Yamaha

Ini Bedanya Politikus dan Negarawan

  Selasa, 04 Februari 2020   Netizen Djoko Subinarto
[Ilustrasi] Politik. (Pixabay)

AYOBANDUNG.COM -- Politikus dan negarawan sama-sama kita butuhkan. Kendati demikian, ada yang berpendapat kita sesungguhnya butuh jauh lebih banyak negarawan ketimbang politikus. Partai-partai politik kita diharapkan mampu menjadi rahim bagi lahirnya lebih banyak negarawan daripada para politikus.

Seperti sama-sama kita tahu, keberadaan partai politik dalam sebuah negara demokrasi tentu adalah sebuah keniscayaan. Partai politik merupakan salah satu elemen penting dari sebuah mesin demokrasi.

Secara teoritis, salah satu fungsi utama partai politik adalah untuk menyeleksi para kandidat yang bakal diikutsertakan dalam ajang pemilihan umum, baik itu untuk kepentingan pemilihan legislatif maupun pemilihan eksekutif, untuk level lokal maupun nasional.

Para kandidat yang telah terseleksi kemudian ditawarkan kepada publik calon pemilih dengan harapan publik menjatuhkan pilihan kepada mereka di saat pemungutan suara dilangsungkan.

Mereka yang akhirnya terpilih itu harus memikul tanggungjawab untuk selalu menyuarakan dan mendahulukan kepentingan publik yang telah memilih mereka.

Tapi, dalam praktik demokrasi kita selama ini, mereka yang telah terpilih, tidak jarang melupakan tanggung jawab tersebut. Alih-alih menyuarakan dan mendahulukan kepentingan rakyat banyak, yang disuarakan dan didahulukan malah kepentingan pribadi dan kelompok.

Dengan kecenderungan seperti ini, yang lahir kemudian adalah sebuah jagat demokrasi yang berkualitas rendah. Akibatnya, kepercayaan publik kepada orang-orang terpilih itu cenderung berada pada titik yang rendah pula.

Demokrasi yang berkualitas rendah menjadikan kegiatan politik yang mestinya berbuah pada terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran bagi segenap rakyat, akhirnya hanya menelurkan kesejahteraan dan kemakmuran pada segelintir kelompok masyarakat (elite).

Politik pada akhirnya menjadi soal mata pencaharian dan bukan soal pengabdian. Fulusiologi (uang) dan kursiologi (kekuasaan) menjadi jauh lebih menonjol dalam melatarbelakangi seseorang untuk berkiprah di jagat politik ketimbang idealisme dan pengabdian.

Menurut Lawrence W Reed, Presiden The Makinac Center For Public Policy, Michigan, Amerika Serikat, kita sesungguhnya memerlukan jauh lebih sedikit politikus dan memerlukan jauh lebih banyak negarawan. Kenapa? Ini beberapa alasannya.

Pertama, politikus umumnya mencari jabatan dan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan pribadi, sedangkan negarawan tidak pernah mencari jabatan dan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan pribadi melainkan semata-mata untuk melayani khalayak.

Kedua, ketika telah terpilih dalam pemilu, negarawan tidak akan pernah melupakan dan meninggalkan rakyat. Mereka benar-benar menjadi corong rakyat dan memperjuangkan kepentingan-kepentingan rakyat, sedangkan politikus begitu mereka telah terpilih dalam pemilu kecenderungannya adalah segera melupakan dan meninggalkan rakyat sekaligus menjadi corong partai dan akan sekuat tenaga memperjuangkan kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Ketiga, negarawan akan jauh lebih besar kemungkinannya mengedepankan apa-apa yang benar dan menjadi hak-hak rakyat. Mereka tidak akan mengobral janji-janji yang tidak bisa ditepati atau janji-janji yang nantinya justru akan mereka langgar, sedangkan politikus lebih senang mengumbar janji-janji manis dan muluk yang kemungkinan besar justru tidak pernah bisa mereka penuhi atau mengapungkan janji-janji yang justru kelak malah mereka langgar sendiri.

Keempat, tatkala harus menggunakan anggaran publik, negarawan akan menggunakannya seminim dan seefisien mungkin, sedangkan politikus justru akan cenderung menghambur-hamburkan anggaran publik itu.

Kelima, negarawan adalah orang-orang yang konsisten, jujur dan amanah, sedangkan politikus cenderung plin-plan, tidak jujur dan tidak amanah. Dari negarawan kita akan banyak mendapatkan pelajaran tetang berbagai kebaikan, sedangkan dari politikus kita akan lebih sering mendapat janji-janji kosong. Tatkala politikus meninggalkan jabatannya, kita akan mudah melupakannya, namun tatkala negarawan meninggalkan jabatannya kita akan sangat kehilangan dan merindukan kehadirannya.

Kita tentu sangat berharap semoga negeri ini tak akan pernah mengalami defisit negarawan. Di sisi lain, partai-partai politik kita selalu menjadi rahim lahirnya negarawan-negarawan sejati, yang siang-malam cuma memikirkan bagaimana membawa kehidupan berbangsa dan bernegara kita ke taraf yang jauh lebih baik serta lebih membahagiakan, lahir maupun batin.

Djoko Subinarto

Netizen : Djoko Subinarto
Djoko Subinarto

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar