Yamaha

Motif Kopi Batik Priangan

  Rabu, 25 Desember 2019   Netizen Atep Kurnia, Peminat literasi dan budaya Sunda
Motif batik kopi pecah garutan. (Sumber: Bukalapak)

Kian jauh menelusuri pengaruh budidaya tanaman dan konsumsi kopi terhadap adat kebiasaan urang Sunda, kian banyak pula sisi-sisi yang bermunculan dan menarik untuk dikaji. Kali ini yang saya temukan adalah kaitan antara budidaya kopi dengan kehadiran motif-motif atau pola-pola batik di Priangan.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, mula-mula yang saya temukan adalah istilah kopi pecah pada Boekoe Batjaan Sĕsĕla pikeun Moerid-Moerid Pangkat ka Doewa (1907). Dalam buku susunan Mas Among Pradja ada kutipan mengenai motif kopi pecah untuk ikat kepala (iket). Kutipannya sebagai berikut, “Iket koering diseboetna batik daoen peuteuj; djaba ti ijeu, koering geus make iket: gambir saketi, kopi petjah, limar djeung poeger” (Ikat kepalaku disebut batik daun peuteuy; selain itu, aku pernah menggunakan ikat kepala bercorak: gambir saketi, kopi pecah, limar dan puger). Di dalam kutipan di atas paling tidak ada lima motif batik yang dikenal di Tatar Sunda, yakni daun peuteuy, gambir saketi, kopi pecah, limar dan puger.

Foto-01

Buku Merak Ngibing (2010) membahas batik Priangan dan menyertakan motif kopi pecah dari Ciamis di dalamnya.

Pustaka kedua yang saya temukan dan baca terkait istilah kopi pecah adalah buku dwibahasa, Merak Ngibing: Warna dan Motif Batik Priangan/The Dancing Peacock: Colours & Motifs of Priangan Batik (2010) yang ditulis oleh Didit Pradito, Herman Jusuf dan Saftiyaningsih Ken Atik. Dalam halaman 23 disajikan 12 motif batik ciamis, yaitu parang sontak, rereng seno, rereng sintung ageung, kopi pecah, lepaan, rereng parang rusak, rereng adumanis, kumeli, rereng parang ali, rereng useup, rereng jenggot, dan rereng peuteuy papangkah. Dari daftar tersebut, nampak motif kopi pecah termasuk salah satu jenis motif batik yang ada di dalam khazanah perbatikan Ciamis.

Benarkah demikian? Dari temuan tersebut, saya jadi kian penasaran. Oleh karena itu, sebagaimana biasanya, saya melakukan pencarian berbagai pustaka terkait kopi dan batik. Untuk informasi sementara terbukti bahwa istilah kopi pecah ternyata bukan hanya dikenal di Priangan, melainkan juga dikenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah, sebagaimana yang disebutkan dalam Majalah Adiluhung edisi 7 (2015), motif kopi pecah dikenal dalam khazanah batik dari Kebumen. Kemudian di Jawa Timur, sebagaimana nampak dari Banyuwangi Batik Festival 2017 dikenal pula istilah kopi pecah.

Foto-04

Motif batik kawung kopi. (Indonesianbatik.id)

AYO BACA : Batik Unik Ramah Lingkungan dari Buah Nipah

Selain motif kopi pecah, motif batik lainnya yang terpengaruh budidaya kopi sekaligus diakui keberadaannya baik di Tanah Jawa maupun Tatar Sunda adalah motif kawung kopi atau kawung sari, yang semula bermotifkan batik kawung. Atau bisa jadi istilah kawung kopi sama dengan kopi pecah. Batik kawung adalah motif batik berupa bulatan seperti buah kawung (aren) yang ditata rapi secara geometris.

Sementara motif kawung kopi berbentuk bulatan lonjong yang diberi bentuk garis yang membelah menjadi dua bagian seolah-olah menyerupai bentuk buah kopi pecah. Menurut Saftiyaningsih Ken Atik, ‎Herman Jusuf, ‎dan Didit Pradito dalam Batik Tatar Sunda (2008), “motif kopi pecah, variasi lain dari motif kawung”. Sebelumnya, dalam buku Adat Istiadat Daerah Jawa Barat (1979) disebut-sebut jenis batik yang dikenal di Jawa Barat, yakni antara lain, “Jalaprang, rereng, batik kawung picis, kopi pecah, parang sintung, batik panca warna, ombak banyu, sidomukti, dan lain sebagainya.

Istilah kopi pecah juga saya temukan dalam Education and Culture (1957), Indonesische Textilien (1984) susunan Brigitte Khan Majlis, sementara dalam buku The Book of Batik (2004) selain istilah tersebut, Fiona Kerlogue dan ‎Rudolf G. Smend menyertakan stilah kembang kopi. Barangkali sesuai dengan namanya, motif batik kembang kopi besar kemungkinan polanya ditimba dari bentuk bebungaan kopi.

Itulah yang saya maksudkan diakui baik di Tanah Jawa maupun Tatar Sunda. Namun, informasi di atas rasa-rasanya menimbulkan keraguan pada diri saya, karena budidaya kopi mula-mula dan terutama dilakukan di Tatar Sunda, khususnya di Priangan, yang bertahan selama berabad-abad, yaitu dari perkenalan pada abad ke-17, pembudidayaan melalui sistem Preangerstelsel sejak awal abad ke-18 dilanjutkan dengan sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) dan liberalisasi sejak tahun 1871 hingga abad ke-20. Demikian pula istilah kawung, saya pikir kata tersebut dikenal terutama dalam kandaga kebudayaan Sunda. Namun, saya juga tidak menentang kenyataan, bahwa pusat kegiatan perbatikan berada di Tanah Jawa, terutama Jawa Tengah, bahkan mempengaruhi batik di Priangan.

Keraguan saya di atas membawa ke arah pustaka yang lebih lama lagi. Dalam hal ini saya mencarinya dari sumber-sumber pustaka yang berbahasa Belanda, yang diterbitkan pada zaman penjajahan Belanda.

Yang paling lama adalah buku De Batik-Kunst in Nederlandsch-Indie en Haar Geschiedenis (1899) susunan G.P. Rouffer dan Dr. H.H. Juynboll. Di sini antara lain disebut-sebut bahwa di Jawa Barat batik kurang banyak. Di daerah ini batik dikenal terutama di Tasikmalaya, terutama di Cipedes, dan Garut (“Hoewel het batikken in West-Java eigenlijk niet thuishoort, zoo voorziet toch heden ten dage dat gedeelte waar het wel gedaan wordt, met name de streek van Tasikmalaja (met Tjipedes, vlak bij de stad-zelve) en Garoet …”). Di samping itu, dalam buku disebut-sebut istilah yang berkaitan dengan batik yang dikenal dalam kebudayaan Sunda, terutama berkaitan dengan istilah pakaian, yaitu samping, kebat, iket, totopong, udeng, carecet, salempay, karembong, kekemben, kampuh, baju, raksukan, kabaya, dan kaway. Alhasil, motif-motif batik dari Tatar Sunda tidak terungkap.

Buku kedua yang bisa diungkap adalah Catalogus der Ethnologische Verzameling van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Tweede Supplement) (1901) susunan Mr. L. Serrurier. Di sini, saya mendapatkan nama-nama motif sarung dan kebat (kain panjang) yang dikoleksi Perhimpunan Batavia dari Tasikmalaya. Motif batik sarungnya adalah kembang tanjung, daniris agung, kadu jawa, carang jantung, lelambaran, puger, dan solodoktor. Sementara yang termasuk pola kebat adalah kembang gresikmilis, parang rusak, kembang kopi, dan kaum picis. Di sini, motif batik kopi ditemukan dalam istilah “kembang kopi”. Barangkali Fiona Kerlogue dan ‎Rudolf G. Smend (2004) menimba hal yang sama dari khazanah batik Tasikmalaya.

Buku selanjutnya yang saya baca dan membahas mengenai batik adalah De Inlandsche Kunstnijverheid in Nederlandsch Indie (Vol III-De Batikkunst) (1916) oleh J.E. Jasper dan Mas Pirngadie. Yang menarik dalam buku ini adalah penyebutan berbagai motif batik yang dikenal di Priangan. Di sini disebutkan adanya motif areuy, burung ngibing, daun pacar, daun paku, daun salak, daun cina, daun seureuh, daun asem, daun camara, daun salam, daun waluh, daun paku, daun cengkeh, daun sebe,  daun jeruk, kembang ending, kembang limus, kembang tanjung, kembang jeruk, kembang areuy, kembang gandul, kupu, bayongbong, papatong, segong, sisik ikan, tabur, cabe, melati, naga, galinggem, gengge, astir, angin-angin, buket, buah limus, buah huni, buah salak, bangbara, jaksi, jangka, eluk paku, kait, kupu hiber, tapal, tabur bentang, kipas, langgir, singa pitutur, samangka, buah labu, kaki burung, mata hayam, gunawijaya, gambir saketi, banji, manuk diuk, limar colet, lantera, balagbag, gurat, lereng puger, lereng panjang, lima risen, limar tembik, malinjo, irengan, dan lain-lain.

AYO BACA : Batik Sekar Rahayu asal Cimahi Gelar Pameran Hingga ke Australia

Banyak sekali motif batik di Priangan. Namun, yang aneh istilah yang berkaitan dengan motif batik kopi seperti kopi pecah, kawung kopi, dan kembang kopi tidak ditemukan sebagai salah satu pola batik di Priangan. Namun, bisa jadi kata-kata tersebut termasuk yang disebut “dan lain-lain” oleh J.E. Jasper dan Mas Pirngadie. Mengingat dalam daftar di atas istilah-istilah motif batik dari jenis dan bagian tumbuhan banyak disebutkan. Barangkali oleh J.E. Jasper dan Mas Pirngadie terlewat tidak disebutkan, karena ini dibuktikan dengan adanya istilah kopi pecah dengan bahasan dan gambarnya dalam buku ini.

Menurut J.E. Jasper dan Mas Pirngadie, kopi pecah adalah pola khas Indonesia, yang berdasarkan sebaran geometris paling sederhana dan mirip cukilan serta pakaian kulit pohon dari Toraja.  Latar hitam dibagi menjadi empat persegi yang sama, yang digambari gambar diagonal ... (Een typisch Indonesisch patroon, gebaseerd op de eenvoudigste, geometrische verdeeling, en o.a ook veel op het houtsnijwerk en de beschilderde boomschorsdoeken van Toradja-stammen voorkomend! Het zwarte veld verdeeld in gelijke vierkantjes, waarin de diagonalen getrokken zijn).

Foto-02

Buku katalog pameran batik, Batikwerk (1923) yang disusun J. Kats, mendaftarkan motif kopi pecah dari Tasikmalaya.

Kemudian dalam buku Batikwerk: Tentoonstelling door het Java-Instituut, Inleiding en Catalogus (1923) susunan J. Kats disertakan berbagai motif pada batik yang ada di Afdeeling Surakarta, Yogyakarta, Ciamis, Tasikmalaya, Cirebon, dan Garut, terutama yang ditemukan pada kain, dodot, sawitan, iket, kemben, dan sarung. Antara lain pada Afdeeling Surakarta, ditemukan istilah motif yang menggunakan kata kawung yaitu kain kawung buket dan kain kawung esuk sore, sementara pada daftar di Afdeeling Yogyakarta ada kawung putri, dan kawung manuk. Sementara yang di Tatar Sunda, tidak ditemukan motif batik yang menggunakan istilah kawung.

Untuk yang berasal dari Tatar Sunda akan saya daftarkan selengkapnya. Dari Afdeeling Ciamis ada motif lereng, gambir saketi, sawat, latar hitam, puger, bangreng, lereng daun peuteuy, batik sisi, adumanis, lereng soyog, lereng seling, lereng seno, lompong keli, sawat birawan, lereng centung, sembagen kembang, sembagen, dan wayang. Dari Tasikmalaya, ada limar, lereng, latar hitam, lungmawar, lereng buntun, kembang pacar, gambir sawit, semanggen, caringin, kopi pecah, jepun, satria ileu, satria bener, dan kembang cina. Kemudian dari Cirebon hanya ada satu, yaitu motif limar cepuk. Selanjutnya, dari Garut ada istilah motif lereng, latar soga, sawat manuk, sawat daun, lereng gambir sawit, batik kembang, lepaan koneng, lereng kotak-kotak, lereng daun peuteuy, kembang anggur, batik laburan, dan lereng tumpal.

Yang membuat saya heran, kata-kata yang ada baik dalam khazanah batik Jawa dan Sunda adalah motif sawat dan parang. Selain itu, yang lebih penting lagi, karena berkaitan dengan kopi, motif kopi pecah sebagaimana yang ada di dalam daftar motif batik yang disertakan oleh J. Kats hanya ditemukan di Tasikmalaya. Jadi, ini berbeda dengan yang dinyatakan oleh Didit Pradito dan kawan-kawan (2010) yang menyertakannya sebagai bagaian dari motif batik yang dikenal di Ciamis.

Bila demikian halnya, istilah untuk motif batik yang berlatar kopi di Priangan umumnya dikenal sebagai kopi pecah, atau di dalam khazanah perbatikan Jawa disebut kawung kopi atau kawung sari. Keberadaan motif kopi pecah atau kawung kopi pada batik di Tanah Jawa bisa jadi mendapatkan pengaruh dari Tatar Sunda, dengan alasan budidaya kopi mula-mula dikenal di Priangan, demikian pula dengan penggunaan istilah kawung.

Namun, dalam sejarahnya, ternyata motif kopi pecah di Priangan berbeda asalnya. Bila merunut keterangan J. Kats (1923), motif tersebut dikenal dalam khazanah perbatikan Tasikmalaya, tetapi puluhan tahun kemudian, motif tersebut dikenal juga di Ciamis, sebagaimana yang saya temukan dalam buku susunan Didit Pradito dan kawan-kawan (2010). Bahkan ada motif kopi pecah dari Garut, sebagaimana yang saya dapatkan gambarnya dari situs Bukalapak. Tentu ini membuktikan adanya saling pengaruh atau bahkan perkembangan yang bersamaan atau beriringan, hanya saja tidak tercatat oleh para penulis. Dan selain motif kopi pecah, pola kembang kopi juga dikenal dalam ranah batik Tasikmalaya, sebagaimana dicatat Serrurier (1901) dan Fiona Kerlogue dan ‎Rudolf G. Smend (2004).

(Atep Kurnia, peminat literasi dan budaya Sunda)

AYO BACA : Indramayu Cetak Rekor Membantik 'Complongan' Tercepat

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE