Yamaha

Teruntuk Ibu: Karier atau Keluarga?

  Minggu, 22 Desember 2019   Netizen Valerian Pradovi
Ilustrasi ibu. (pixabay.com)

Kalau bisa, waktu adalah satu hal yang tentu ingin kita tambah. Total ada 24 jam dalam satu hari. Butuh 8-9 jam bagi seorang Ibu untuk bolak-balik rumah-kantor tiap harinya. Setelah itu dilanjutkan pula menghabiskan waktu dengan si buah hati, kemudian istirahat sedapatnya.

Bagi Ibu bekerja, tantangan yang mereka hadapi tidak sesederhana itu. Mereka harus bangun tidur lebih cepat untuk menyiapkan sarapan bagi keluarganya. Setelah tanggungan pada keluarganya selesai, ia baru akan bisa menyiapkan diri. Namun, apakah seorang Ibu wajib mengerjakan itu semua sendiri?

Peran sebuah keluarga yang saling membantu adalah kuncinya. Singkirkan sejenak segala tanggung jawab yang secara turun-temurun bertahan. Ibu berdiam di rumah, Ayah mencari nafkah. Dalam hal ini, kedua belah pihak harus mencari jalan tengah, tidak bisa lagi dan lagi seorang Ibu atau istri yang mengalah.

Sang suami juga jangan hanya mengalah di awal-awal saja, lalu di tengah jalan menegur sang istri karena anak jarang diurus. Pada akhirnya, sang istri terpaksa harus berkenti bekerja karena tingginya biaya yang ditanggung dan anak yang jarang tersentuh.

Wanita berhenti bekerja setelah berkeluarga sudah menjadi cerita yang mudah ditemukan di Indonesia. Menurut penelitian Diahhadi Setyonaluri, peneliti demografi dari Universitas Indonesia, orang-orang Indonesia masih menempatkan urusan rumah tangga sebagai tanggung jawab utama perempuan dan kepercayaan ini memperbesar beban seorang Ibu.

Insiden ini juga ditambah dengan kurangnya kebijakan yang mendukung Ibu bekerja. Misalnya, pemberian cuti melahirkan yang relatif pendek. Jika mengacu pada Undang-Undang Nomor. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Ibu hamil behak mendapatkan cuti melahirkan selama satu setengah bulan atau sekitar enam minggu sebelum proses persalinan tiba.

Akan tetapi, hal ini tergantung pada kondisi masing-masing Ibu. Dokter bisa saja menyarankan sang Ibu memajukan cuti kehamilan dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan Ibu dan janin di dalam kandungan.

Lama cuti ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Cuti kehamilan ini bertujuan agar Ibu tidak mudah lelah dan mendapatkan istirahat yang cukup. Padatnya aktivitas yang biasa dilakukan semasa bekerja dapat membuat stamina Ibu menurun dan berpengaruh pada janinnya.

Wanita masih terikat pada pembagian peran gender yang tradisional. Masyarakat masih percaya peran utama perempuan adalah sebagai ibu bagi anak-anaknya dan istri bagi suaminya, bukan sebagai wanita yang berhak bekerja.

Menurut Badan Pusat Statistik dalam Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), perempuan Indonesia usia 15 tahun ke atas hanya berkisar pada bilangan 50% selama satu dekade terakhir.

Berbanding terbalik dengan Indonesia, tinga negara dengan angka ibu bekerja paling tinggi diraih oleh Swedia dengan bilangan 76%, Denmark dengan bilangan 74%, dan Norwegia dengan bilangan 73%.

Hal ini yang haris diimplementasikan oleh Indonesia bahwa kita mampu. Buang jauh-jauh stigma perempuan bertanggung jawab penuh mengurus rumah tangga dan keluarga. Setiap individu dari seorang wanita dan pria tentu memiliki perannya masing-masing. Namun, tak menampik tanggungan yang berbeda.

Seorang Ayah mampu mencari nafkah dan mengurus keluarganya, seorang Ibu juga punya hak untuk mencari nafkah dan tentu tetap mengurus keluarganya.

Pada 22 Desember 2019 ini, hari Ibu tidak hanya berlaku sebagai simbolis tanda sayang sang anak ke Ibunya. Tunjukkanlah bahwa hari ini sebagai deklarasi penuh dukungan kita untuk seluruh Ibu yang ada di dunia. Bahwa kalian punya hak, dan junjung terus hak tersebut!

Valerian Pradovi
Mahasiswa Jurnalistik Unpad

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar