Yamaha

Kuota Pasien Rehabilitasi di BNN Cimahi Turun Drastis

  Kamis, 09 Januari 2020   Tri Junari
Logo BNN.

CIMAHI, AYOBANDUNG.COM -- Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Cimahi menerangkan, kuota rehabilitasi pecandu narkoba pada tahun 2020 turun drastis dari 50 orang menjadi 20 orang saja.

Kepala Seksi Rehabilitasi BNN Kota Cimahi Samsul Anwar mengatakan, tahun ini pihaknya hanya menerima pasien rehabilitasi untuk dirawat di Klinik BNN Kota Cimahi.

Berbeda dengan tahun sebelumnya BNN juga membiayai rehabilitasi di luar Klinik BNN, seperti di RSUD Cibabat dan lain-lain.

AYO BACA : 2 Juta Pil PCC Disita dari Pabrik Narkoba di Tasikmalaya

"Untuk tahun ini hanya 20 pasien saja. Merehabilitasinya hanya di klinik (BNN) saja," terang Samsul saat ditemui di Kantor BNN Kota Cimahi, Kamis (8/1/2020).

Samsul menjelaskan, kebijakan pihaknya tak lagi membiayai rehab narkoba dan obat-obat terlarang dikarenakan BNN ingin mengembalikan fungsi rehab ke Kementerian Sosial (Kemenkes) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

"BNN tadinya memiliki kewenangan, tapi tidak penuh. Oleh pimpinan baru akhirnya tupoksi (tugas pokok dan fungsi) rehabilitasi dikembalikan ke dua kementerian itu," jelas Samsul.

AYO BACA : Wacana Pembubaran BNN Mencuat, Ini Tanggapan Istana

Samsul menerangkan, biaya bagi setiap pecandu narkoba untuk rehabilitasi tahun ini hanya Rp1 juta yang ditanggung BNN. Komponen perawatannya dimulai dari proses screening assesment, tes urine, pemeriksaan penyakit penyerta akibat penyalahgunaan narkoba.

"Kemudian untuk 12 kali pertemuan konseling, termasuk terapi kelompok dan terapi keluarga. Itu komponen yang dibiayai BNN untuk rehabilitasi," terang Samsul.

Berdasarkan data pasien rehabilitasi tahun lalu, lanjut Samsul, tercatat ada 50 pasien yang menjalani perawatan secara gratis. Sebanyak 44 orang atau 88% didominasi oleh laki-laki. Sementara perempuannya hanya 6 orang atau 12%.

Pecandu berasal dari berbagai kalangan. Rinciannya, 29 orang atau 58% pelajar atau mahasiswa, sementara 13 orang atau 26% swasta, dan 8 orang atau 16% pengangguran.

Penggunaan narkotika jenis obat-obatan terlarang itu kebanyakan menggunakan trihexipinidil dan tramadol. Obat-obatan terlarang itu biasa disebut pelajar dengan istilah 'CC'.

"Paling banyak kasusnya di kalangan pelajar itu trihexipinidil, heximer dan tramadol. Kalau mereka biasa nyebutnya 'CC'. Kalau dewasa lebih ke golongan benzo," jelas Samsul.

AYO BACA : BNN Jabar Gagalkan Peredaran 1 Kg Sabu

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar