Yamaha

Peringatan Hari Ibu di Indonesia Bukan Latah karena Barat

  Minggu, 22 Desember 2019
Ilustrasi. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo menyatakan bahwa peringatan hari ibu di Indonesia merupakan momen bersejarah bagi bangsa, bukan sekadar latah mengikuti kebiasaan masyarakat barat.

Dia mengungkapkan, hari Ibu diusulkan Kowani langsung kepada Presiden Soekarno pada 1938 yang merupakan hasil kongres ke-3 menetapkan Hari Ibu dengan diikuti Keppres 1959 oleh Pesiden Soekarno.

Penegasan Giwo disampaikan terkait masih adanya penilaian dari tokoh agama yang menilai peringatan Hari Ibu tidak perlu dilakukan masyarakat, karena hanya mengikuti kebiasaan masyarakat barat.

AYO BACA : Pahlawanku, Ibu!

"Saya rasa perlu diperjelas bahwa peringatan Hari Ibu itu sangat penting, karena upacara peringatan Hari Ibu sebagai kilas balik peristiwa sejarah 91 tahun lalu dan untuk mengenang jasa founding mother. Selain itu justru peringatan Hari Ibu karena adanya usulan dari Kowani," ujar Giwo pada acara Pisah Sambut DP Kowani Masa Bakti 2014 – 2019, melalui siaran pers yang diterima Suara.com.

Masyarakat dan semua kalangan, termasuk tokoh agama, katanya, harus memahami hal ini karena banyak yang belum paham tentang peristiwa sejarah lahirnya Hari Ibu.

Tahun ini pun, peringatan Hari Ibu yang jatuh pada hari Minggu (22/12/2019), juga dilakukan di kantor Kowani, dengan melakukan upacara pengibaran bendera merah putih di halaman kantor Kowani, di jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Uniknya pada peringatan Hari Ibu tahun ini, setiap anggota Kowani mengenakan kebaya.

AYO BACA : Ibu, Masihkah Jadi Malaikat Pelindungku?

"Sengaja kita akan menggunakan kebaya untuk mengingatkan kembali bahwa kebaya juga merupakan aset bangsa yang perlu dilestarikan. Kebaya juga mengingatkan perjalanan tokoh pejuang perempuan," katanya.

Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa umur Kowani jauh lebih tua dari umur kemerdekaan Republik Indonesia. Pada masa itu tahun 1928, Kowani tumbuh dan bergerak serta berkiprah hampir bersamaan dengan Gerakan Sumpah Pemuda.

"Peringatan 22 Desember itu kan peringatan hari sejarah jadi memang kita harus memperingatinya. Peringatan Hari Ibu juga mengingatkan kembali tentang sosok seorang Ibu sebagai Ibu bangsa (kebangkitan perempuan), yang memiliki tanggung jawab dan peran dalam membentuk generasi bangsa yang berkualitas," bebernya.

Giwo mengingatkan, generasi bangsa haruslah memberikan penghormatan kepada seorang ibu, juga bapak dan guru. Tak hanya orangtua sendiri, namun penghormatan kepada seseorang yang lebih tua itu merupakan hal yang harus dilakukan dan dijaga tradisinya, seperti semua agama mengajarkan penghormatan kepada orangtua.

AYO BACA : Panjang Umur Kasih Ibu

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan   Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar