Yamaha

Menuju Kota Bandung Bebas Asap Rokok

  Kamis, 23 Januari 2020   Netizen Adong Hotma Megawati H
[Ilustrasi] Kawasan Tanpa Rokok. (Pixabay)

AYOBANDUNG.COM -- Merokok adalah kebiasaan buruk yang berpotensi merusak organ tubuh dan menimbulkan berbagai penyakit mematikan, seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan kanker.

Kenikmatan rokok ternyata tak sebanding dengan bahayanya bagi kesehatan. Efek dari gaya hidup seperti ini memang tidak langsung terjadi, namun seiring berjalannya waktu, 4000 lebih zat kimia yang terkandung di dalamnya akan merusak dan membahayakan tubuh perokok aktif maupun pasif.

Salah satu penyebab karena nikotin memberi efek feeling good hingga perokok kecanduan dan sangat sulit berhenti.

Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas, Asean Region menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 34 persen dari total penduduk Indonesia pada tahun 2016. Fenomena merokok, kini sudah sampai ke generasi muda, tak hanya laki-laki, melainkan juga perempuan.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional bulan Maret tahun 2019 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat menyatakan bahwa persentase penduduk Provinsi Jawa Barat usia 5 hingga 9 tahun yang merokok tembakau selama sebulan terakhir sebesar 0,05 persen dan persentase penduduk Provinsi Jawa Barat usia 10 hingga 14 tahun yang merokok tembakau selama sebulan terakhir sebesar 0,43 persen.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat terbelenggu dengan fenomena merokok anak di bawah umur dan remaja. Mereka adalah penerus masa depan yang perlu dipersiapkan dengan matang karena merupakan aset yang cemerlang bagi Provinsi Jawa Barat khususnya Bangsa Indonesia umumnya yang akan menghasilkan karya-karya besar di masa depan.

AYO BACA : Orang Merokok dan Vape Berisiko Derita Stroke

Merokok pada usia muda menunjukkan pola perilaku yang kurang teredukasi. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya keteladanan baik pada lingkungan keluarga dan sekolah. Kebiasaan merokok orang tua dan guru sudah dilihat oleh anak sejak usia dini hingga bersekolah tingkat dasar hingga menengah atas.

Pemahaman bahaya rokok harus terlebih dulu ditanamkan pada lingkungan keluarga kemudian dilanjutkan pada lingkungan sekolah dimana guru berperan aktif melakukan pendampingan.

Media pun berperan dalam fenomena merokok ini. Iklan tentang rokok yang disiarkan di TV begitu masif menunjukkan satu jati diri tersendiri bagi perokok, bukan memunculkan bahaya rokoknya.

Tidak hanya anak usia dini dan remaja, kesadaran penduduk kota Bandung usia dewasa pun masih cenderung tidak peduli dengan pengaruh buruk yang dihasilkan dari rokok. Mereka seharusnya menjadi role model untuk generasi yang lebih muda.

Tentu sangat sulit pada mereka yang sudah terbiasa merokok untuk berhenti, diperlukan niat yang kuat.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) bulan Maret tahun 2019 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung menyatakan bahwa persentase penduduk Kota Bandung usia 15 keatas yang merokok tembakau selama sebulan terakhir sebesar 30,71 persen dengan rata-rata 70 batang rokok yang dihisap per minggu.

AYO BACA : Dokter-dokter Tak Setuju Rokok Elektrik Beredar di Indonesia

Masih berdasarkan survei tersebut, persentase penduduk Kota Bandung usia 15 ke atas yang merokok tembakau selama sebulan terakhir yang berpendidikan SD ke bawah sebesar 31,72 persen lebih besar dari yang berpendidikan SMP ke atas sebesar 30,44 persen.

Untuk menghadapi fenomena merokok ini butuh dukungan dari semua kalangan. Kesadaran bahaya merokok harus sudah diterapkan sejak usia dini dimulai dari lingkungan keluarga dan sekolah.

Masyarakat harus memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya kesehatan dan bahaya dari kebiasaan merokok. Pemerintah resmi menaikkan harga rokok seiring kenaikan tarif cukai hasil tambakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 23 persen. Akibatnya, harga jual eceran (HJE) rokok resmi naik sebesar 35 persen mulai 1 Januari 2020. Kenaikan tarif cukai rokok dan HJE itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152 Tahun 2019 tentang tarif cukai hasil tembakau. Salah satu pertimbangan kenaikan cukai rokok ini adalah untuk mengurangi konsumsi.

Di Kota Bandung sendiri, sejak tahun 2017 melalui Peraturan Wali Kota Nomor 315 Tahun 2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR), pemerintah kota Bandung telah menjalankan berbagai upaya untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi masyarakat.

Yang termasuk KTR adalah fasilitas layanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat bermain, tempat ibadah, angkutan umum, fasilitas olahraga, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan.

Di wilayah KTR, setiap orang tidak boleh merokok, orang atau badan dilarang menjual atau membeli rokok, kecuali di tempat umum yang memang memiliki izin.

Sejalan dengan anjuran untuk tidak merokok atau berhenti merokok, pemerintah Kota Bandung juga melaksanakan kegiatan berupa konseling dan intervensi farmakologi bila perlu untuk mengupayakan agar seseorang berhenti merokok yang disebut dengan Klinik Berhenti Merokok (KBM) atau saat ini disebut Upaya Berhenti Merokok (UBM) yang ada di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Bandung.

Layanan yang diberikan adalah layanan kesehatan perorangan maupun layanan kesehatan masyarakat, mencakup promotif, preventif, kuratif atau rehabilitatif. Keberhasilan dalam membangun Kota Bandung Bebas Asap Rokok membutuhkan konsistensi, komitmen, dan kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah.

Adong Hotma Megawati H, ASN Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung.

AYO BACA : Ini Dampak Rokok pada Kesehatan Mental

Netizen : Adong Hotma Megawati H
Adong Hotma Megawati H

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar