Yamaha

Kesempatan Kerja para Difabel

  Jumat, 10 Januari 2020   Netizen Firyal Shabirah
Aktivis Difabel Bandung Raya kampanye kepedulian masyarakat terhadap penyandang disabilitas di Car Free Day Dago. (Ayobandung.com)

Para difabel mungkin mendapat kesulitan untuk diterima masyarakat. Banyak masyarakat yang masih tidak bisa menerima mereka dan memandang kekurangannya sebagai sesuatu yang aneh. Sikap tidak bisa menerima ini biasanya muncul karena ketidaktahuan cara menghadapi orang-orang difabel.

Di suatu kesempatan saya sempat berbincang dengan seorang ayah yang memiliki anak tuli. Ia berkata sering orang-orang Indonesia ketakutan ketika diajak bicara oleh anaknya, mereka bingung, lalu memilih pergi. Sedangkan, pengalaman yang anaknya rasakan saat di luar negeri, orang-orang berusaha untuk meresponnya dengan berbagai cara, mulai dari membaca gerak bibir, hingga menuliskannya.

Hal lain yang sulit difabel dapatkan adalah pekerjaan. Mereka kerap kali dianggap tidak mampu melakukan pekerjaan. Padahal, orang-orang  difabel masih bisa melakukan banyak pekerjaan, dan kekurangan mereka bisa diimbang dengan hal lain. Selama orang-orang difabel ini memenuhi kriteria yang dibutuhkan para pencari kerja, sebaiknya mereka tetap bisa diterima dan memiliki kesempatan yang sama dengan orang-orang lainnya.

Para difabel juga ingin menjalankan hidupnya sebagaimana orang kebanyakan. Mereka juga tumbuh dan berkembang, mereka akan membiayai hidupnya sendiri dan menjalani hidupnya tanpa bantuan dari keluarga.

Maka dari itu mereka harus bisa mandiri dalam menjalankan hidupnya di segala aspek. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan peran banyak pihak. Dan kita sebagai masyarakat bisa membantu mereka dengan mengenal lebih dekat. Mencari tahu lebih lanjut bagaimana cara menghadapi mereka. Bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka, dan memperlakukan mereka dengan setara. Karena memang tidak ada yang lebih baik daripada yang lainnya.  

Namun beberpa waktu ini awareness mengenai difabel sudah semakin giat disuarakan, dan sudah mengantongi beberapa hasil nyata yang dapat terlihat. Beberapa waktu lalu, di sosial media sempat ramai diperbincangkan mengenai salah satu kedai Burger King di Bali mempekerjakan karyawan tuli di posisi kasir. Tak hanya itu, pada bagian depan kasir pun dilengkapi dengan panduan isyarat yang memberitahu pelanggan bagaimana cara untuk memesan.

Unggahan mengenai hal  tersebut di sosial media mendapatkan banyak respon positif dari berbagai macam orang. Hal ini menjadi salah satu titik cerah dan harapan bahwa sebenarnya orang-orang memang mau menerima hal ini dan tidak keberatan, asalkan ada penduan yang jelas sehingga kedua belah pihak saling mengerti.

Salah satu perusahaan transportasi Grab juga memperbolehkan pengemudi tuli untuk menjadi mitranya. Bahkan, Grab membuat video perkenalan salah satu pengemudi tulinya lengkap dengan instruksi bagaimana penumpang bisa memberi arahan pada pengemudinya. Video tersebut diunggah  di akun instagram official Grab. Dengan cara ini akan semakin banyak orang  yang mendapatkan informasi mengenai pengemudi tuli, dan akan menghilangkan kekhawatiran dan ketakutan bagi masyarakat.

Hal yang dilakukan oleh dua perusahaan ini menjadi harapan bagi para difabel dan kita semua bahwa kita menuju pada kehidupan yang lebih setara. Ini juga bisa meningkatkan rasa percya diri para difabel sehingga mereka tidak perlu merasa takut dan malu. Mereka juga bisa melakukan hal-hal yang mereka inginkan selama mereka mau mencoba dan tekun mengerjakannya.

Firyal Shabirah
Mahasiswa jurusan Jurnalistik, Fikom
Universitas Padjadjaran

Netizen : Firyal Shabirah
Firyal Shabirah

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar