Yamaha

GEPPREK, Sosialisasi Gerakan Cegah Penyalahgunaan Rokok Elektrik

  Rabu, 15 Januari 2020   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Pemasangan stiker Gerakan Pencegahan Penyalahgunaan Rokok Elektrik (GEPPREK). (Ayobandung.com/Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Generasi Anti Narkoba Indonesia (GANI) bersama Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) memperluas Gerakan Pencegahan Penyalahgunaan Rokok Elektrik (GEPPREK) dengan menyelenggarakan diskusi publik di Bandung. 

Ketua Umum Generasi Anti Narkoba Indonesia (GANI), Djoddy Prasetio Widyawan menjelaskan, gerakan sosial ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada para anggota asosiasi rokok elektrik, para konsumen dewasa, dan publik mengenai pencegahan penyalahgunaan produk tembakau alternatif. 

Pasalnya, menurut Djoddy, respons dan keputusan yang cermat dari semua pihak khsususnya pemerintah sangat dibutuhkan untuk saat ini. Regulasi khusus untuk produk tembakau alternatif juga diperlukan karena celah penyalahgunaan masih terbuka lebar di Indonesia. 

Karenanya kegiatan sosialisasi ini dilakukan melalui distribusi stiker GEPPREK dan buku panduan kepada toko-toko rokok elektrik di Bandung. Djoddy juga berharap megiatan ini dapat mencegah semakin luasnya penyalahgunaan narkoba pada rokok elektrik.

“Kegiatan ini merupakan bentuk perhatian terhadap industri produk tembakau alternatif di Indonesia. Khususnya terhadap isu penyalahgunaan narkoba pada rokok elektrik dan penggunaan oleh anak-anak di bawah umur. Karena, dengan pertumbuhan pengguna rokok elektrik yang berkembang pesat, kami ingin edukasi ini dapat tersebar luas ke seluruh aspek, baik pelaku usaha maupun konsumen," kata Djoddy dalam diskusi publik di Bandung, Rabu (15/1/2020).

Menurut Djoddy, permasalahan dalam penyalahgunaan zat Tetrahidrokanabinol (THC) dan vitamin E asetat yang dicampurkan pada cairan rokok elektrik di Amerika Serikat sangat rentan terjadi di Indonesia. Bahkan pada pertengahan tahun 2019, Badan Narkotika Nasional (BNN) telah mengungkapkan kasus penyalahgunaan narkoba serupa pada rokok elektrik. 

"Dengan adanya kerja sama dari asosiasi rokok elektrik, khususnya yang ada di Bandung, GANI optimis ruang untuk penyalahgunaan narkoba pada rokok elektrik akan semakin sempit dan akhirnya tertutup. Sehingga produk tersebut dapat membantu perokok dewasa, yang merupakan tujuan utama diciptakannya rokok elektrik," kata Djoddy.

AYO BACA : Dokter-dokter Tak Setuju Rokok Elektrik Beredar di Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Vapers Indonesia (AVI) Jawa Barat, Didong Wanorogo menyatakan pihaknya juga mendukung gerakan tersebut. Pasalnya jauh sebelum gerakan ini muncul, sebagai bentuk komitmen komunitas, AVI Jawa Barat, kata Didong selalu mengimbau kepada anggotanya agar tidak melakukan penyalahgunaan narkoba pada rokok elektrik dan melarang penjualan produk kepada anak di bawah umur 18 tahun diberbagai toko rokok elektrik alias vape.

"AVI Jawa Barat berkomitmen akan memberikan sanksi tegas jika anggotanya ada yang terbukti menyalahgunakan narkoba pada rokok elektrik. Kami siap bekerja sama dengan penegak hukum untuk mengatasi permasalahan ini," kata Didong. 

Sementara itu, Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo berpandangan bahwa kasus penyalahgunaan narkoba pada rokok elektrik membuat publik memiliki persepsi yang negatif terhadap produk tembakau alternatif. 

Padahal, menurut Bimmo, produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan, sejatinya diciptakan untuk membantu perokok dewasa yang ingin beralih dari rokok ke produk tembakau untuk meminimalisasi risiko asupan nikotin. 

Di sisi lain roko elektrik juga tidak dianjurkan untuk perokok pemula dan dilarang bagi anak di bawah umur 18 tahun. Karenanya Bimmo juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mencegah penyalahgunaan rokok elektrik dengan membentuk regulasi khusus.

“Kami berharap pemerintah membentuk regulasi khusus, yang berbeda dari rokok, bagi produk tembakau alternatif. Regulasi bagi produk tembakau alternatif akan memberikan kepastian bagi para pelaku usaha dalam memproduksi produk yang sesuai bagi konsumen,” ujarnya.

Terlebih Bimmo menjelaskan, saat ini Indonesia hanya memiliki satu aturan yaitu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146/PMK.010/2017 yang berfokus pada aspek penerimaan negara dari cukai. Namun belum mencakup aspek lainnya, seperti uji produk, tata cara pemasaran, batasan usia, informasi bagi konsumen, hingga pengawasan. 

“Dengan regulasi yang lebih rinci akan mempersempit potensi penyalahgunaan narkoba pada rokok elektrik, termasuk penyalahgunan pada anak di bawah umur 18 tahun," ujar Bimmo.

AYO BACA : Kemenkes Larang Konsumsi Vape dan Rokok Elektrik

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar