Yamaha

Pecandu Kopi

  Rabu, 01 Januari 2020   Netizen Atep Kurnia*
Pierre-Joseph Pelletier (1788-1842), penemu istilah cafeine. Sumber: Wikipedia.

AYOBANDUNG.COM -- Pierre-Joseph Pelletier (1788-1842) adalah penemu istilah caféine atau kafeina. Ahli kimia dan obat-obatan asal Prancis ini mendedahkan istilah tersebut dalam buku Dictionnaire de Médecine (1822). Singkatnya, ia menyebutkan bahwa kafeina yang merupakan zat kimia terkristalisasi dalam kopi pertama-tama ditemukan oleh ahli kimia yang juga berasal dari Prancis, Pierre Jean Robiquet (1780-1840) pada 1821.

Selanjutnya Pelletier menyatakan, “Selama waktu yang bersamaan–saat mereka mencari kinine dalam kopi karena kopi dianggap oleh beberapa dokter sebagai obat yang dapat mengurangi demam dan karena kopi termasuk keluarga yang sama dengan pohon kina–saat itu, Tuan Pelletier dan Caventou mendapatkan kafeina; tetapi karena penelitiannya mempunyai maksud berbeda dan karena penelitiannya tidak selesai, mereka meninggalkan prioritas subjek ini kepada Tuan Robiquet. Kami tidak tahu mengapa Tuan Robiquet tidak menerbitkan analisis kopi yang dibacakannya pada Perhimpunan Farmasi. Publikasinya tentu akan menyebabkan kita lebih memahami kafeina dan memberikan gagasan yang akurat mengenai komposisi kopi ...”

Memang, kafeina bukan hanya diperoleh dari kopi. Konon, ada sekitar 60 tanaman yang mengandung kafeina. Selain dari biji kopi, antara lain, zat kimia sebagai pemicu sistem saraf pusat (central nervous system, CNS) dari kelas methylxanthine ini bisa diperoleh dari daun teh, kacang kola, dan sebagainya. Menurut keterangan Organisasi Kopi Dunia (2009), kandungan kafeina beragam sesuai dengan jenis biji kopi dan metode persiapan penggunaannya. Umumnya, ada pada kisaran 80-100 miligram untuk 30 mililiter kopi espreso arabika, 100-125 miligrams untuk secangkir atau 120 mililiter kopi tetes.

Pengetahuan penting lainnya, menurut Organisasi Kopi Dunia (2009), Coffee and Caffeine FAQ (2009), dan All About Coffee: Caffeine Level (2009), kopi arabika hanya memiliki setengahnya kandungan kafeina yang terdapat pada kopi robusta. Kemudian, kopi yang disangrai hitam (dark-roast) mengandung kafeina yang sangat sedikit dibanding kopi yang disangrai agak terang, karena proses penyangraian mengurangi kandungan kafeina dari biji kopi oleh jumlah kecil.

Karena kandungannya sebagai stimulan bagi saraf tersebut, dari dulu, baik kopi maupun kafeina banyak dicurigai, bahkan dilarang sama sekali. Dari berbagai pustaka yang disertakan pada lema caffeine dalam situs en.wikipedia.org, sebagaimana yang sejak awal tulisan saya cuplik dan sarikan informasinya, pada abad ke-16, di Mekah dan Kekaisaran Utsmani melarang sebagian kelas kopi. Raja Charles II dari Inggris mencoba melarang kopi pada 1676, Frederick II dari Prusia melarangnya pada 1777, sementara di Swedia antara 1756 dan 1823. Itu kopi. Selanjutnya giliran kafeina. Pemerintah Amerika Serikat, pada 1911,  merampas 40 barel dan 20 keg sirup Coca-Cola di Chattanooga, Tennessee, karena kafeina dalam minuman tersebut dianggap “berbahaya bagi kesehatan”.

Nah, kemudian soal kecanduan karena meminum kopi. Menurut berbagai penelitian terkait hal tersebut, konon, konsumsi kafeina yang menjadi kecanduan atau ketagihan tidak terbukti, sehingga kafeina secara umum tidak dianggap sebagai penyebab kecanduan (addictive). Malah menurut Zevin S dan Benowitz NL dalam makalahnya “Drug interactions with tobacco smoking: An update” (1999), merokok tembakau meningkatkan pembersihan kafeina sebanyak 56%. Namun, entah bagaimana lagi menurut penelitian dan kajian terbaru.

AYO BACA : Warna Kopi

Kenyataan-kenyataan di atas memang menarik, apalagi bila dikaitkan dengan anggapan yang berkembang pada ranah budaya Sunda. Apakah kopi juga menyebabkan kecanduan bagi orang yang sering meminumnya? Untuk menjawabnya, sebagaimana biasa, saya melacak berbagai kata-kata berbahasa Sunda yang mengarah ke arah sana. Paling tidak, saya mendapatkan tiga ungkapan, yaitu weureu kopi, nyandu kana kopi dan geus nahi kana kopi.

Mengenai weureu kopi sesuai dengan pengertian weureu yang diterangkan oleh Jonathan Rigg (1862) dan Hardjadibrata (2003) sebagai “intoxicated, unwell, sick, queasy (because of toxic matter in the food or excessive eating or drinking, also used in reference to seasickness)” (keracunan, tidak sehat, sakit, mual (karena zat racun di dalam makanan atau berlebihan makan dan minum, juga merujuk kepada mabuk laut)”. Dengan kata lain, weureu kopi sama dengan mabuk kopi, baik karena kandungan zat kimia yang ada di dalamnya (kafeina) maupun terlalu banyak meminumnya.

Foto-03

Istilah mabok kopi ada dalam buku De Djoeroe Basa Betawi (1868).

Sebagai perbandingannya istilah mabok kopi dalam buku De Djoeroe Basa Betawi (1868), yang berisi senarai bahasa Melayu Betawi dengan padanannya dalam bahasa Belanda. Kata mabok kopi diberi padanan sebagai “Dronken, Bedwelmd, Zeeziek zijn. Door de koffij bevangen”. Hal ini dapat dimengerti mengingat sebelum diperkenalkan dan disebarkan ke Tatar Priangan, kopi mulai ditanam sebagai tanaman hias di sekitar Batavia. Apalagi kita ingat bahwa Batavia adalah pusat bisnis, budaya dan mode bagi kalangan Eropa seantero Hindia Belanda. Sehingga bisa jadi, gaya hidup minum kopi serta efek samping yang ditimbulkannya mula-mula ada di Batavia dan menyebar ke daerah-daerah sekitarnya (ommelanden) dan Priangan yang dekat dengan Batavia. Dan pada gilirannya melahirkan istilah nyandu kana kopi dan geus nahi kana kopi.

Selanjutnya, kata nyandu kana kopi mula-mula saya temukan dalam De Indische Gids (1891). Di dalam media tersebut, kemunculan ungkapan tersebut hanya sebagai catatan kaki dari uraian di atasnya. Catatan kaki yang dimaksud adalah sebagai berikut, “In het Cheribonsche heeft men, bij gebrek aan een specifiek woord voor ons „verslaafd“, de eigenaardige uitdrukking „njandoe kana kopi”; d.i.: belust op koffie als een schuiver op opium”. Mungkin, maksudnya bukan bahasa Cirebon, tetapi di dalam bahasa Sunda, istilah “verslaafd” atau kecanduan atau ketagihan muncul dalam ungkapan aneh “nyandu kana kopi”, karena mengibaratkan kebiasaan minum kopi bisa menyebabkan ketagihan seperti halnya menghisap candu.

Foto-02

Buku James R. Rush yang membahas mengenai candu di Jawa, termasuk Priangan. Di daerah ini, sejak 1824, madat merupakan kegiatan terlarang.

AYO BACA : Sisindiran Kopi

Di balik lahirnya ungkapan nyandu kana kopi tentu berkaitan dengan kehadiran candu di Priangan khususnya atau Tatar Sunda umumnya. Menurut  James R. Rush dalam Opium to Java: Revenue Farming and Chinese Enterprise in Colonial Indonesia 1860-1910 (2007), di bagian barat Pulau Jawa, yakni Banten dan Priangan, perdagangan candu terlarang. Orang Sunda tidak tertarik menghisap madat, karena adat budaya dan ketaatan terhadap aturan Islam yang melarangnya. Bila pun ada yang menghisapnya, itu melalui pasar gelap, dan berlangsung di kalangan orang Tionghoa dan Jawa. Secara khusus, temuan Rush mengenai opium di Tatar Sunda dapat diikuti sebagai berikut:

“Daerah terlarang yang paling terkucil adalah Priangan, yang secara resmi ditutup sejak 1824. Opium tidak menarik bagi orang Sunda, pribumi Priangan; tetapi sejak abad ke-19, Priangan menjadi tempat tinggal bagi ribuan orang Tionghoa dan garnisun serdadu Jawa serta keluarganya. Permintaan untuk madat di antara kelompok tersebut selama bertahun-tahun menjadi pendorong adanya pasar gelap, yang sebagian besar disediakan dari kebun opium di Cirebon ... Pada tahun 1900, Residen Priangan C. W. Kist memperkirakan sedikitnya ada 3.000 penikmat candu dari kalangan Tionghoa, termasuk 350 orang yang kecanduan, dan sebagian kecil perokoknya adalah orang Jawa”.

Dari pendapat dan temuan James, sebenarnya kehadiran candu di Tatar Sunda memang sudah lama. Sehingga tidak heran, bila di dalam kamus Sunda-Inggris yang disusun Jonathan Rigg antara 1843 hingga 1850-an dan diterbitkan pada 1862 banyak ditemukan kata-kata Sunda yang berkaitan dengan madat, misalnya chandu, katagian, madat, mingsiri, nyeret, padudan, siram, teke, dan tiban. Ini menjadi latar belakang mengapa kemudian ada ungkapan nyandu kana kopi. Ini berkaitan dengan kebiasaan orang Sunda meminum kopi, sebagai efek samping dari keterpaksaan menanam kopi karena tuntutan Preangerstelsel (1705-1830) dan Cultuurstelsel (1830 hingga awal abad ke-20), serta perkenalan dengan candu sebelum 1824 sebagaimana yang dinyatakan James. Keduanya melahirkan nyandu kana kopi yang merujuk kepada ketergantungan orang Sunda pada minuman kopi, dengan istilah yang berasal dari orang yang mengalami ketergantungan kepada candu.

Demikian pula dengan geus nahi kana kopi. Ungkapan ini merupakan gabungan dari geus nahi dan kopi. Kuncinya tentu saja kata geus nahi itu sendiri. Kata nahi menurut R. Satjadibrata (Kamus Basa Sunda, 1948) berasal dari kata tahi yang berarti “kokotor nu hésé dibersihanana, pageuh” (kotoran yang sukar dibersihkan, erat). Sementara R.R. Hardjibrata (Sundanese-English Dictionary, 2003) yang mengambil gagasan dari F.S. Eringa (1984) menyatakan tiga artinya, yaitu 1 vi.Ar. to forbid (melarang); 2 vi. addicted, become a habit, geus nahi kana kopi became addicted to (drinking) coffee (kecanduan, menjadi kebiasaan, contohnya geus nahi kana kopi, yang berarti menjadi kecanduan minum kopi); dan 3 vi. hard to get rid of, kokotor geus nahi stain difficult to get rid of, stained dirt (sukar untuk dihilangkan, contohnya kokotor geus nahi, yang berarti noda yang sukar dibersihkan, kotoran bernoda).

Dari kedua pendapat tersebut, saya cenderung lebih memilih sukar untuk dihilangkan, baik dalam konteks sebagai kecanduan maupun sebagai kotoran. Hal ini bila dilihat dari penggunaan kata geus nahi memang berterima. Contohnya, pada buku Wawatjan Pamiara Banda (1917) ada kalimat begini, “ ... Lamoen kasakit geus ripoeh, hese pisan tjageurna, sabab kasakit geus nahi ...” ( ... Bila sakit sudah payah, sangat sulit untuk sembuh, karena penyakitnya sudah tidak bisa dihilangkan ...). Dalam hal ini, ungkapan “geus nahi kana kopi” bisa berarti keduanya, yaitu baik menjadi kecanduan terhadap kopi layaknya kebiasaan menghisap madat sehingga sukar untuk dihilangkan.

Betapapun, kecenderungan orang Sunda untuk minum kopi sehingga menimbulkan ketergantungan sudah pasti karena adanya zat stimulan kafeina yang ditemukan Robiquet pada 1821. Bagi orang-orang yang “dipaksa” bekerja keras seperti orang Priangan antara 1705 hingga 1900-an, kafeina yang terkandung dalam kopi jelas dibutuhkan untuk menimbulkan rangsangan pada saraf pusat agar tetap dapat berpikir jernih serta penjagaan diri, konsentrasi dalam menghadapi permasalahan, dan mengurangi kepenatan. Bahkan mungkin melenakan layaknya menghisap candu sehingga kemudian muncullah ungkapan weureu kopi, nyandu kana kopi dan geus nahi kana kopi.

*Atep Kurnia, Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYO BACA : Motif Kopi Batik Priangan

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar