Yamaha

[Lipkhas] Cerita Patung Bugil Citarum, Tanda Terhubungnya Bandung-Den Haag

  Rabu, 08 Januari 2020   Nur Khansa Ranawati
Monumen penanda terhubungnya komunikasi suara Bandung-Den Haag via Stasiun Radio Malabar. Monumen yang dibangun di sekitaran Jalan Citarum tersebut kini berdiri menjadi Masjid Istiqomah. (Istimewa)

REGOL, AYOBANDUNG.COM--Sebelum Masjid Istiqomah hadir di Kota Bandung, area di tempat masjid tersebut berdiri merupakan Lapangan Citarum atau dinamai Tjitaroemplein. Di lapangan itu, terdapat sebuah monumen tematik dengan bentuk yang cukup unik.

Monumen tersebut berbentuk sebuah bola besar dengan dua pria yang mengapit di sisi kanan dan kirinya. Kedua pria tersebut dibuat tanpa busana, dengan perawakan kekar khas patung-patung di era Romawi. Bagian bokongnya yang terbuka disebut cukup menyedot perhatian, sehingga monumen ini pun kerap disebut sebagai "monumen pantat bugil" atau blotebillen monument.

Bila ditelisik lebih saksama, kedua patung pria dalam monumen tersebut nampak tengah berkomunikasi dengan salah satunya dibuat berteriak dengan tangan di mulutnya. Sementara patung pria di seberangnya dibuat sedang menaruh tangan di telinga pertanda mendengarkan hal yang diteriakkan dari seberang.

Di tengah-tengahnya terdapat bola dengan untaian tulisan dalam Bahasa Belanda yang berbunyi :

AYO BACA : Penurunan Tanah di Bandung Akibat Pembangunan yang Serampangan!

Eenzam in trotsche natuur ligt zijn schepping op Malabar’s steilte: ‘t Woord harer machtige stem klink door tot de einden der aarde.

‘t Scheppend genie van De Groot verbonds trots d’oorlogsbezwaren, Nederland en Indie, zo ver uiteen, door den trillenden aether.

Bila diterjemahkan bebas, ungkapan puitis tersebut secara umum menggambarkan keberhasilan De Groot membuat "suara dapat terdengar ke ujung bumi".

Monumen Pencapaian

AYO BACA : Menelusuri Sejarah dan Keasrian Alam Gunung Puntang Bandung

De Groot tak lain adalah seorang ilmuwan elektro berkebangsaan Belanda yang membangun Stasiun Radio Malabar, yakni pemancar gelombang radio terbesar di Hindia Belanda yang dapat menyampaikan pesan suara dari Hindia Belanda ke negeri Belanda. Stasiun radio tersebut dibangun di Gunung Puntang, Kabupaten Bandung dan resmi beroperasi pada 1923.

Sebelumnya, De Groot yang juga banyak melakukan penelitian gelombang radio nirkabel di beberapa pulau di Hindia Belanda tersebut telah melakukan uji coba sejak 1917 untuk menghubungkan Bandung dengan Belanda lewat udara. Dengan menaruh bentangan kabel sepanjang 3 kilometer dari puncak Gunung Puntang ke Gunung Haruman dan merangkai berbagai peralatan radio lainnya di sebuah bangunan di lembah Gunung Puntang, hubungan suara akhirnya dapat terdengar jelas dari Bandung ke Den Haag pada 1923.

Setelah itu, sambungan suara antara Bandung dan Den Haag resmi menjadi layanan komersial pada 1929. Sambungan suara tersebut adalah yang perdana di Hindia Belanda sehingga menjadi salah satu tonggak bersejarah perkembangan teknologi telekomunikasi di Indonesia. Para warga Belanda pun sejak saat itu mulai dapat menghubungi sanak saudaranya di kampung halaman mereka via sambungan radio telepon.

Untuk mengenang hal monumental ini, arsitek kenamaan Belanda yang juga banyak membangun gedung bersejarah di Kota Bandung, Ir. C.P Wolff Schoemaker mendesain monumen "pantat bugil" tersebut. Selain itu, monumen ini juga didirikan untuk mengenang jasa De Groot yang meninggal dunia di tengah kejayaan teknologi sambungan teleponnya, yakni pada 1 Agustus 1927.

Pembangunan monumen tersebut merupakan permintaan dari Walikota Bandung saat itu, B.Coops. Dirinya juga mengabadikan nama De Groot menjadi nama salah satu jalan.

Namun, usia monumen ini tidak panjang. Kedatangan Jepang ke Hindia Belanda menjadikan monumen ini harus hancur. Berdasarkan keterangan Her Suganda dalam bukunya Jendela Bandung : Pengalaman Bersama Kompas, tentara Jepang menghancurkan monumen tersebut untuk meniadakan jejak-jejak kesuksesan kolonial Belanda di Hindia Belanda.

Meski sisa monumen tersebut saat ini tak lagi tersisa, namun puing-puing bersejarah bekas berdirinya Stasiun Radio Malabar masih dapat dikunjungi di area Gunung Puntang. Di sana terdapat sisa-sisa pondasi bangunan stasiun radio, kolam yang difungsikan sebagai pendingin peralatan radio, hingga gedung dan sarana olahraga tempat peristirahatan warga Belanda yang bekerja di stasiun radio tersebut.

AYO BACA : Pasir Junghuhn, Wilayah Kekuasaan Sang Ahli Botani Dunia

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar