Yamaha

Angka Perceraian di Purwakarta Tinggi, Masalah Ekonomi Jadi Penyebab Utama

  Jumat, 24 Januari 2020   Dede Nurhasanudin
Ilustrasi. (Pixabay)

PURWAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Pengadilan Agama Purwakarta melansir jumlah angka perceraian sepanjang 2019 mencapai 1.760 kasus.

Humas Pengadilan Agama Purwakarta, Ahmad Saprudin merinci, dari jumlah 1.760 kasus tersebut, terdiri dari cerai gugat istri yang mengajukan sebanyak 1.370 kasus, sementara cerai talak suami yang mengajukan sebanyak 390 kasus.

AYO BACA : Satu Kecamatan di Purwakarta Masuk Daerah Rawan Bencana Kategori Tinggi

"Dari data tersebut sepanjang 2019 dapat dikatakan istri paling banyak yang mengajukan," ungkap dia, Jumat (24/1/2020).

Ia menyebut, perceraian terjadi sebagian besar disebabkan faktor ekonomi. Namun ada juga karena kehadiran orang ketiga di tengah-tengah rumah tangga, sehingga mereka memilih untuk berpisah.

AYO BACA : Dinas Pendidikan Purwakarta Klaim Siap Perbaiki 38 SD Tahun Ini

"Memang banyak hal pasangan suami istri memilih berpisah, tapi paling banyak karena faktor ekonomi, karena itu cerai gugat  paling banyak," ujar dia.

Sebelum masuk dalam persidangan, lanjut Ahmad, Pengadilan Agama memberikan ruang mediasi, selama mediasi mereka diberikan saran dan pemahaman untuk mempertahankan rumah tangga yang telah mereka bina.

Namun, jika pasangan suami istri itu tetap memutuskan untuk berpisah, maka masuk ke persidangan perceraian. "Mediasi itu salah satu upaya menekan angka perceraian," kata dia.

Saat disinggung jumlah perceraian di lingkungan ASN, Ahmad menyebut ada namun jumlahnya tidak sebanyak masyarakat pada umumnya. "Ada, yah paling ada sekitar 10 kasus selama 2019," ujar dia.

Menurutnya, di lingkungan ASN perceraian terjadi ditenggarai gaya hidup tinggi. Sehingga bercerai menjadi jalan terakhir. "Saya pernah menangani perceraian ASN, suaminya yang mengajukan karena gaya hidup istrinya tinggi," ucap dia.

AYO BACA : 4 Ruang Kelas SDN 3 Cilandak Purwakarta Nyaris Ambruk

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar