Yamaha

Industri Pers, Bertahan atau Terkubur Roda Zaman

  Senin, 03 Februari 2020   Netizen Djoko Subinarto
Ilustrasi yang menandakan berita.(Pixabay)

AYOBANDUNG.COM --  Peran dan fungsi surat kabar sebagai alat kontrol sosial dan agen perubahan di negeri ini tidak perlu kita sangsikan. Perjalanan sejarah yang panjang telah membuktikan hal itu -- mulai dari pers era kolonial hingga pers era paskareformasi.

Pertanyaannya adalah: bagaimana nasib surat kabar itu sendiri? Akankah ia tetap menjadi media yang bisa bertahan di masa depan sehingga tetap mampu menjalankan peran dan fungsinya secara maksimal atau justru terkubur roda zaman?

Ancaman utama surat kabar dewasa ini bukan lagi instruksi pemberangusan atau breidel dari penguasa seperti di zaman Orde Lama (Orla) atau Orde Baru (Orba), namun justru dari melorotnya tiras yang kemudian dilanjutkan dengan penurunan raihan kue iklan. Lantas, bagaimana para praktisi surat kabar harus menyikapi persoalan ini?

Pembaca adalah bagian mahapenting dari industri persuratkabaran. Jika pembaca meningkat, maka itu bermakna tiras ikut meningkat yang imbasnya pada peningkatan pemasang iklan. Hilangnya pembaca akan berpengaruh pada menurunnya pemasang iklan. Inilah ancaman utama sesungguhnya bagi kelangsungan hidup sebuah surat kabar.

Keberadaan internet telah membuat orang dengan mudah dan cepat memperoleh beragam informasi termutakhir. Internet telah menyurutkan minat orang untuk membaca surat kabar. Orang-orang, terutama generasi yang lebih muda, yang dari usia dini sudah melek dunia digital, sekarang ini lebih suka mencari informasi lewat internet. "Buat apa berlangganan surat kabar, toh semuanya telah tersedia lewat internet," demikian paling tidak yang ada dalam pikiran mereka.

Pengguna internet di Indonesia sendiri, termasuk yang memanfaatkannya untuk membaca berita, ditaksir mencapai 171,2 juta orang (mayoritas berusia 18-25 tahun, yang notabene merupakan generasi digital natives yang lahir di tahun 1980-an). Sementara itu, peningkatan tiras media cetak secara nasional tidak sampai 0,5 persen. Sudah barang tentu perubahan itu harus dapat dibaca dengan jeli dan disiati dengan tepat oleh para pengelola surat kabar jika tidak ingin lebih cepat menutup bisnis mereka.

Dalam karyanya bertajuk Strategic Newspaper Management, Conrad C Fink menyebutkan ada tiga fondasi yang mesti dibangun oleh pengelola penerbitan surat kabar jika ingin maju dan berkembang dengan sehat dewasa ini. Ketiga fondasi itu adalah memahami industri bersangkutan, memahami pasar dan memahami pesaing.

Pada tataran yang lebih praktis, Conrad C Fink menyebutkan sejumlah elemen penting yang perlu dikuasai oleh para pengelola bisnis penerbitan koran agar bisnisnya maju dan berkembang dengan baik. Sejumlah elemen itu adalah sumber daya manusia, sirkulasi, periklanan, citra dan promosi serta produksi dan teknologi baru.

Tiga fondasi dan sejumlah elemen penting itu pada akhirnya harus diarahkan untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan khalayak pembaca, pengiklan dan awak dari penerbitan koran itu sendiri. 

Tak bisa dimungkiri, gelombang perubahan saat ini bergerak begitu cepat. Ini sama sekali tidak bisa kita bendung. Industri pers mesti selalu siap dengan pelbagai kemungkinan perubahan yang demikian cepat itu. Tantangan ke depan boleh jadi bakal semakin berat bagi sektor industri media cetak. Akan tetapi, di balik tantangan, tidak menutup kemungkinan tersimpan sejumlah peluang menjanjikan.

Para pengelola media cetak perlu berupaya terus menggali pelbagai kemungkinan peluang bagi kesinambungan bisnis media cetak di masa depan dan juga tetap menjaga kemandiriannya. Dengan demikian, keberadaan pilar keempat demokrasi ini dapat terus dipertahankan dan tidak tergerus serta terkubur roda zaman.

*Djoko Subinarto

Alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya.

Netizen : Djoko Subinarto
Alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar