Yamaha

Sunda Empire Runtuh, Kini Muncul King of The King Sanggup Bayar Utang Indonesia

  Rabu, 29 Januari 2020   Nur Khansa Ranawati
King of The King Indonesia Mercusuar Dunia, Dony Pedro. (istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Setelah Keraton Sejagat dan Sunda Empire, saat ini jagat internet kembali diramaikan oleh kemunculan kelompok sejenis. Berawal dari pemberitaan baligo yang ditemukan di Pariaman, Sumatera Barat, kelompok yang bernama "Indonesia Mercusuar Dunia" (IMD) saat ini menjadi sorotan.

Kelompok tersebut mengklaim dirinya sebagai "Lembaga Keuangan Dunia". Berdasarkan keterangan yang dimuat di laman web resmi mereka, IMD memiliki seorang pemimpin yang disebut King of The King.

Raja mereka dikenal dengan sebutan Paduka yang Mulia Dony Pedro. Pria ini juga diklaim memiliki sejumlah jabatan.

"Presiden King of The King, Presiden Bank UBS, Presiden PBB, Romo Agung KH Muhammad Malikul Kusno Paduka yang Mulia Ratu Adil Imam Mahdi," demikian keterangan yang menyebut jabatan Dony Pedro dalam blog tersebut.

Kehadiran IMD, berdasarkan keterangan yang tertera, memiliki sejumlah misi. Salah satunya yang utama adalah "melunasi seluruh utang Indonesia".

Selain itu, mereka juga menyebut akan membeli Satelit Palapa, membeli 3.000 pesawat tempur dan alutsista super canggih dari Rusia dan Eropa, membangun asrama TNI AD, AU, dan AL di seluruh Indonesia hingga memberi dana hibah sebesar Rp3 triliun per orang ke setiap warga Indonesia termasuk petinggi TNI dan Polri.

Dana tersebut, mereka menuliskan, berasal dari "dana hibah Allah SWT" yang diamanahkan kepada Bung Karno. Besarannya tidak disebut dalam satuan rupiah, melainkan "mega lakse" dengan angka yang tertera sebesar 32 dengan nol sebanyak 21 buah.

Besaran dana tersebut tercantum dalam sebuah sertifikat berjudul "Penguasa Alam Jagat Raya" dengan berbagai tempelan gambar mulai dari keris, simbol-simbol, seorang wanita berpakaian oriental dan sebuah materei Rp6 ribu yang ditandatangai Dony Pedro.'

Sementara itu, Kapolres Pariaman AKBP Andry Kurniawan mengatakan, pihaknya menilaiĀ  ada unsur tindak penipuan di dalam organisasi tersebut. Sebagaimana dilansir dari Liputan6.com, modus yang digunakan diklaim mirip dengan yang dilakukan Keraton Sejagat.

"Sistem yang digunakan pada ormas ini hampir sama dengan raja dan ratu sejagat di Jawa Tengah," ungkapnya.

Meski demikian, pihak kepolisian belum memproses secara hukum kelompok tersebut. Pasalnya, belum ada warga yang melapor dan merasa dirugikan.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar