Yamaha

Sebut Harun Masiku Korban Pemerasan, Sekjen PDIP Hasto Dinilai Berlebihan

  Selasa, 28 Januari 2020
Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto. (republika)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Pernyataan Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto terkait posisi Harun Masiku sebagai korban pemerasan oknum Komisi Pemilihan Umum (KPU) dinilai menunjukkan posisi PDIP dalam kasus ini.

Pengamat Hukum Pidana Universitas Trisaksi Abdul Fickar Hajar mengatakan, apa yang dilakukan Hasto menunjukkan ia sangat ngotot membela dan melindungi caleg PDIP pada Pemilu 2019 itu. "Dengan pernyataan itu (Harun/korban), saya kira Hasto sudah menampakkan siapa dirinya, yang secara keras dan berlebihan memperjuangkan HM (Harun Masiku)," ujar Fickar dalam pesan tertulis, Senin (27/1).

Ia menyarankan KPK membongkar asal muasal uang Rp 900 juta yang diberikan Harun kepada oknum KPU, Wahyu Setiawan. Fickar curiga ada keterlibatan Hasto dan menduga uang untuk meloloskan Harun Masiku jumlahnya melebihi Rp 900 juta.

AYO BACA : Sekjen PDIP Hasto Penuhi Panggilan KPK

"Karena itu, harus ada investigasi yang sungguh-sungguh dari mana uang berasal yang diberikan oleh staf kesekjenan PDIP itu kepada Tio dan Wahyu. Adalah kejanggalan besar HM langsung memberikan pada staf sejumlah uang Rp 900 juta," tuturnya.

Karena, menurut Fickar, perjuangan partai untuk meloloskan HM sangatlah panjang. Dari mulai mengajukan gugatan atau judisial review peraturan KPU ke Mahkamah Agung (MA), hingga mengajukan permohonan fatwa MA karena putusan KPU justru memilih Riezky Aprilia sebagai anggota parlemen menggantikan Nazarrudin Kiemas. "Upaya meminta fatwa MA yang dilakukan Hasto yang kesemuanya juga membutuhkan dana yang cukup besar dan pasti itu di luar yang Rp 900 juta," kata dia.

Pengamat politik Universitas al-Azhar Indonesia, Ujang Komaruddin, menilai pembelaan yang dilakukan Hasto terhadap Harun wajar. Ia menilai, Hasto khawatir Harun akan bersuara dan justru akan banyak elite partai yang terseret.

AYO BACA : Sekjen PDIP Hasto Sebut Harun Masiku adalah Korban

"Membela dan menutup-nutupi kasus yang sesungguhnya, bahkan terkesan melindungi HM. Karena, jika HM tak dibela, takutnya dia bernyanyi," kata Ujang kepada Republika, Senin (27/1).

Menurut dia, pernyataan Hasto ini adalah upaya untuk mengamankan partai. "(Untuk) Mengamankan partai. Karena, jika HM bernyanyi, bisa saja ada elite partai yang terseret dan PDIP menjadi jelek citranya," ujar dia.

Ia menambahkan, persoalan apa pun bisa diputar-putar dan dibalik-baik, termasuk dalam kasus suap PAW DPR RI. Ujang heran dengan kebijakan PDIP yang mengusulkan Harun sebagai pengganti Nazaruddin Kiemas dalam proses PAW ini. Sebab, suara Harun hanya sekira 5.000 suara, sangat jauh dibandingkan peraih terbanyak kedua di daerah pemilihan yang sama.

"Mana mungkin Harun Masiku yang suaranya hanya 5.000 lebih dan ada di urutan kelima bisa diusulkan oleh partai untuk mendapat PAW. Sedangkan, dalam ketentuan UU-nya yang berhak mendapat PAW, ya peraih suara terbanyak berikutnya," kata dia.

AYO BACA : Politisi Demokrat Sindir Sekjen PDIP yang Kekeh Bela Harun Masiku

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan   Republika.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE