Yamaha

Hati-hati, Janin Terpapar Polusi Berisiko Terkena Diabetes

  Jumat, 10 Januari 2020
Ilustrasi (pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Janin yang terpapar polusi udara di masa prenatal (masa sebelum lahir) berisiko berdampak pada tingginya kadar gula darah di masa kanak-kanak. Hal itu mengacu pada hasil studi di Meksiko yang menunjukkan polusi udara dapat menjadi faktor risiko diabetes.

Para peneliti berfokus pada partikel udara PM 2.5, yakni campuran partikel padat dan cair berdiameter lebih kecil dari 2,5 mikrometer yang dapat mencakup debu, kotoran, jelaga dan asap. Jenis polusi udara ini juga dikenal sebagai partikel halus yang telah dikaitkan dengan kerusakan paru-paru serta peningkatan risiko penyakit jantung, stroke dan diabetes.

AYO BACA : Ibu Hamil Harus Penuhi Asupan Nutrisi Mikro

Penelitian ini melibatkan 365 anak-anak di Meksiko yang terpapar PM 2.5 lebih dari ambang batas, saat mereka berada dalam kandungan. Ambang batas PM 2.5 yang ditetapkan di Mexico yaitu 12 mikrogram per meter kubik udara (mcg/m3) sedang 365 anak tersebut terpapar 22,4 mcg/m3.

Para peneliti juga mengukur kadar hemoglobin A1c (HbA1c) anak-anak, yang mencerminkan kadar gula darah rata-rata selama sekitar tiga bulan. Pembacaan HbA1c (hemoglobin yang berkaitan dengan glukosa) dinyatakan ada sinyal diabetes sebesar 6,5 persen.

AYO BACA : Pentingnya Interaksi Ayah dengan Janin, Ini Caranya

“Salah satu alasan mengapa polusi udara menyebabkan kadar gula darah tinggi, sebab polusi menyebabkan banyak peradangan. Dan kita tahu bahwa peradangan dapat mempengaruhi perkembangan dan fungsi organ seperti otak, pankreas, hati, otot dan lemak yang semuanya berpartisipasi dalam regulasi gula darah dengan cara yang memiliki efek jangka panjang," kata penulis studi Dr. Emily Oken dari Harvard T.H. Sekolah Kesehatan Masyarakat Chan di Boston.

"Atau, polusi udara dapat memengaruhi regulasi epigenetik yakni sinyal yang memberi tahu kepada tubuh gen mana yang harus dihidupkan dan dimatikan, atau protein mana yang harus dibuat," kata Oken dilansir Reuters, Jumat (10/1).

Kendati begitu, para peneliti tidak memiliki data tentang makanan yang ibu atau anak konsumsi, yang mungkin berdampak pada tingginya kadar gula darah. Peneliti juga kekurangan informasi tentang riwayat diabetes pribadi dan keluarga para ibu.

AYO BACA : Bukan Hanya Ibu, Ayah Juga Disarankan Membina Hubungan dengan Janin!

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan   Republika.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar