Yamaha

Dinkes Jabar Minta Masyarakat Waspada Antraks

  Minggu, 19 Januari 2020   Nur Khansa Ranawati
ilustrasi peternakan sapi. (dok. ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat Berli Hamdani mengatakan, pihaknya belum menemukan kasus antraks pada hewan ternak maupun manusia di Jawa Barat meski segala kemungkinannya mesti diwaspadai.

"Sejauh ini belum ada hewan yang terdeteksi mengidap antraks, mudah-mudahan tidak ada, terhadap manusianya juga tidak ada, tapi kita harus tetap waspada," kata Berli saat ditemui di Gedung Sate, Kota Bandung, Sabtu (18/1/2020).

AYO BACA : Pemprov Jabar Kembangkan Aplikasi Konsultasi Kesehatan

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI sudah memperingatkan Jawa Tengah dan Jawa Timur soal potensi penyebaran bakteri antraks. Bahkan, Ditjen Pencegahan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI menyebut antraks sudah terkategori kejadian luar biasa di Jateng.

Guna mencegah penyebaran penyakit antraks, Dinkes Jabar tengah melakukan sejumlah upaya. Salah satunya adalah berkoordinasi dengan Dinas Perternakan, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk memeriksa kesehatan hewan ternak, khususnya sapi, sebelum masuk pasar.

AYO BACA : 1 Warga Meninggal, Dinkes Purwakarta Akui Angka DBD di Darangdan Tertinggi

"Antisipasi kami berkoordinasi dengan Dinas peternakan dan Disperindag, kami ingin pastikan hewan ternak, khususnya sapi, tak terpapar bakteri antraks," ungkap Berli.

Kemudian, pihaknya akan melakukan operasi pasar. Nantinya, Dinkes Jabar bakal melakukan sampel pada daging, terutama sapi, di pasar. Jika ada sampel yang mengandung bakteri antraks, pihaknya akan menarik daging tersebut dari pasar.

"Kita kunjungi pasar-pasar terutama yang menjual daging sapi, kemudian kita lakukan uji tes daging yang dijual ke masyarakat," katanya.

Selain itu, Berli menyatakan bahwa Dinkes Jabar akan fokus pada peningkatan kualitas kesehatan dan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan pada 2020. Di antaranya adalah penanganan cegah stunting hingga depresi.

"Langkahnya melalui program pemetaan yang sudah selesai di 2019 ini untuk mengetahui permasalahan kesehatan apa saja yang terjadi di Jabar. Setelah itu kita membangun sistem, mulai dari penggunaan pelayanan berbasis 4.0 dan mobile. Termasuk penanganan pencegahan stunting, penyakit menular, depresi dan sebagainya," jelasnya.

AYO BACA : Mulai Langka, Bandung Barat Bibitkan Sapi Pasundan

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar