Yamaha

Pasang Surut Air di Kabupaten Bandung

  Selasa, 04 Februari 2020   Netizen Ari Muhammad Syafari
[Ilustrasi] Sejumlah warga membantu pengendara sepeda motor yang mogok akibat menerobos banjir di Jalan Raya Kopo, Kota Bandung, Senin (27/1/2020). Banjir cileuncang yang sering terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut dikeluhkan warga dan pengendara karena mengganggu aktifitas serta mengganggu arus lalu lintas. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.COM -- Gunung teu menang dilebur, sagara teu menang diruksak, buyut teu meunang di rempak. Itulah pepatah sunda yang familiar pada zaman dahulu. Arti dari kalimat itu ialah “Tidak boleh meruksak alam dan tidak boleh melupakan nenek moyang”. Dalam peribahasa lain menyebutkan “kacang lupa kulitnya”. Itulah narasi yang tersirat dari alam untuk manusia yang sekarang sudah memiliki wisata baru (banjir) di Kabupaten Bandung.

Belakangan ini, fenomena banjir kembali terjadi di daerah Kabupaten Bandung. Air kembali naik pada daratan untuk menemui manusia di permukiman maupun pada jalanan. Selasa (28/1/2020) yang lalu, sebanyak enam kecamatan masih terendam banjir. Enam kecamatan tersebut yakni Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Rancaekek, Majalaya, dan Ciparay.

Banjir terjadi disebabkan oleh hutan gundul, jalan yang tidak memiliki drainase, wilayah resapan air sudah digantikan dengan perumahan-perumahan, sampah menumpuk, penyempitan luas sungai, dangkalnya kedalaman sungai, dan adanya pabrik-pabrik yang membuang limbah di sungai.  

Seperti sudah menjadi langganan tiap tahun atau bahkan ketika hujan melanda ada pada daerah Bandung Selatan. Banjir selalu hadir pada daerah tersebut. Lantas apa yang menjadi keresahan penulis pada sebuah fenomena banjir yang terjadi pada daerah Kabupaten Bandung?

Peribahasa Sunda di atas, kita sudah diingatkan bahwasanya kita harus bisa bersinergis dengan alam. Karena seyogyanya alam diciptakan untuk memenuhi kebutuhan serta fasilitas manusia saat hidup, yang tentunya harus ada etika terhadap lingkungan (alam) ini.

Lunturnya budaya!

Warisan nenek moyang kita barangkali sudah luntur. Zaman dahulu nenek moyang kita senantiasa tidak membuang sampah sembarangan, bercocok tanam, menjaga alur air (sungai), dan menghijaukan permukiman-permukiman rumahnya.

Realitanya, budaya atau tradisi tersebut sudah mulai tidak ada lagi. Hal ini mungkin menjadi cambukan kepada manusia yang hidup pada hari ini, ketika tidak ada lagi budaya menghijaukan permukiman sekitar rumah. Jangankan menghijaukan (reboisasi) permukiman, buang sampah saja masih sembarangan.

Di sini penulis bukan berarti akan saling menyalahkan satu sama lain. Penulis mengajak semua kalangan merefleksikan fenomena bencana banjir yang akhir-akhir ini terjadi.

Tentunya sebagai makhluk yang berakal, manusia ketika sudah diingatkan melalui teguran dari alam harus segera sadar serta mampu untuk berkomitmen menjaga bersama-sama alam ini yang secara tidak langsung sudah mulai ruksak.

Di samping itu, dalam budaya Sunda disebutkan “Hirup teh kudu ditungtun ku santun”. Kita bersama-sama harus bermunasabah dalam segala aktivitas terhadap alam. Ketika ditelisik lagi ternyata ada etika pada alam yang harus dijaga. 

Komitmen dalam menjaga alam pun yang harus digandrungkan baik oleh masyarakat sekitar, legislator, maupun bupati yang memiliki power lebih untuk mengatasi permasalahan setiap tahun ini. Asal semua kalangan diatas bisa tersentuh hati nuraninya untuk bersama-sama menjaga alam.

Kacai jadi saleuwi, kadarat jadi salogak

Tentunya peribahasa ini bukan sekadar buaian kata-kata belaka, tetapi memiliki spirit yang akan melembaga pada manusia. “Harus ada kekompakan dan visi yang sama dalam bekerja sama,” itu yang bisa menggambarkan peribahasa itu.

Permasalahan pada banjir ini akan bisa terselesaikan ketika adanya kerja kolektif. Andil besar dari berbagai kalangan tentunya menjadi solusi yang realistis. Bukan hanya sekadar mengandalkan program “Citarum Harum” saja.

Kerja sama dan sama kerja, sebuah acuan untuk kita dalam mengembalikan alam yang ruksak ini menjadi nyaman untuk kehidupan kita. Kerja nyata dan bukan kerja kata-kata yang harus kembali digalakan pada hari ini. Tanggung jawab bersama, menjadi tolok ukur dalam menyelesaikan permasalahan banjir ini.

*Ari Muhammad Syafari, Pengurus HMI Cabang Kabupaten Bandung.

Netizen : Ari Muhammad Syafari
Ari Muhammad Syafari

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar