Yamaha

Indonesia Akan Punya Ibukota yang Sunyi?

  Sabtu, 01 Februari 2020   Netizen Sjarifuddin
Foto aerial kawasan Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu (28/8). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Rencana pemerintah membangun ibukota baru di wilayah administratif Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur mengingatkan saya pada kunjungan ke Canberra, ibukota Australia. Lawatan atas undangan Kedubes Australia itu berlangsung sampai tujuh kali.

Cerita dibawah ini adalah muhibah yang pertama pada 1990.

Saya tiba dari Sydney dengan menumpang pesawat propeler. Ukurannya lebih kecil dari Fokker 27 atau bahkan ATR. Daya tampungnya 15 penumpang. Mungil tapi efisien. Dalam waktu kurang dari 25 menit sudah terbang lagi.  

Ternyata kondisi Bandara Canberra tak jauh beda dengan di Bandara-Bandara di berbagai provinsi Indonesia saat itu. Kecil dan tua. Konektifitasnya pun untuk kota-kota di Australia saja. Baru belakangan ini ada maskapai yang menghubungkannya dengan Auckland, Singapura dan Dubai. 

Lantaran tiba dengan penerbangan terakhir, suasananya sepi. Cuma ada beberapa petugas yang mengenakan celana pendek. Penumpang WNI hanya saya.

Whats-App-Image-2020-02-01-at-14-08-26

Foto ini diambil di sebuah jalan di kawasan Yarralumla. Sepi dan sunyi. (Sjarifuddin)

Keluar dari gedung suasana lebih sepi bahkan gelap dan dingin. Samar-samar kelihatan pohon eucalyptus dan gum. Penumpang-penumpang sepesawat sudah pergi. Taksi tak ada.

Di tengah kebingungan, seorang wanita memberitahu..taksi harus dihubungi lebih dahulu. Dia menunjuk satu perangkat telepon, seperti intercom, yang nyantol di dinding. 

Ternyata perangkat komunikasi itu disediakan perusahaan taksi. Begitu diangkat, terdengar suara operator menanyakan nama dan tujuan. Lama juga menunggu, rupanya Bandara Canberra agak jauh dari pusat kota.

Sopir taksinya berperawakan agak gemuk dengan logat bahasa Inggris khas Australia. Misalnya, bila bertanya..how do you feel cold? Maka ucapan kata cold terdengar seperti cow yang artinya sapi.

Sepanjang perjalanan, saya lebih banyak diam. Suasana di luar, lagi-lagi gelap dan sepi. Pantas, orang Australia sendiri kurang suka Canberra. Lahan penuh semak-semak, katanya. Mereka lebih memilih Sydney yang kosmopolitan dan dinamis. 

Hotel tempat menginap selama tiga hari berada di kawasan Manuka. Disebut sebagai kawasan bisnis karena ada super market Woolworth dan beberapa restoran. Tata letaknya bagus. 

Dalam kunjungan yang lain, saya bertemu dengan Dubes Sabam Siagian dan istrinya, Stella, di sebuah restoran di sini. Terus terang bilang,..bu saya sudah seminggu tak makan nasi.

Ya. Sudah makan di rumah, katanya. Keesokan hari, saya datang ke kediaman dubes yang rindang. Disuguhi nasi, sayur, kerupuk dan udang goreng. Makan sendirian. Sisa udang dibawa ke hotel.

Burley Griffin   
Canberra dirancang arsitek Amerika Serikat, Walter Burley Griffin dan Marion Mahony Griffin. Mulai dibangun tahun 1913, tetapi selesainya makan waktu bertahun-tahun karena Perang Dunia dan kesulitan ekonomi . 

Federasi Australia membuat ibukota baru, gara-gara Sydney dan Melbourne saling berebut menjadi ibukota. Kebetulan Canberra letaknya diantara kedua  kota itu. Sejauh 280 km dari Sydney dan 680 km dari Melbourne yang dipengaruhi iklim kutub Selatan.

Di paviliun kecil di tepi danau Griffin. Gambar disain Canberra disandingkan dengan disain, Washington DC, Tokyo, Brasilia dan lainnya. Masing-masing disain ditempatkan pada satu ‘jendela’ berlapis  kaca yang bisa digeser-geser. 

Canberra dirancang seperti kota taman dan konservasi alam hingga semua bangunan, termasuk perumahan  pada hakekatnya di dalam lingkungan alam yang menghijau. Ada danau. Kebun bunga. Hutan. Tanaman hias dan pepohonan di sepanjang jalan. Nyaman. 

Inti kota ini adalah dua kawasan yang berhampiran dengan danau. Keduanya dihubungkan jalan raya yang melewati Danau Griffin. Di dua kawasan itu terdapat perkantoran, Australia Memorial War. Universitas, Museum-museum. Komplek kedubes asing di Yarralumla dan masih banyak lagi. 

Kedua kawasan itu dihubungkan dengan bagian-bagian kota lain oleh jaringan jalan yang lumayan rumit. Selain lurus, banyak jalan yang berbentuk bulan sabit atau crescent. Rasanya di Indonesia tak ada yang berbentuk crescent.

Gedung yang paling menonjol adalah Parlemen baru yang berada di ketinggian. Berwarna putih. Bentuknya persegi empat panjang  dan  di atasnya bertengger bendera Australia. Di latar belakang hutan lebat. Kemudian pegunungan. Entah apa namanya.

Konsisten
Kemungkinan rancangan Griffin mendapat tambahan di sana-sini. Tetapi konsistensi sebagai kota taman dan konservasi alam sangat dijaga. Tinggi bangunan dibatasi. 

Hebatnya. Lahan parkir kendaraan tak berada di lingkungan kantor tetapi di lapangan di seberang jalan. Sekurang-kurangnya itu yang saya lihat di kementerian luar negeri dan perdagangan di John McEwen Crescent, kawasan Barton. 

Kantor-kantor pemerintahan dikelompokan pada satu wilayah, di Barton misalnya. Perkantoran swasta, restoran, supermarket toko-toko di Civic Centre.

Saya pernah mengalami kejadian yang menggelikan di Civic Centre. Dua anak kecil mengamen. Yang tertua bermain biola, sedang adiknya menunggui tempat biola yang terbuka. Merasa kasihan, saya taruh sepuluh dolar Australia. 

Dalam sekejap permainan biola berhenti. Keduanya berkemas dan dengan cepat meninggalkan tempat. Saya termangu-mangu. Seorang penjaga toko berkomentar, ...Ini Australia, ujarnya sambil tertawa.

Saya baru sadar keduanya bukan pengamen biasa. Pakaiannya rapi. Bersepatu pula.

Semua Ada
Di Canberra semua ada. Hotel. Apartemen. Permukiman. Universitas. Royal Military College, Duntroon. Royal Australian Mint, pencetakan uang dan surat berharga. Stasiun Obervasi Angkasa Luar. Stasiun kereta api. Lengkap. 

Tak jauh dari gedung parlemen yang lama terdapat kebun mawar. Kalau sedang mekar, mawar warna-warni itu ukurannya sebesar piring makan.   

Beberapa belas meter dari taman, ada sarana olahraga seluas lapangan bulutangkis. Rumputnya hijau dan halus. Di kedua ujung lapangan, masing-masing ada gawang kecil.

Pemain menggunakan alat seperti palu tapi dari kayu. Panjangnya hampir seukuran stick golf. Bola dipukul ke sana- ke mari. Pemainnya kakek-kakek. Lambat banget.  

Jauh ke Depan
Griffin bersaudara berfikir jauh ke depan. Memanfaatkan lahan seluas 814 km dengan maksimal. Gagasannya dijaga secara konsisten. Ketika pemerintah lokal membuat jalur sepeda, tidak perlu mengambil lahan di jalan raya.

Dalam kunjungan yang terakhir, antrean kendaraan di perempatan lampu merah Barton atau di Commonwealth Avenue di depan Hotel Hyatt lebih panjang tapi masih bisa diakomodir. Mode angkutan umum hanya bus dan taksi. Kaki lima tak ada.

Canberra sesungguhnya sangat nyaman dan teratur. Sayang perbandingan antara luas lahan tak sebanding. Penduduk pada 1990 adalah 282.263 orang. Tahun 2019 sekitar 400 ribuan. Luas Canberra 814 km persegi .

Tak banyak denyut nadi kehidupan. Mayoritas penduduk Canberra ASN dan pensiunan yang sudah ingin lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Apalagi saat musim dingin. Pantaslah disebut sleepy capital

Bagaimana dengan Penajam
Luas ibukota baru sekitar 180 ribu hektare atau 1.800 km persegi, lebih luas dari Canberra. Pada tahap pertama yang dimanfaatkan 40 ribu hektar (400 km persegi).

Pembersihan lahan dan pembangunan istana, gedung-gedung eksekutif dan legislatif  diperkirakan rampung dalam dua tahun. Alhasil, ibukota baru akan berfungsi mulai 2024. Jauh lebih cepat dari Canberra.

Menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Tjahjo Kumolo beberapa waktu lalu menyatakan, jumlah Aparatur Negara Sipil (ASN) kemungkinan lebih kecil dari total 118.513 ASN. Yang dipindahkan adalah mereka yang potensial untuk menerapkan smart government.

Bila jumlah ASN digabungkan dengan penduduk lokal dan pendatang, termasuk pekerja bangunan, pedagang eceran, penjual makanan-minuman, taksi motor alias ojek dan lain-lain maka jumlah penduduk ibukota baru itu akan lebih dari 600 ribu orang. Lebih banyak dari penduduk Canberra.  

Memang Penajam lebih luas, tetapi di bagian tertentu lebih ramai. Berserak di sana-sini,  bisa didapati warung makan dan kopi. Bengkel motor. Toko Hp. Musik dangdut dan suara motor yang memekakkan telinga akan terdengar pada siang dan malam. Pendatang terus mengalir.

Penajam akan menjadi noisy capital

 

Netizen : Sjarifuddin
Sjarifuddin

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar