Yamaha

Menyusuri Tempat 'Percintaan Helen dan Sukanta' Bersama Komunitas Aleut

  Sabtu, 28 Desember 2019   Faqih Rohman Syafei
Para peserta menyusuri sejumlah tempat bersejarah dalam novel Helen dan Sukanta karya Piqi Baiq, Sabtu (28/12/2019).(Ayobandung com/Faqih Rohman)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Komunitas Aleut mengajak sekitar 50 orang untuk menyusuri sejumlah tempat bersejarah dalam novel Helen dan Sukanta karya Piqi Baiq, Sabtu (28/12/2019).

Helen dan Sukata, merupakan novel berlatar kehidupan tahun 1900-an ketika Indonesia masih bernama Hindia - Belanda. Diceritakan Helen merupakan perempuan Eropa yang lahir dan besar di Ciwidey. Sedangkan Sukanta adalah orang pribumi.

Singkat cerita, Helen jatuh cinta kepada Sukanta. Namun karena latar belakang Helen menjadikan cintanya kepada Sukanta dianggap tidak biasa, lantaran Sukanta adalah orang pribumi yang derajatnya di bawah orang Eropa.

Pada perjalanan ngaleut kali ini dimulai dari Alun-alun Kota Bandung hingga ke Jalan Ambon. Para peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai remaja hingga dewasa.

Seperti Alun-alun Kota Bandung yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, dan keagamaan orang pribumi pada masa Hindia - Belanda. Lalu, kawasan Braga yang dikenal sebagai kawasan pertokoan dan hiburan untuk orang-orang Eropa saat itu.

Penggagas acara, Ridwan Hutagalung mengatakan para peserta diajak untuk menyusuri sejumlah tempat bersejarah di Kota Bandung. Menurutnya, tempat ini juga berkaitan dengan kisah Helen dan Sukanta.

Tempat-tempat tersebut dipilih dengan berbagai pertimbangan matang. Sehingga memberikan interpretasi kepada setiap peserta yang ikut dalam kegiatan ini.

"Kawasan yang relatif tua di Kota Bandung dan mewakili novel Helen dan Sukanta karena itu pemilihan ini hasil bongkar pasang. Mulai dari Alun-alun, Societeit Concordia, Savoy Homan, ruas Jalan Braga, Viaduct, BMS, danĀ  kawasan interniran," ujarnya, Sabtu (28/12/2019).

Sebelum membuat acara ini, pihaknya sudah berdiskusi dengan sang penulis untuk membagi sejumlah tempat yang ada dalam novel. Sehingga dapat dijelaskan secara rinci.

"Ada empat pertemuan Aleut dengan Pidi Baiq terkait konsep ini. Semua data tempat kami list, dan bagi jadi dua yakni di Bandung dan di luar Bandung, ada 7 - 8 lokasi yang dijelaskan secara rinci," katanya.

Sementara itu, penulis Helen dan Sukanta, Pidi Baiq mengatakan dia bertemu dengan Helen dalam kehidupan nyata pada tahun 2000-an di sebuah restoran di Belanda. Dia mengaku tertarik dengan kisah cinta antara Helen dan Sukanta, sehingga dituangkan menjadi sebuah novel.

Pada proses pembuatannya, ayah panggilan akrabnya mengaku sempat mendapatkan kendala terkait data-data pendukung. Bahkan untuk melengkapi datanya agar lebih akurat, dia mengontak sejumlah temannya di Belanda.

"Saya nyari data terus ganggur, ah nulis novel remaja (Dilan) karena datanya Helen dan Sukanta belum lengkap. Paling susah pas "bridgingnya" gimana untuk nyambunginnya, dengan memanfaatkan sejarah orang yang sezaman dengan Helen untuk dukung ini, pasti untuk hal umum pasti sama," katanya.

Selain tertarik dari segi cerita, ayah menjelaskan motivasi menulis novel ini karena ini adalah pekerjaan rumah yang sudah lama ditundanya. Setelah datanya dinilai cukup, proses menulisnya sekitar hanya berlangsung sekitar empat bulan lamanya.

"Saya sikapi ini "PR", saya untuk tuntaskan dan karena saya tertarik dengan cerita Helen. Jadi terdorong untuk mengerjakannya," tuturnya.

Coerita Helen dan Sukanta akan dibuat menjadi sebuah film layar lebar dalam waktu dekat. Untuk itu, dia juga akan menggandeng Komunitas Aleut dalam proses pembuatannya agar jiwa zamannya dapat dirasakan oleh penonton.

"Saya ingin orang Belanda asli yang jadi Helennya, tetapi jadi Sukantanya akan ada open casting. Aleut pasti akan memberikan kekuatan dan latar belakang yang mereka miliki kapasitas untuk itu (sejarah)," katanya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar