Yamaha

Dekan FEB Unpad Ungkap Alasan di Balik Gagalnya Start-Up

  Rabu, 25 Desember 2019   Nur Khansa Ranawati
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran, Yudi Azis. (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Kemunculan start-up yang menawarkan berbagai produk maupun jasa, meski jumlahnya terhitung banyak, tak jarang harus diakhiri dalam waktu ringkas sebelum sang pengembang meraup untung. Padahal tak sedikit di antara pengembang merupakan kalangan muda yang butuh pendapatan.

Menanggapi fenomena tersebut, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran (Unpad) Yudi Azis, memaparkan sejumlah hal yang dapat menentukan sukses tidaknya sebuah start-up. Salah satunya yang perlu dihindari adalah membangun usaha hanya berdasar tren.

"Harus jelas income-nya dari mana, sumber dayanya dari mana, jangan sekedar mengikuti tren. Harus spesifik, kalau membuat produk, yang akan membeli produk tersebut siapa perlu dipetakan," ungkapnya pada Ayobandung.com ketika ditemui di gedung Unpad Training Center, Bandung, beberapa waktu lalu.

AYO BACA : Sinergikan Pakar, Unpad Dorong Pemprov Jabar Terbitkan Obligasi Daerah

Dirinya menyebutkan, start-up yang mampu terus berjalan atau dapat menopang adalah start-up yang memiliki produk yang jelas dan disukai pasar. Sehingga, apa yang dihasilkan start-up yang bersangkutan dapat menjelma rupiah yang terus berputar.

"Segmenting, targeting dan postioning itu penting. Karena yang bisa sustain itu kalau ada pasarnya, dan pasarnya happy. Kalaupun produknya bagus tapi tidak ada pasarnya, siapa yang mau beli. Pasar pun tidak bisa didikte," ungkapnya.

Yudi kemudian mencontohkan start-up raksasa GoJek sebagai salah satu perusahaan rintisan yang sukses. Kejelasan manfaat produknya dinilai mampu membuat perusahaan yang didirkan pada 2010 tersebut terus bertahan dan menghasilkan hingga saat ini.

AYO BACA : Bahas Masalah Terkini, Alumni Publisistik Unpad Bentuk Forum Komunikasi

"GoJek itu value-nya riil, anak-anak yang sebelumnya harus diantar-jemput ke sekolah sekarang bisa naik GoJek. Malas dan tidak sempat masak bisa pakai GoFood. Kalau value-nya riil pasti sustain dan (perusahaan) enggak perlu bakar duit," paparnya.

Untuk merumuskan perusahaan yang memiliki produk dengan nilai kegunaan jelas bagi pasarnya, Yudi mengatakan, bisnis modelnya pun perlu diperhatikan. Selain itu, start-up tersebut harus mampu menyeimbangkan antara kebutuhan perusahaan dengan keinginan pasar.

"Harus seimbang antara suplai dan demand, harus dapat memanjakan konsumen juga menguntungkan perusahaan. Menyeimbangkan ini memang susah, ada seninya. Tidak semuanya bisa melihat kedua sisi tersebut," ungkapnya.

Ketidakmampuan menyeimbangkan dua sisi tersebutlah yang dinilai paling sering membuat sebuah start-up pada akhirnya harus gulung tikar. Untuk menguasai keseimbangan dua hal tersebut, dia menyebutkan, juga diperlukan sifat empati.

"Start-up ini banyak yang belum berpengalaman, eksperimen pun kurang terlebih lagi expertise juga kurang. Maka dari itu eksekusinya kacau. Walaupun punya modal keberanian, hal tersebut tidak akan cukup," paparnya.

AYO BACA : Dukung Pembangunan Jabar, Unpad Gelar Seminar Obligasi Daerah

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar