Yamaha

Sajen Kopi

  Kamis, 16 Januari 2020   Netizen ATEP KURNIA
Di dalam Ensiklopedi Sunda (2000) ada keterangan dan gambaran seputar sasajen dan nyuguh.

Banyak budaya, agama, keyakinan yang menjadikan makanan sebagai bentuk persembahan kepada tuhan, dewa, leluhur, dan makhluk gaib. Inilah yang disebut sebagai sajen (food offerings). Menurut Pauline Schmitt-Pantel dalam Brill's New Pauly (2006), sajen mengandung arti “Persembahan yang bersifat mengorbankan dalam bentuk makanan, baik mentah (buah pertama hasil panen, secangkir anggur) maupun dimasak (seperti seperiuk bubur atau panspermía, campuran buah pertama atau biji-bijian), yang dipersembahkan kepada dewa-dewa atau yang meninggal. Istilah ini terdiri dari persembahan daging suci, sereal dan bahan makanan tumbuhan lainnya (sayuran, buah, kue, keju), juga berbagai minuman (anggur, susu, minuman dari madu, dll.); termasuk juga persembahan seluruh makanan (theoxénia) serta korban hewan.”

Contoh-contohnya bisa dilihat dari agama Hindu, dalam bentuk kelapa untuk Ganesha, susu dan daun pinang untuk Shiwa, bunga, tulsi, dan buah untuk Krisna; dalam agama Nasrani, anggur melambangkan darah Kristus dan roti menggambarkan tubuh Kristus; challah bagi agama Yahudi; buah kastanye dalam legenda Befana di Italia; daun Koka bagi budaya-budaya di daerah Andes, Amerika Selatan; dan sebagainya. Mengingat ditujukan kepada hal-ihwal yang gaib, banyak di antara makanan dan minuman tersebut beroleh status dikeramatkan.

Dalam kerangka ini pula di dalam budaya Sunda dikenal istilah sasajen dan nyuguh. Dalam Ensiklopedi Sunda (2000) sasajen merujuk kepada “Barang-barang (biasanya makanan dan minuman) yang disajikan untuk arwah Karuhun, ditempatkan di tempat tertentu dan pada waktu tertentu pula, misalnya di Goah setiap malam Selasa dan malam Jum'at, atau disajikan sebagai syarat untuk melaksanakan sesuatu maksud, umpamanya orang yang hendak Munjung, atau hendak mulai panen, dll. Yang disajikan biasanya Puncak Manik, air kopi dengan gula batu, serutu, bunga tujuh macam, sirih-pinang, ayam camani (hitam), kain putih, dll. Kebiasaan ini peninggalan agama nenek moyang sebelum orang Sunda memeluk agama Islam. Sekarang kian jarang dilaksanakan.”

Dengan pernyataan tersebut sebenarnya pengertian sajen dengan food offerings nampak sejalan. Sama-sama berkaitan dengan sajian makanan dan minuman untuk sesuatu yang gaib, sebagai syarat hajat sesuatu, dan dikaitkan dengan kepercayaan yang diyakini oleh orang Sunda beragama Islam, yaitu bisa berasal dari fase animisme-dinamisme dan Hindu-Budha.

Sementara praktik menyajikan sajen oleh orang Sunda disebut nyuguh, yang tentu berasal dari kata kerja suguh atau saji. Menurut Ensiklopedi Sunda, nyuguh adalah “Menyajikan Sasajen buat arwah leluhur, biasanya pada waktu-waktu tertentu, misalnya malam Jum’at dan malam Selasa. Biasanya nyuguh dilakukan dalam Goah sebagai penghormatan kepada Sanghiang Sri, dewi padi. Adat yang berasal dari masa pra-Islam ini, sampai sekarang pun masih nampak dilakukan, terutama di daerah pedalaman. Mereka percaya bahwa Sanghiang Sri dan arwah nenek-moyangnya datang berkunjung pada hari-hari tersebut, sehingga perlu diberi sajen. Sasajen biasanya terdiri dari Puncak Manik, Rurujakan, rampe, serutu, kopi pahit dan makanan tertentu kesukaan nenek moyangnya ketika masih hidup, disertai dengan membakar kemenyan. Dengan kian intensifnya syi'ar agama Islam, adat nyuguh kian berkurang.”

Ihwal keterangan nyuguh juga bisa dibaca antaranya dari buku Bab Adat2 Oerang Priangan djeung Oerang Soenda lian ti eta (1913) buah karya penghulu Bandung Haji Hasan Mustapa. Dalam buku etnografi Sunda ini, Hasan Mustapa antara lain memperbincangkan nyuguh pada etika orang Sunda terhadap padi dan beras. Menurut Hasan Mustapa, petani Sunda menganggap padi sebagi Nyi Sri atau Pohaci Sanghiang Asri, sehingga seperti bernyawa, mengalami marah, sakit hati, dan menangis. Bila demikian, harus segera diberi sajen sebagai pembujuk dalam bentuk bahan-bahan menyirih, asap dupa atau kemenyan, rujak gula aren, pisang masak, dan parutan kelapa (“.. sabab tahajoelna djelema kana uji Sri disaroeakeun dieung sagala atoeran bangsa noe njawaan, saperti: bendoena, sambetanana, kanjenjerianana njoeroep ka djalma, mokpokeun, njarekan, tjeurik semoe noe njeri hate. Geuwat pasoegoeh-soegoeh, ditobatan, dioepahan, henteu mahal2, ngan koe tektek (seupaheun sawarnana), koekoes, menjan, roedjak2 doea tiloe tjangkir, noe diroedjak goela kawoeng, tjaoe a sak disiksik, kalapa diparoed”).

sajen-kopi2

AYO BACA : Konsisten Usung Wisata Budaya, Hengky Kurniawan Apresiasi Dusun Bambu

Cara makhluk gaib menikmati sajen dapat dibaca dari buku Onom jeung Rawa Lakbok (1979, cet. 2, 2009).

Pada peristiwa panen padi (nyalin), banyak petani yang membawa sajen berupa ancak dan sanggar yang diisi puncak tumpeng, telur, jajanan pasar, bahan menyirih, rujak-rujak, minyak kelapa, cermin dan sisir kerap dan jarang, bebungaan, serta minyak wangi (“Dina sahoeloe wotan eta anoe tani oesoem njalin, nja roepa2 warnana, petana, dina hidji isoek aja noe ngan mawa panjoegoeh roepana antjak bae atawa sanggar dieusi tjongo toempeng, endog, lalawoeh pasar, tektek seupaheun, roeroedjakan 7 takir leutik, minjak kalapa, eunteung sisir kérép, sisir tjarang, kembang2, boboreh”).

Demikian pula, menurut Hasan Mustapa, orang Sunda, terutama perempuan, sangat memuliakan beras. Hal ini misalnya terlihat saat menyimpan dan mengambil beras di tempat khusus (goah), dengan senantiasa diberi sajen rujak dan membakar kemenyan setiap malam Jumat (“Ari tatakramana awewe noe njioek beas sok beberes di minjak, njioekna tara disodokkeun, noe njioekna tara ngomong tepi ka bidjil deui. Ari pabeasanana diteundeun di goah henteu meunang digagabahkeun, tjara kana enggon djéléma bae, saban malem Djoemaah dikoekoesan disoegoeh roedjak2 Nji Sri”).

Bagi yang penasaran bagaimana rasa makanan dan minuman yang dipersembahkan kepada hal-hal gaib, bisa dibaca dari buku Onom jeung Rawa Lakbok (1979, cet.2, 2009) karya R.A. Danadibrata. Di dalamnya ada pengalaman R. Iskandar Bratanagara tentang mencicipi makanan yang sebelumnya sudah dijadikan sajen bagi mahluk halus penghuni Rawa Lakbok (Onom) di Ciamis pada tahun 1930-an. Pisang yang dicicipinya terasa hambar (“R. Iskandar gancang asup ka los tea sarta terus metik cau ambon sasiki anu tas disuguhkeun, pek dipesek am didahar, bet bener tiis becis teu aya sarina, boh amisna boh seungitna”) dan  gula aren yang seharusnya manis, terasa masam seperti cuka (“Aya deui nu leuwih aneh, nya eta gula kawung anu tegar pisan, pek ku R. Iskandar dicokot tuluy disemplekkeun, am didahar, ya Allah bet euweuh pisan amisna, ieu mah rasana haseum lir cuka”).

Namun, yang menarik perhatian saya adalah mengenai kopi yang sering dibaktikan sebagai salah satu minuman persembahan bagi makhluk gaib. Ini terlihat dari pengertian dalam Ensikloedi Sunda, baik yang bersangkutan dengan sasajen maupun nyuguh. Dalam lema sasajen disebut-sebut “air kopi dengan gula batu” dan pada nyuguh ada disebutkan “kopi pahit”. Seakan-akan kopi menjadi minuman penting bagi makhluk gaib. Dan memang, menurut Yetti Herayati, ‎Nia Masnia, dan ‎Titi Haryanti dalam buku Makanan (1993), “... cikopi disajikan hanya bagi mereka yang terbiasa minum kopi, untuk menjamu tamu, dan dapat juga sebagai sesajen pada waktu-waktu tertentu.” Pernyataan Yetti dkk., tersebut seakan menegaskan fungsi lain minuman kopi.

Ihwal peran kopi dalam sajen sering disebut-sebut dalam berbagai pustaka terkait upacara adat, adat istiadat, permainan tradisional dan kesenian Sunda. Dalam lingkup upacara dan adat istiadat, kita misalnya, dapat membaca keterangan Akip Prawirasuganda dalam Upatjara adat di Pasundan (1964) yang sebelumnya pernah juga diungkap dalam Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde (1952). Di situ Akip bilang, “Dekat pedaringan itu diadakannja sadjian (sasadjen Sd.) jaitu matjam2 makanan serba sedikit, misalnja: tempat sirih, minjak njiur, rampai, kendi, air kopi dan ta' putus2 dibakarnja menjan. Sasadjen itu ialah persediaan Nji Sri ...”. Jadi di sini, kopi difungsikan sebagai sajen bagi pemuliaan Dewi Padi.

Dalam Adat Istiadat Daerah Jawa Barat (1980) pun disebutkan demikian, “Sesajen dilengkapi juga dengan macam-macam rujak manis, kue-kue, cerutu, air kopi - dan sebagainya. Setelah selamatan, sesajen ini kemudian disimpan di dalam rumah. Ditaruh di sudut rumah, di kolong tempat tidur atau di tempat ...”.

AYO BACA : Badan Bahasa Jadikan Milenial Sebagai Kata Tahun Ini

Demikian pula dalam upacara perkawinan adat Sunda. Menurut Thomas Wiyasa Bratawijaya (Upacara perkawinan adat Sunda, 1990), “Sesajen (parawanten) yang dihimpun dalam sebuah tampah, terdiri dari gula, kopi, bumbu dapur, garam, kue pasar, sisir, kaca dan lain-lain yang nantinya akan diletakkan di kolong ranjang pengantin”. Sementara dari keterangan A. Suhandi Suhamihardja dan ‎Haryo S. Martodirdjo (Fungsi Upacara Tradisional pada Masyarakat Pendukungnya Masa Kini di Jawa Barat, 1993), disebut bahwa sajen “terdiri atas rujak, kue-kue, rokok atau cerutu, air kopi, kanteh (benang tenun), serta pakaian kedua mempelai yang ditempatkan di atas baki dan akan dipakai pada waktu menikah nanti”.

sajen-kopi-3

Orang-orang Baganda juga menggunakan kopi sebagai sajen dan ritual. Sumber: ugandatourismcenter.com

Dalam kerangka permainan dan kesenian Sunda, Yugo Sariyun (Nilai Budaya dalam Permainan Rakyat Jawa Barat, 1991) menyatakan, “Sebelum upacara tersebut dilaksanakan, terlebih dahulu disediakan sesajen seperti: rujak cau (pisang) ambon dan pisang raja, kopi pahit dan kopi manis, teh pahit dan teh manis, bunga (kembang) 3 macam atau 7 macam”. Secara lebih khusus, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tangerang menerbitkan buku Kesenian Tradisional Kabupaten Tangerang (2007). Di dalam buku tersebut juga digambarkan kopi memainkan peran sebagai salah satu bagian dari sajen, karena di situ, antara lain, disebutkan “menyediakan sesajen yang terdiri dari kopi pahit, kopi manis, kue tujuh macam, kembang puring, tebu, rokok”, lalu pada bagian lain diulangi lagi dengan menyatakan, “Pada mulanya sebelum mulai kegiatan disediakan sesajen yang terdiri dari cau hejo, cau emas, kopi pahit, kopi manis, daun kawung”.

Ternyata penggunaan kopi sebagai bagian dari food offerings juga terjadi di negara lain. Ini misalnya terlihat dari kehidupan orang Baganda, di Uganda. Di sana, sebagaimana yang saya baca dari buku Food, Feasts, and Faith: An Encyclopedia of Food Culture in World Religion (2017), disebutkan bahwa “Untuk mencegah ketidaksenangan lelembut jahat yang menghuni hutan dan sungai setempat, penduduk desa di Buganda dari waktu ke waktu akan menyediakan sajen bagi mereka. Pada kuil keluarga, biji kopi merupakan bagian dari sajen untuk mempertahankan niat baik arwah para leluhur”.

Di kalangan orang Baganda juga berkembang ritual membuat tali persaudaraan sedarah melalui sajen kopi, terutama biji robusta. Dalam buku Modern Coffee Production (1962), Alec Ernest Haarer menyatakan bahwa, “Tatkala dua orang Baganda hendak menautkan di antara satu sama lainnya dalam arti persaudaraan darah (blood-brotherhood), mereka memisahkan dua biji kopi dari satu buah, masing-masing mengoleskan dengan darahnya, dan menukar biji kopi tersebut ...”.

Demikian pula yang terjadi pada agama Santeria, yang dianut oleh orang Afro-Amerika di Kuba. Dalam buku Santería: The Religion, Faith, Rites, Magic (1989), Migene González-Wippler menyebutkan “Para penganut santeros lebih suka mengambil hati orang meninggal atau roh di belakang pintu atau di lantai kamar mandi. Di sinilah mereka akan meletakkan kopi, arak, cerutu, dan sajen untuk memuja orang yang meninggal (Eggun).”

Apa yang dapat ditangkap dari kebiasaan untuk menggunakan kopi sebagai sajen, saya pikir ini terjadi karena adanya budidaya kopi di daerah yang bersangkutan atau paling tidak kebiasaan kopi di tempat yang bersangkutan sudah membudaya. Pada konteks orang Sunda, saya kira budidaya kopi serta budaya minum kopi turut mempengaruhi keputusan orang Sunda untuk menggunakan minuman kopi sebagai bagian ritual menyajikan sajen. Dan satu hal yang sudah jelas adalah kebiasaan menyajikan kopi bagi mahluk gaib di kalangan orang Sunda tidak mungkin terjadi sebelum abad ke-17 atau malah abad ke-18. Saya pikir, kopi untuk mahluk gaib itu baru diberikan setelah orang Sunda sudah memiliki tradisi minum kopi, dan ini terjadi paling tidak sejak pertengahan abad ke-19.

Atep Kurnia

Peminat Literasi Budaya

AYO BACA : Optimisme Bahasa Sunda dan Media Sosial

Netizen : ATEP KURNIA
ATEP KURNIA

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE