Yamaha

Ibu, Masihkah Jadi Malaikat Pelindungku?

  Minggu, 22 Desember 2019   Netizen Raden Siti Yustianisa, Mahasiswa Universitas Padjadjaran
Ilustrasi oleh BMH. (Unair News)

Kasih ibu

Kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa…

Siapa yang tidak mengenal potongan lagu populer berjudul “Kasih Ibu” karya SM Mochtar? Rasanya semua anak di Indonesia dari Sabang sampai Merauke pasti familiar dengan tiap kata dalam lagu ini. Bagaimana tidak, lagu dengan lirik yang sangat sederhana ini selalu ampuh membangkitkan ingatan kepada sosok yang sangat dekat dengan kita, yaitu ibu.

Pada hari ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember, tentu semua anak memiliki angan untuk bisa merayakannya bersama ibu tercinta dengan suasana yang hangat dan harmonis. Namun, apa jadinya jika ibu yang seharusnya menjadi sosok malaikat pelindung bagi anak-anaknya, justru dalam beberapa kasus seakan berubah menjadi sosok malaikat maut?

Walau pun terdengar ironis, namun hal ini bukan sekedar isapan jempol belaka karena benar-benar terjadi pada mereka yang kurang beruntung. Dalam beberapa kasus kekerasan dan pembunuhan pada anak yang terjadi di Indonesia baru-baru ini beberapa kali diketahui pelakunya merupakan ibu kandung mau pun ibu tiri korban. Beberapa contoh kasusnya yaitu yang terjadi di Desa Pie, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh pada 1 Desember 2019 lalu. Seorang ibu menyeret paksa anaknya yang masih sangat kecil di tanah karena merusak tanaman cabai milik tetangganya. Mungkin sang ibu merasa tidak enak pada tetangganya tersebut, namun tindakan kekerasan semacam itu tetap tidak bisa dibenarkan bahkan sudah ditangani oleh Kepolisian setempat.

Ada juga kasus penganiayaan ibu kepada anaknya hingga tewas yang terjadi di Jakarta Barat pada Oktober 2019 silam. Polsek Kebon Jeruk, Jakarta Barat menetapkan pelaku yang berusia 21 tahun sebagai tersangka penganiayaan terhadap anaknya berinisial ZNL yang berusia 2 tahun hingga tewas. Pada bayi ZNL ditemukan luka pada bagian wajah dan beberapa anggota tubuhnya. Bayi malang ini meninggal saat dibawa ke Rumah Sakit Bina Mandiri Kebon Jeruk.

Dilansir dari Tirto menurut Tenaga Ahli dan Analis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Naswardi setiap tahunnya KPAI menerima laporan kasus pelanggaran anak rata-rata mencapai 4.500 kasus. Berdasarkan riset KPAI tahun 2015, Naswardi mengatakan ayah dan ibu kandung menempati posisi teratas sebagai pelaku kekerasan (28% dan 21%) Selanjutnya, orang terdekat seperti guru (10%) dan ayah tiri (6%) ternyata termasuk yang paling sering melakukan kekerasan pada anak.

Setiap ibu pasti mempunyai cara sendiri untuk mendidik anaknya. Kita tidak bisa menyamakan pola asuh ibu yang satu dengan ibu yang lainnya karena pasti kebutuhan tiap anak berbeda-beda. Namun pola asuh yang melibatkan kekerasan fisik mau pun verbal tentu akan menimbulkan dampak negatif tersendiri baik secara langsung mau pun di masa depan.  

Pada dasarnya pasti semua ibu menginginkan kehidupan yang terbaik bagi buah hatinya. Desakan ekonomi dan beban kehidupan yang besar menjadi salah satu faktor penyebab tingginya tingkat kekerasan oleh orang tua kandung. Merasa tidak sanggup memberi fasilitas kehidupan yang layak bagi anaknya, seorang ibu bisa stress dan depresi hingga melakukan hal yang tidak diinginkan. Itulah pentingnya kerja sama yang apik diantara orang tua, keluarga terdekat dan anak itu sendiri. Ibu terkadang tidak bisa menangani beban mengasuh dan menghidupi anak sendirian, maka butuh dukungan yang besar baik moril mau pun materil dari keluarga.

Meski demikian, kita semua tahu bahwa ibu merupakan sosok perempuan yang tangguh. Masih banyak ibu di luar sana yang mau melakukan peran ganda seperti mengurus rumah sambil tetap membantu suami bekerja. Mereka harus merasakan lelah dan beban pikiran berlipat ketika harus tetap memberikan perhatian penuh untuk anak sambil memastikan anaknya mendapatkan fasilitas hidup yang terbaik.

Artikel ini dibuat bukan untuk memojokan citra seorang ibu. Kemuliaan hati ibu yang rela berjuang dan mempertaruhkan nyawanya demi mengantarkan sang buah hati ke dunia tentu tak tergantikan oleh apa pun. Namun memang harus kita sadari tidak semua orang memiliki keberuntungan merasakan kenikmatan kasih sayang sempurna dari seorang ibu. Maka, bagi kalian yang beruntung memiliki sosok ibu yang luar biasa, bersyukurlah. Jaga dan hormati mereka, utamakan kebahagiaan mereka di atas apapun.

Dan untuk para Ibu hebat di luar sana, ingatlah selalu bahwa anak-anakmu membutuhkan semangat dan senyumanmu. Anak-anakmu akan selalu mendambakan kasih sayangmu. Terima kasih atas segala pengorbanan, perlindungan dan rasa cinta yang kau curahkan kepada anak-anakmu hingga sampai di titik ini. Semoga kehangatan cinta darimu akan selalu mendekap selama sisa hidup mereka. Semoga apa yang kau berikan akan menjadi ladang kebahagiaan bagimu di dunia mau pun di akhirat nanti. Terima kasih, Ibu! Selamat Hari Ibu untuk semua ibu di Indonesia!

(Raden Siti Yustianisa, Mahasiswa Universitas Padjadjaran)

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar