Yamaha

Keraton Agung Sejagat dan Keterasingan Diri

  Minggu, 19 Januari 2020   Netizen Djoko Subinarto
Keraton Agung Sejagat. (Facebook)

PUBLIK negeri ini baru saja dihebohkan oleh kemunculan Keraton Agung Sejagat, di Purworejo, Jawa Tengah. Ratusan orang dilaporkan telah menjadi pengikut kerajaan jadi-jadian ini. Iming-iming mendapatkan kehidupan yang lebih baik menjadi salah satu daya tarik orang-orang bergabung menjadi anggota Keraton Agung Sejagat. 

Bagi sebagian orang, kebanggaan dan rasa puas tampaknya dengan mudah mereka peroleh tatkala mereka berhasil menjadi pengikut komunitas atau figur tertentu. Lebih-lebih lagi apabila komunitas atau figur tertentu itu mampu menjanjikan hal-hal yang sifatnya utopis.

Di sisi lain, tidak sedikit individu yang haus kekuasaan. Mereka selalu ingin mendominasi kehidupan orang-orang di sekelilingnya. Lewat sejumlah delusi yang mereka ciptakan, orang-orang yang haus kekuasaan ini berupaya menarik pengikut. Agar calon pengikut semakin yakin, ada yang mengklaim diri mereka sebagai raja maupun ratu, ada juga yang mengklaim sebagai imam, nabi, titisan malaikat, bahkan wakil Tuhan. 

Umumnya, para pengikut komunitas seperti Keraton Agung Sejagat itu
adalah mereka yang kurang mampu mengelola, mengendalikan dan mengatur kehidupan mereka sendiri. Mereka kurang bisa melihat dan mengenali diri mereka dan memahami dunia nyata di sekitar mereka. Dengan kata lain, mereka asing dengan diri mereka sendiri. Padahal, sudah sejak dulu, Aritoteles menasihati kita, “Kenalilah dirimu.”

Nah, tatkala mereka merasa asing dengan dirinya, dan kemudian menghadapi beban dan gelombang kehidupan yang menyesakkan, mereka pun dengan mudah terpukau oleh keberadaan komunitas-komunitas tertentu yang menawarkan dan menjanjikan hal-hal irasional. 

Mereka dengan sangat gampang menjadi korban empuk figur-figur tertentu yang mengklaim diri mereka sebagai raja, ratu, nabi, titisan malaikat maupun mengklaim sebagai wakil Tuhan.

Pertanyaannya adalah: bagaimana agar masyarakat kita tidak mudah menjadi pengikut komunitas-komunitas semacam Keraton Agung Sejagat dan sebangsanya? 

Salah satu kuncinya adalah pengetahuan dan pengenalan diri sendiri. Pengetahuan dan pengenalan diri akan memberdayakan individu dan membuat individu memahami sepenuhnya ihwal tidak adanya satu pun kelompok dan pemimpinnya yang perlu dikultuskan dan mendominasi kehidupan seseorang.

Dengan pengetahuan dan pengenalan diri, individu tidak akan mudah untuk menjadi pengikut komunitas-komunitas yang menawarkan hal-hal yang di luar nalar. Pada titik inilah keluarga, institusi-institusi pendidikan dan agama memiliki peran penting dalam memberikan pengetahuan yang mumpuni kepada setiap anggotanya. Dengan begitu, mereka tidak akan mudah menjadi mangsa empuk kelompok maupun figur tertentu yang menjanjikan hal-hal irasional.

Djoko Subinarto

Netizen : Djoko Subinarto
Alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar