Yamaha

[Lipkhas] Menelusuri Sejarah dan Keasrian Alam Gunung Puntang Bandung

  Rabu, 08 Januari 2020   Nur Khansa Ranawati
Pemandangan alam Gunung Puntang. (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

CIMAUNG, AYOBANDUNG.COM -- Tak hanya di kawasan Bandung Utara, tempat yang asri dan sejuk untuk berwisata juga tersebar di sejumlah wilayah lain di Bandung Raya. Salah satunya ada di selatan Bandung, tepatnya Kabupaten Bandung.

Terletak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Bandung, area Gunung Puntang kerap menjadi salah satu tempat favorit warga untuk menghabiskan liburan atau sekadar berakhir pekan. Selain menawarkan suasana yang sejuk dan asri dengan rindang pepohonan, Gunung Puntang juga menyimpan sejumlah pesona lain yang tak hanya indah, namun juga sarat sejarah.

Ayobandung.com berkesempatan mengunjungi komplek wisata Gunung Puntang pada Jumat (3/1/2020) hingga Sabtu (4/1/2020). Meski cuaca pada Januari tergolong ekstrem, namun pada penghujung libur tahun baru tersebut, cuaca di area Kabupaten Bandung terbilang cerah. Sehingga, perjalanan menggunakan sepeda motor pun berlangsung lancar.

Cukup mudah menjangkau Gunung Puntang menggunakan sepeda motor. Dari bilangan Buah Batu, Ayobandung.com berkendara selama kurang lebih 1 jam 20 menit dengan menempuh rute Terusan Buah Batu-Bojongsoang-Dayeuhkolot-Jalan Raya Banjaran-Ciapus-Gunung Puntang.

Sejumlah kendaraan umum pun tersedia untuk menyusuri jalan ini dengan estimasi waktu tempuh yang lebih panjang.

Medan yang dilalui saat memasuki Ciapus menuju Gunung Puntang cukup mudah dilalui, aspal terbilang mulus dengan pemandangan hamparan kebun kopi diselingi kabut sepanjang jalan. Namun, jalanan rusak berbatu mulai ditemui selepas melewati gerbang masuk Gunung Puntang.

Kemudahan Berkemah

20200103-162048

Gerbang masuk kawasan perkemahan Gunung Puntang. (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

Untuk memasuki kawasan ini, dua orang dan sebuah sepeda motor dikenai tarif Rp45.000. Tarif tersebut berlaku bagi Anda yang akan sekedar berjalan-jalan santai selama satu hari maupun menginap di bumi perkemahan alias kemping.

Pada Jumat sore menjelang malam tersebut, di sejumlah titik area perkemahan telah berdiri tenda-tenda warga. Sebagian nampak datang beramai-ramai bersama keluarga, sementara sebagian lain nampak tengah mengikuti kegiatan sekolah.

Salah satu hal yang menjadikan tempat ini ramai dijadikan tempat berkemah adalah kemudahan aksesnya terhadap makanan dan kamar mandi. Jangan bayangkan seperti berkemah di hutan belantara, di sini Anda dapat menjangkau deretan warung dan WC umum yang mayoritas dapat dikunjungi 24 jam.

Meski demikian, hal tersebut tidak serta-merta membuat area perkemahan tersebut kehilangan keasriannya. Deretan pohon pinus, cuaca sejuk, kabut, pemandangan alam dari ketinggian, deru suara air sungai hingga deretan reruntuhan bangunan lawas jaman Belanda dapat Anda nikmati ketika bermalam di sini.

ayobdg-berkegiatan-di-alam-kavin-faza-5

Berkemah di Gunung Puntang. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Salah satu petugas pengelola wisata Gunung Puntang, Didin Wahyudin mengatakan, area seluas 22,61 hektar ini mulai dikelola menjadi bumi perkemahan pada sekitar 1982 hingga 1985 oleh Perhutani. Tak langsung ramai, pengembangan kawasan wisata secara bertahap pun terus dilakukan hingga saat ini.

"Dari sejak saat itu hingga sekarang sudah ada penambahan fasilitas seperti akses jalan dua arah, MCK, mushola, kios-kios dagang dan bangunan pesanggrahan," ungkapnya.

AYO BACA : Asam Pahit Kopi Puntang, Seasam Pahit Nasib Petaninya

Dia mengatakan, untuk berkemah, pengunjung dapat membawa peralatan kemah dan obat-obatan pribadi yang dibutuhkan. Adapun cuaca area wisata pada malam dan dini hari pada saat Ayobandung.com berkunjung mencapai 16 derajat celcius, dengan intensitas angin yang cukup kencang di malam dan pagi hari.  Tidak ada waktu khusus yang disarankan untuk berkunjung, dan pos pintu masuk pun buka selama 24 jam.

"Terkecuali pendakian ke puncak Gunung Puntang. Sekarang kita atur waktunya, karena di musim yang curah hujannya tinggi pendakian terlalu beresiko. Mudah-mudahan Februari nanti sudah dapat dibuka," ungkapnya.

Dia mengatakan, penutupan sementara jalur pendakian Gunung Puntang tersebut ditutup selain untuk menjaga keamanan pendaki, tetapi juga untuk menjaga flora dan fauna yang terdapat di dalamnya.

"Jangan sampai terlalu rusak, ada waktunya untuk rehat dulu," jelasnya.

Wisata Sejarah

Hal yang memikat dari Gunung Puntang, selain keasrian alamnya adalah situsnya yang sarat akan sejarah. Anda dapat langsung menyaksikannya begitu melangkahkan kaki ke area bumi perkemahan, dimana sisa-sisa pondasi bangunan tua yang tersusun dari batu dapat ditemui di berbagai titik.

Bahkan, Anda akan menemukan sisa reruntuhan bangunan yang lebih besar serta bekas area kolam bila berjalan menyusuri area perkemahan ini ke arah "Kolam Cinta".

Setelah melewati jembatan gantung, hamparan luas rumput dan ilalang yang tumbuh mengitari sisa reruntuhan tersebut akan menyambut Anda. Pemandangan megah dua puncak Gunung, yakni Puntang dan Haruman pun dapat terlihat dari area Kolam Cinta tersebut.

20200104-114810

Kawasan Kolam Cinta di Gunung Puntang. (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

Sebutan Kolam Cinta tersebut populer karena bentuknya yang menyerupai simbol "love" dengan sudut menyempit di salah satu sisi, dan dua sisi lengkung di bagian depannya. Bukan karena alasan romantik, bentuk kolam yang merupakan bagian dari sejarah besar telekomunikasi di Indonesia tersebut memiliki arti filosofi-nya tersendiri.

"Sudut kolam yang menghadap pengunjung ketika datang ke area itu sebenarnya menunjuk ke arah negara Belanda," ungkap pegiat sejarah dari Komunitas Aleut, Hevi Fauzan.

Kenapa Belanda? Usut punya usut, reruntuhan yang terdapat di seluruh komplek wisata Gunung Puntang adalah bagian dari "kota kecil" tempat tinggal dan bekerjanya para pegawai Stasiun Radio Malabar; stasiun penghantar pesan telegraf nirkabel (yang kemudian berubah menjadi pesan suara) dari Hindia Belanda ke Belanda sebagai sarana komunikasi dua negara.

Stasiun tersebut didirikan oleh ahli teknik elektro Dr. Ir. C.J. de Groot dan diresmikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1923. Pada tahun-tahun sebelumnya, de Groot telah melakukan berbagai penelitian hingga memutuskan untuk membangun Stasiun Radio Malabar di Puntang pada 1917.

Area gunung ini dipilih karena dianggap paling representatif untuk dijadikan stasiun pengiriman pesan telegraf dan suara, dimana terdapat kabel membentang sepanjang 3 kilometer dari puncak Gunung Puntang ke puncak Gunung Haruman sebagai sarana penghantar gelombang. Namun, area kota kecil dan area kantor Stasiun Radio Malabar dihancurkan pada 1946 dalam momentum Bandung Lautan Api.

Hingga saat ini, beberapa peninggalan Stasiun Radio Malabar yang dapat Anda lihat di Gunung Puntang adalah reruntuhan bangunan kantor radio yang berdiri di depan Kolam Cinta, area Kolam Cinta, tangga dan penampungan air di sebelah Kolam Cinta, lapang tenis para pegawai yang saat ini menjadi area perkemahan, hingga sisa pondasi bangunan di sepanjang area perkemahan.

"Ada juga bekas penampungan air di atas Gunung Puntang dan Gunung Haruman, sayangnya sudah pada rusak juga sih. Selama ini tidak ada konstruksi bangunan bersejarah yang kita rubah apalagi hancurkan," ungkap Didin.

Selain bumi perkemahan dan reruntuhan bersejarah, Anda juga dapat mengunjungi titik wisata lainnya seperti Sungai Cigeureuh, penangkaran Owa Jawa di Gunung Haruman, hingga Eduwisata Kopi.

AYO BACA : Owa Jawa Kembali Pulang ke Puntang

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar