Yamaha

‘Gelapnya’ Persepakbolaan di Indonesia

  Minggu, 22 Desember 2019   Netizen Bryan Kristian Putra/ Mahasiswa Binus University
Timnas U-22 Indonesia gagal meraih medali emas setelah kalah 0-3 dari Vietnam pada Selasa (10/12). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

AYOBANDUNG.COM -- Sepakbola merupakan olahraga yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat menaruh harapan yang tinggi terhadap tim nasional Indonesia untuk dapat menuai prestasi terutama di kancah Asia hingga dunia. Tetapi, ekspektasi masyarakat pun hancur karena semakin terpuruknya timnas Indonesia yang terus mengalami kegagalan.

Pada perhelatan SEA Games 2019 di Philipina kemarin, Timnas U-22 gagal meraih medali emas usai kalah 0-3 dari Vietnam di laga final. Hasil ini juga membuat skuat Garuda Muda gagal mengakhiri paceklik medali emas cabang olahraga sepak bola di SEA Games. Terakhir, Indonesia meraih medali emas pada SEA Games 1991 di Manila, Filipina.

Timnas senior pun sudah babak belur terlebih dahulu. Pada Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia, skuat Garuda harus menerima lima kekalahan beruntun yang membuat posisi Timnas Indonesia terpuruk di dasar klasemen. Hasil buruk ini membuat PSSI akhirnya memecat Simon McMenemy sebagai pelatih kepala. Masyarakat pun terus mempertanyakan kinerja PSSI yang dinilai tidak ‘becus’ dalam mengurus persepakbolaan di negeri ini.

Permasalahan yang sama terus muncul dari waktu ke waktu yang membuat timnas Indonesia tidak berkembang dan tertinggal jauh dari negara-negara tetangga. Dimulai dari kepengurusan PSSI yang selalu mengecewakan masyarakat Indonesia karena dinilai selalu gagal dalam memajukan persepakbolaan di Indonesia. Semua ini dapat dilihat dari hasil pertandingan timnas Indonesia yang selalu kalah dan gagal hampir diseluruh kompetisi. Begitu juga dengan liga dalam negeri yang masih terus bermasalah dengan hal yang sama dan tidak menemukan titik temu.

Kerusuhan dan konflik antar suporter pun masih sangat sering terjadi yang biasanya disebabkan oleh keputusan wasit yang kontroversial. Melihat hal ini, PSSI seperti tidak memberi solusi apapun dan hanya memberikan denda saja. Padahal, liga-liga Eropa bahkan Asia sudah mulai menggunakan teknologi canggih yaitu VAR (Video Assistance Referee). Sesuai namanya, teknologi ini digunakan untuk menjadi asisten wasit dalam mengawasi jalannya pertandingan lewat rekaman video.

Teknologi ini disebut asisten karena VAR dapat membantu wasit untuk menganalisis kejadian-kejadian yang ada dilapangan selama pertandingan berlangsung. Teknologi ini seharusnya dapat menjadi solusi yang sesuai dengan permasalahan sepakbola di Indonesia yang sering disebabkan karena keputusan wasit yang kontroversial.

Banyaknya mafia dan koruptor di persepakbolaan Indonesia juga menjadi perhatian khusus masyarakat pecinta sepakbola. Mirisnya, orang-orang tersebut berada di jajaran atas dalam organisasi sepakbola Indonesia. Semua ini dapat terbukti dari banyaknya mafia dan koruptor yang mulai tertangkap satu per satu oleh Satgas Anti Mafia Bola. Belum lama inipun, Komisi Pemberantasan Korupsi menahan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi yang diduga berkaitan dengan kasus suap.

Masyarakat sudah haus akan prestasi, tetapi sepakbola Indonesia justru semakin berantakan sampai hari ini, bagaimana kita mau berprestasi saat federasi kita dikendalikan orang-orang yang mementingkan dirinya sendiri? Legenda sepakbola Indonesia Rochy Putiray pun pernah mengatakan bahwa kebusukan sepakbola kita sudah ada sejak dulu. “Apapun usahanya, sepakbola kita tidak akan maju selama orang-orang yang duduk di kursi federasi masih mementingan uang, bukan prestasi” ujarnya.

(Bryan Kristian Putra/ Mahasis Binus University)

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar