Yamaha

Ditengok Hengki Kurniawan, Emak-Emak Korban Banjir Bandang Ngamuk

  Kamis, 02 Januari 2020   Tri Junari
Enok (70), emak-emak korban bencana banjir bandang di underpass Padalarang, ngamuk dan mengadu kepada Wakil Bupati Bandung Barat Hengki Kurniawan. Ia mengaku bantuan dari pemerintah daerah terlambat datang dan salah sasaran. (Ayobandung.com/Tri Junari)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- Enok (70), emak-emak korban bencana banjir bandang di underpass Padalarang, ngamuk dan mengadu kepada Wakil Bupati Bandung Barat Hengki Kurniawan. Ia mengaku bantuan dari pemerintah daerah terlambat datang dan salah sasaran.

Kejadian itu terjadi saat Hengki bersama perwakilan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) meninjau korban bencana di Kampung Lebaksari RT 01 RW 02, Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis (2/1/2019) sore.

Enok bersama warga lainnya mengadu lambatnya bantuan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga warga terdampak. Bantuan air bersih baru didapat warga dua hari setelah banjir bandang menerjang.

"Pak Hengki, saya sudah berapa kali bilang sama petugas yang datang kesini kalau kami butuh air bersih karena rumah kotor bahkan untuk kencing saja pakai air galon," ucap dia kepada Hengki.

Sehari menunggu tak kunjung datang Enok kesal. Dia pun nekat menggeruduk pusat pemerintahan KBB dan meminta bantuan air bersih segera dikirim.

AYO BACA : Soal Banjir KBB, Wagub Uu Minta Tak Saling Menyalahkan

Enok mengaku tak habis pikir bantuan bisa telat datang padahal lokasi bencana hanya berjarak satu kilometer dari pusat pemerintahan.

"Saya kasihan sama warga lain juga, makanya saya datang ke pemkab tapi bilangnya nanti dikirim, tapi enggak datang-datang,"katanya.

Enok akhirnya bisa mendapat bantuan air bersih setelah mobil tangki air milik TNI datang ke lokasi bencana dua hari pascabanjir bandang menerjang.

"Ada pejabat datang kesini cuma foto-foto bukannya lihat kondisi kami, keinginan kami itu ya temui kami tanya kebutuhannya apa atau beri dukungan moral lah," ujarnya.

Korban lainnya Tatang Yanuar (42) mengadu hal sama. Dia menilai pemerintah daerah kurang tanggap dalam menginventarisir kebutuhan darurat korban bencana. Air bersih baru didapatnya dua hari setelah kejadian. Itupun datang dari TNI.

AYO BACA : Kunjungi Korban Banjir Padalarang, Wagub Uu Tanggapi Tudingan KCIC Jadi Penyebab

"Kalau bersihkan rumah bisa dari air selokan, tapi untuk mandi atau buang air kecil kan enggak ada," jelasnya.

Pascakejadian, kata Tatang, memang kebutuhan darurat warga terdampak itu air bersih. Saat itu, sumber air bersih tidak ada sama sekali sedangkan untuk logistik warga masih tersedia.

"Ya kita kan inginnya rumah segera bersih kalau makan kita kan di kota masih deket lah ke pasar," ujarnya.

Wakil Bupati Hengki pun tampak sabar mendengarkan semua keluhan dan aduan warga. Dirinya memaklumi keadaan ini karena saat bencana banjir bandang datang petugas juga sedikit pontang-panting melakukan penanganan di 10 titik kejadian bencana lainnya.

"Tentu pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin agar kebutuhan korban segera tertangani, namun saat itu memang petugas juga sedikit kerepotan dengan banyaknya kejadian. Mobil tangki air juga hilir mudik menjangkau berbagai titik," katanya.

Meski demikian, Hengky berjanji akan melakukan evaluasi kesiapsiagaan penanganan bencana di jajaran pemerintah daerah agar hal serupa tidak kembali terjadi.

"Pemerintah sudah maksimal dan ini akan menjadi bahan evaluasi kedepan," ujarnya.

AYO BACA : Banjir Awal Tahun dan Cara Pandang Otonomi Daerah

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar