Yamaha

Tunantera Berdaya Jadi Barista di Cafe More Bandung

  Selasa, 14 Januari 2020   Nur Khansa Ranawati
Penyandang Tunanetra menjadi barista di Cafe More, di dalam komplek Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyataguna, Kota Bandung. (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

CICENDO, AYOBANDUNG.COM--Beberapa hari lalu, sebuah utas di media sosial Twitter yang membahas keberadaan sebuah kafe baru di Kota Bandung sempat viral. Unggahan tersebut menceritakan pengalaman seorang warga mengunjungi Cafe More yang terletak di dalam komplek Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyataguna, Jalan Pasirkaliki belum lama ini.

Kafe tersebut nampak seperti kafe pada umumnya; dengan desain interior minimalis dan meja kasir yang dilengkapi perabot pembuat kopi. Hal yang membuatnya cukup istimewa adalah seluruh barista yang bekerja di kafe tersebut merupakan penyandang disabilitas netra atau low vision.

Ayobandung.com menyambangi kafe tersebut, Selasa (14/1/2020) siang. Letaknya berada bersebelahan dengan komplek sekolah di halaman depan Wyataguna. Kala itu, nampak sejumlah kelompok pemuda duduk-duduk di halaman luar. Tempat parkir di sekitar pun lebih ramai dari biasanya.

Cafe-More-2

Ketika masuk ke dalam ruangan kafe, pegunjung yang hendak memesan kopi telah mengantre. Seluruh tempat duduk yang tersedia di dalam pun sudah penuh terisi.

AYO BACA : Taman Inklusi

Di balik meja kasir, empat orang barista wanita berseragam hitam-kuning dengan cekatan melayani pesanan para pembeli. Ada yang mengoperasikan mesin kopi, bertransaksi di mesin kasir, dan menyiapkan setiap pesanan yang telah dibeli.

Ketika pesanan sudah siap, sang barista akan memanggil nama pembeli. Kemudian, pembeli menghampiri meja kasir membawa pesanan masing-masing dan kembali duduk.

Cafe-More-3

Staf BRSPSDN Wyataguna, Dewi Yuliawati mengatakan kafe tersebut lahir dari kerjasama Kementrian Sosial RI dengan Kementrian Sosial Korea (KOICA) dan lembaga non-profit berbasis pemberdayaan tunanetra di Korea, yakni Siloam Center fot the Blind (SCB). Para barista tersebut telah dilatih berbagai pengetahuan tentang kopi dan pelatihan menjadi barista selama satu semester.

"Sudah ada dua angkatan yang diberi pelatihan, total ada 13 orang. Alhamdulillah mereka semua juga sudah mendapat sertifikat barista profesional resmi dari lembaga independen. Jadi mereka bisa disandingkan dengan barista yang tidak punya gangguan pengelihatan," ujarnya pada Ayobandung.com.

AYO BACA : Tadarus Nasional Tunanetra

Dewi yang juga merupakan anggota tim kerjasama antara Wyataguna dan KOICA juga SCB menyebutkan, kerjasama tersebut akan berlangsung selama satu tahun. Tiap tahunnya, ditargetkan satu kafe berdiri. Cafe More yang saat ini beroperasi saat ini merupakan kafe perdana yang telah berdiri.

"Jadi kafe ini seperti laboratorium untuk menampung lulusan pelatihan barista agar bisa mandiri dan kondisi ekonominya terangkat. Kemampuan ini kan terbilang inovatif, disabilitas netra tidak hanya bisa pijat," jelasnya.

Dirinya mengaku tidak menyangka Cafe More bisa banjir pengunjung dalam waktu yang relatif singkat. Kafe ini diresmikan pada 13 Desember 2019.

"Di minggu awal sih masih sepi, kemudian kami berusaha promosi lewat media sosial masing-masing. Ini sebuah keberhasilan, bahkan Sabtu kemarin sempat banyak yang pulang lagi saking penuhnya," katanya.

Salah satu pelanggan, Fathia Uqim (25) mengatakan dirinya cukup terkesan dengan kafe tersebut. Selain interiornya yang kekinian dan kopinya yang terbilang enak, dia mengatakan konsep pemberdayaan yang diusung juga menjadi nilai plus.

"Ini adalah sesuatu yang harus diapresiasi, sekarang bukan eranya difabel termarjinalkan. Kafe ini bisa membuat masyarakat percaya bahwa para penyandang disabilitas juga sama dengan kita, bisa berdaya," ujarnya.

AYO BACA : 97 Penyandang Tunanetra Memilih di 2 TPS di PSBN Wyata Guna Bandung

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar