Yamaha

Diusir, 30 Mahasiswa Disabilitas Netra Wyata Guna Tinggal di Trotoar

  Rabu, 15 Januari 2020   Adi Ginanjar Maulana
Penghuni Balai Wyata Guna di Jalan Padjajaran bertahan di depan halaman kantor tersebut, Rabu (15/1). Mereka diharuskan keluar dari balai karena sudah tidak memiliki hak pelayanan. (Republika/M Fauzi Ridwan)

CICENDO, AYOBANDUNG.COM -- Sekitar 30 mahasiswa penyandang disabilitas netra dikeluarkan dari asrama Balai Wyata Guna, Kota Bandung sejak Selasa (14/1/2020) malam karena dianggap sudah tidak memiliki hak mendapatkan pelayanan. 

Mereka pun memilih bertahan di trotoar kantor tersebut untuk meminta kejelasan dan solusi dari pemerintah.

Berdasarkan pantauan, belasan mahasiswa memasang terpal sebagai pelindung dari panas dan hujan. Kemudian, beberapa di antaranya memasang spanduk yang berisi penolakan terhadap regulasi perubahan panti menjadi balai.

AYO BACA : Mengunjungi Mesin Cetak Alquran Braille Tertua di Dunia

Akibatnya, arus lalu lintas di jalan Padjajaran sempat mengalami kepadatan. Sejumlah aparat kepolisian melakukan pengaturan lalu lintas. Selain itu, sebagian dari mereka menjaga keamanan di sekitar Balai Wyata Guna.

"Kami yang melakukan kegiatan menginap di trotoar Wyta Guna dari kemarin pukul 19.30 terdiri dari mahasiswa disabilitas netra terdampak dari kejadian ini, yang menjadi korban sebanyak 30 orang," ujar Elda Fahmi seperti dikutip dari Republika, Rabu (15/1/2020).

Sejak Wyata Guna masih berstatus panti, menurutnya memiliki kewenangan untuk memberikan bimbingan, pembinaan dan pendidikan dasar kepada penyandang disabilitas. Ia mengatakan, pelayanan yang diberikan yaitu pendidikan formal dan vokasional dengan waktu yang sudah ditetapkan oleh Kemendikbud.

AYO BACA : Sejarah SLBN A Kota Bandung yang Tertua di Indonesia

Berdasarkan aturan tersebut, penyandang disabilitas netra tingkat SD, Elda mengatakan mendapatkan layanan selama 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun dan perkuliahan 5 tahun. Namun, sejak terjadi perubahan nomenklatur panti menjadi balai waktu pelayanan hanya enam bulan.

"Balai pada dasarnya tidak memberikan pendidikan dasar hanya pelayanan pelatihan lanjutan yang dimana mereka tidak memberikan layanan pendidikan," katanya. Menurut dia, disabilitas netra yang mengambil pendidikan formal di luar balai harus keluar dari Wyata Guna.

Ia mengatakan, saat ini balai hanya melayani untuk pendidikan vokasional atau lanjutan. Namun, katanya, jika balai hanya menerima siswa lanjutan dari panti saat ini panti sosial disabilitas netra di Indonesia sudah tidak ada dan berubah menjadi balai oleh Kemensos.

"Disabilitas netra yang harus mrndapatkan pendidikan dasar SD dan SMP misal sekarang harus dipaksa masuk ke jenjang SMA. (Mereka) diajarin mengenai pertambahan, pengurangan, dan dikasih soal logaritma. Kejadian miris yang terjadi di dunia disabilitas netra," katanya.

Elda mengatakan pihaknya akan bertahan hingga pihak Balai Wyata Guna dan pemerintah memberikan solusi yang cepat, tepat, dan pas bagi penyandang disabilitas disabilitas netra. Sebab, menurutnya sejak 2019 sudah melakukan audiensi tetapi tidak ada solusi hingga sekarang ini. 

Elda mengatakan sejak berubah menjadi balai, pelayanan secara kualitas, kuantitas dan durasi waktu kepada disabilitas netra menjadi berkurang dan terjadi di seluruh Indonesia. 

AYO BACA : Belajar Menyalin Ayat Alquran Dengan Metode Imla

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar