Yamaha

Pasokan Air Bersih Bandung Raya Terus Menyusut

  Rabu, 22 Januari 2020   Tri Junari
Ilustrasi pasokan air bersih tersendat. (istimewa)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM--Sumber air bersih bagi warga di sekitar Bandung Raya yakni Situ Lembang dan mata air Cijanggel di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) belum normal meski kini sudah memasuki musim penghujan.

Sumber air di Kawasan Bandung Utara ini dimanfaatkan perusahaan air minum Perumda Tirtawening, Perumda Tirta Raharja dan BUMD KBB, PT PMgs yang menyalurkan air kepada Sambungan Rumah (SR) di Kota Bandung, KBB, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung.

Manager Junior Humas Perumda Air Minum Tirta Raharja, Sri Hartati mengatakan, tinggi muka air (TMA) di Situ Lembang normalnya 7 meter, namun kondisi terakhir masih berada di ketinggian 3 meter.

Begitupun di mata air Cijanggel, pasokan air ke pipa milik Tirta Raharja masih di angka 70-80 liter/detik, padahal dalam kondisi normal pasokan bisa mencapai 160 liter/detik.

Dengan kondisi ini distribusi air bersih bagi pelanggan Tirta Raharja di Kota Cimahi menjadi tidak optimal. Kerap kali pihaknya melakukan distribusi bergilir atau memasok air menggunakan tangki.

"Banyak pelanggan yang menanyakan kepada kami kenapa pasokan air masih minim dan yang paling terdampak itu pelanggan di Kota Cimahi. Kami tidak bisa berbuat banyak karena kondisi sumber air baku belum normal,"ungkap Sri saat ditemui ayobandung.com, Rabu (22/1/2020).

Menurut Sri, Untuk memenuhi kebutuhan air SR, pihaknya rutin melakukan mobilisasi armada tanki air, rekayasa jadwal distribusi air dan mengantisipasi kebocoran pipa.

AYO BACA : Pelanggan PDAM Tirta Raharja Keluhkan Pelayanan

Untuk memenuhi pasokan air ke sejumlah wilayah pelayanan khususnya di utara, pihaknya juga secara rutin terus berupaya memonitoring terhadap sumber air baku dan mencari sumber air baku yang potensial.

Selain menyusutnya air di Situ Lembang, penyebab belum normalnya distribusi air kepada para pelanggan di wilayah utara, diduga karena banyaknya saluran pipa ilegal di mata air Sungai Cijanggel.

Terpisah Direktur BUMD PT PMgS KBB, Denny Ismawan mengatakan, kondisi debit air di Sungai Cijanggel kini belum normal. Banyaknya pipa ilegal juga menjadi salah satu faktor pasokan air ke perusahaan air minum tersendat.

Hasil analisis ada 4 pipa baru diduga ilegal dengan ukuran 6 inci, sementara pipa BUMD saja hanya 1 dengan ukuran 8 inci. Maraknya pipa ilegal berdampak pada pasokan air sambungan rumah dari 50 liter perdetik menjadi 15 liter perdetik.

"Kami cek ke lapangan (Sungai Cijanggel), ternyata ada 4 pipa baru dengan ukuran 6 inci, itu sangat besar dan berdampak pada pasokan debit air. Biasanya kalau turun hujan seperti saat ini debit air bisa mencapai 40 sampai 50 liter per detik, tapi sekarang hanya 18 liter per detik saja. Makanya kami laporkan langsung ke Perhutani agar ditertibkan," kata Denny.

Denny mengaku tak mengetahui secara pasti munculnya pipa tersebut milik perorangan atau pelaku usaha. Namun, bagi dirinya pipa tersebut sangat mengganggu lantaran berada di aliran air milik BUMD. 

"Dalam kontrak juga kawasan BUMD sekian, terus milik yang lain sekian. Tapi, tiba-tiba ada muncul pipa baru di area BUMD, ini sangat merugikan buat kami. Akibatnya banyak pelanggan yang komplain karena harus digilir empat sampai tujuh hari sekali. Kami masih menunggu jawaban dan solusi dari Perhutani," katanya.

AYO BACA : Distribusi Tersendat, Pelanggan Jemput Air di Kantor Tirta Raharja

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar