Yamaha

Gaya Hidup Minim Plastik, Strategi Meminimalisasi Sampah Penyebab Banjir

  Kamis, 09 Januari 2020   Netizen Afifah Rahmawati
ilustrasi. (Pexels/Marta Ortigosa)

Awal tahun 2020, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat disambut dengan hujan lebat yang turun sejak 31 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan 1 Januari kemarin merupakan yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir, yakni sebesar 377 mm/ hari. Curah hujan ekstrem tersebut mengakibatkan terjadinya banjir yang menimpa sejumlah wilayah di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat. Sebanyak 293 kelurahan dan 74 kecamatan di tiga provinsi tersebut ikut terdampak.

Banjir yang terjadi tidak hanya mengakibatkan kerugian materiil namun juga banyak korban jiwa, tercatat ada 67 nyawa melayang, dan 1 korban hilang. Selain itu, aktivitas sosial dan ekonomi menjadi terganggu, seperti jalan yang tidak dapat dilalui, maupun moda transportasi darat dan udara menjadi terhambat.

Pemerintah baik pusat maupun daerah telah bekerja keras menangani musibah  ini. Bahkan, Presiden Joko Widodo langsung turun tangan untuk meninjau lokasi terdampak banjir dan menginstruksikan agar keselamatan korban didahulukan. Presiden menilai bahwa sampah merupakan salah satu penyebab terjadinya banjir, selain juga karena adanya kerusakan ekologi.

Membahas mengenai sampah, khususnya di ibukota, memang sampai sekarang masih menjadi permasalahan utama pemerintah. Menurut data yang dipaparkan Ir. Suharti MA., PhD., selaku Deputi Gubernur Bidang Pengendalian Kependudukan dan Kepemukiman Pemprov DKI Jakarta, setidaknya ada 7.700 ton sampah yang dihasilkan per hari, dan sekitar 250 ton sampah yang diangkut dari badan air per harinya.

Angka yang cukup mencengangkan, sehingga tidak mengherankan jika dalam sekali kepungan hujan lebat, daerah Jakarta dan sekitarnya langsung terjadi banjir. Sampah yang telah menumpuk dalam tanah akan mengakibatkan air hujan sulit terserap, apalagi dengan semakin luasnya permukaan tanah yang tertutupi oleh aspal atau paving. Selain itu, tersumbatnya saluran air di sekitar pemukiman warga oleh sampah akan memperburuk situasi, yang mengakibatkan air tidak dapat mengalir sebagaimana mestinya sehingga terjadi banjir.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh banyak pihak untuk mengurangi sampah. Salah satu yang dapat dilakukan oleh diri kita sendiri, yaitu dengan menerapkan gaya hidup Zero  Waste. Gaya hidup zero waste, merupakan solusi alternatif menimalisir bencana banjir. Apa itu zero waste? Zero waste sebenarnya gaya hidup mengurangi sampah sekali pakai yang sebenarnya ada alternatifnya. Kampanye tentang gaya hidup zero waste akhir akhir ini berkembang pesat, karena manfaat nya begitu dirasakan.  Sampai saat ini, beberapa orang masih belum mengerti bagaimana memulai gaya hidup zero waste, yuk simak tips berikut :

1. Kesadaran akan lingkungan

Dimulai dari keingintahuan kamu, atau mendengar dan mambaca artikel di media. Bahaya dan dampak dari jumlah sampah yang makin hari semakin bertambah dan membahayakan.

2. Ikut komunitas atau follow akun media sosial

Dukungan dari orang-orang yang terus meneguhkan niat. Sebab, untuk mengubah sesuatu hal yang sudah terbiasa selama ini dilakukan, kita butuh penguatan dan dukungan.

3. Siapkan peralatan pengganti yang bisa dipakai berulang-ulang

Ada beberapa benda yang bisa kamu siapkan, seperti tas belanja, tumbler minum, sedotan bambu, tempat makan sendiri, dan lain sebagainya.

Sejujurnya, semua bisa kok melakukan ini. Gaya hidup zero waste tidak sulit. Kita semua peduli dengan lingkungan kita. Sejatinya, semoga dorongan dan niat baik kita, dimudahkan.

Mari melangkah dan menjadi agen perubahan. Banjir ini tanggung jawab siapa sih? Kalau bukan kita siapa lagi. Ya kan?

Penulis: Afifah Rahmawati

Pemerhati masalah sosial. Tinggal di Bandung

Netizen : Afifah Rahmawati

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar