Yamaha

Guru Besar UGM Tentang Kerajaan Fiktif: Mereka Bukan Orang Bodoh

  Senin, 03 Februari 2020   Nur Khansa Ranawati
Kelompok Sunda Empire. (istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Fenomena kemunculan kerajaan-kerajaan fiktif seperti Keraton Sejagat, Sunda Empire hingga Indonesia Mercusuar Dunia banyak mengundang tanda tanya di kalangan masyarakat. Mulai dari motif yang melatarbelakangi terbentuknya kelompok tersebut, hingga mengapa banyak orang berbondong-bondong menjadi pengikut kelompok-kelompok yang nampak delusional itu.

Menyoal hal ini, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman angkat bicara. Dia menilai sosok di balik kemunculan kerajaan-kerajaan fiktif tersebut bukanlah orang-orang "bodoh"  sebagaimana yang kerap diasumsikan.

AYO BACA : Petinggi Sunda Empire: Yang Tidak Setuju Silakan Mati

"Tingkat pendidikan formal yang menyebut dirinya raja dan ratu tersebut tidak rendah. Pengetahuan mereka lumayan, saya yakin mereka pernah belajar sejarah. Oleh karena itu mereka juga bisa menggunakan simbol-simbol kebesaran dan pesan moral yang terdapat dalam kerajaan," ujarnya ketika dihubungi Ayobandung.com, Senin (3/2/2020).

Dia menduga motif utama yang melatarbelakangi munculnya "kerajaan" tersebut adalah faktor ekonomi. Para petingginya ingin melakukan penipuan melalui manipulasi sejarah dan warisan kejayaan tradisi lokal yang masih kental hidup di masyarakat.

AYO BACA : Romo Benny: Kemunculan Kerajaan Utopis Dipicu Kesulitan Ekonomi

"Dugaan saya mereka sedang melakukan penipuan dengan cerdas, memanipulasi sumber sejarah dan memanfaatkan legacy adat atau tradisi lokal," paparnya.

Dia mengatakan, motif penipuan tersebut dapat dilihat dari narasi-narasi kejayaan ekonomi yang kerap didengungkan para petinggi kelompok serupa. Para pengikut tak jarang diminta menyetor uang untuk kemudian dibalas dengan kekayaan berlimpah.

"Mereka diminta setor uang dengan janji kelak bakal jadi berlipat ganda, misalnya ada iming-iming uang dollar, simpanan uang Soekarno di Swiss, dan lain-lain. Semuanya hanya penipuan," katanya.

Dia juga mengungkapkan pola penipuan serupa kerap terjadi di Indonesia. Konsep adat istiadat, keyakinan dan doktrin agama kerap dipakai karena hal tersebut dinilai mampu memancing ikatan emosional yang kuat di kalangan masyarakat.

"Orang jadi mudah percaya, hal itu bisa membangkitkan emosi untuk bergabung sebagai pengikut dan melupakan nalar sehat. Para raja dan ratu itu memposisikan diri seolah bisa memberi perlindungan ekonomi bagi para pengikutnya," jelasnya.

AYO BACA : Lebih Parah dari Sunda Empire, Negara Rakyat Nusantara Ingin Bubarkan NKRI

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar