang gawai, terasa ada yang kurang. Bahkan, lebih baik ketinggalan dompet daripada harus ketinggalan gawai. Dapat dibayangkan ketika berangkat kerja atau liburan ke rumah saudara, sedangkan gawai ketinggalan, kita merasa kurang percaya diri. Seolah-olah kita terasing dari dunia. Padahal, kita tujuannya liburan, untuk senang-senang.

Hal tersebut memang sangat logis untuk saat ini. Di tempat kerja, main gawai; di pengajian, main gawai; sedang kuliah, main gawai; di toilet main gawai, mengobrol dengan teman, sambil main gawai, bahkan banyak kecelakaan motor atau mobil terjadi akibat pengendaranya asyik main gawai. Mengerikan, bukan?

Kembali pada anak saya. Dia sekarang sudah stabil lagi. Tidak marah-marah atau memukul ibunya kalau gawainya diambil ketika menonton kartun kesukaannya. Main gawainya hanya sepuluh menitan setiap hari. Bahkan, sekarang lebih banyak main di luar dengan teman sebanyanya dibandingkan dengan bermain gawai di rumah.

AYO BACA : 5 Alasan Main Gadget Sebelum Tidur Bisa Merusak Kesehatan

Dahulu, ketika anak nangis karena meminta sesuatu, jurus yang paling ampuh untuk meredakannya adalah dengan memberi dia gawai. Buka YouTube, cari kartun kesukaannya, masalah selesai, dan kita bisa bebas melakukan apa pun karena anak sudah asyik sendiri.

Ternyata, hal tersebut sangat buruk akibatnya. Saya hampir saja keterusan menenangkan anak ketika menangis dengan memberinya gawai.

Saya dan istri memberikan penjelasan pada anak sebisa mungkin bahwa boleh bermain gawai, tetapi jangan lama-lama. Saya juga mengarahkan agar anak bisa lebih sering main di luar dengan teman sebayanya. Kasarnya, saya setuju anak kokotoran bermain air comberan daripada anak berjam-jam duduk di rumah sambil bermain gawai.

Untung saja anak saya dapat diatasi sehingga tidak kecanduan gawai. Kalau sampai kecanduan, saya tidak tahu lagi harus bagaimana menghentikannya. Apalagi setelah saya membaca berita bahwa di Jawa Barat ada beberapa anak yang depresi bahkan mendekati stres karena kecanduan gawai. Amit-amit.

Alhamdulillah anak saya sekarang rajin salat di masjid dengan teman-temannya. Meskipun hanya salat sambil main-main, tetapi itu bagus untuk dia daripada main gawai terus-menerus. Bahkan, sekali waktu dia main becek-becekan di depan rumah tidak saya larang. Silakan bebas.

AYO BACA : Segera Hapus! 17 Aplikasi Ini Bikin Baterai Ponsel Boros

Orang tua saya zaman dahulu ketika sore menjelang magrib sering mencari-cari saya karena belum pulang ke rumah. Saya biasa main bola jeruk bali di sawah kering sampai lupa waktu. Sekarang saya malah khawatir kalau anak saya tidak kunjung keluar rumah gara-gara sering main gawai yang membuatnya malas bergerak.

Menjadi orang tua di zaman sekarang tidak mudah. Banyak hal yang perlu dipelajari dalam hal mendidik anak karena arus informasi sangat cepat menghampiri. Salah-salah dalam menerapkan pola pendidikan, anak bisa jadi ”budak” gawai karena dibiarkan tanpa batas waktu oleh orang tuanya. Akhirnya, anak kecanduan yang sulit diobati.

Saya juga terkadang memberikan gawai pada anak untuk sekadar hiburan menonton kartun atau hafalan huruf hijaiah. Namun, hanya beberapa menit, itu pun dalam satu minggu tidak setiap hari. Sebabnya saya takut anak kecanduan gawai sehingga memengaruhi perkembangannya psikis dan motoriksnya.

Bahkan, sudah beberapa bulan anak saya lebih sering main di rumah tetangga. Kalau tidak di rumah tetangga, temannya yang main di rumah saya. Biarpun konsekuensinya rumah jadi berantakan bak kapal pecah setiap hari sehingga membuat ibunya pusing tidak karuan, tetapi itu masih lebih baik daripada anak diam di rumah dengan gawai.

Bagi kita sebagai orang tua, tidak lucu kelihatannya kalau di rumah—terutama selepas bekerja di luaran—masih tetap asyik dengan gawai hanya untuk membalas pesan whatsapp. Lebih asyik main dengan keluarga menjelas tidur untuk menjaga keharmonisan hubungan suami dengan istri atau sebaliknya dan juga dengan anak. Wallahu a’lam—Allahlah pemegang kebenaran sejati.

fer

*Feri Anugrah, Anggota MPI PW Muhammadiyah Jawa Barat dan bekerja di ITB Press

AYO BACA : Pria Lebih Sering Cek Ponsel Pasangan, Tanda Cemburuan?

Netizen : Feri Anugrah
Feri Anugrah

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar