Yamaha

Panjang Umur Kasih Ibu

  Minggu, 22 Desember 2019   Netizen Adinda Shafira, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

"Kasih Ibu kepada beta..

Tak terhingga sepanjang masa,

Hanya Memberi tak harap kembali,

Bagai Sang Surya Menyinari Dunia.. "

Sepotong lirik lagu sederhana dan menyentuh karya SM Mochtar telah menghiasi memori tiap orang tentang sosok ibu yang kita miliki. Manis dan penuh kehangatan, lagu ini tak pernah lekang oleh waktu dan terus menemani hingga kita dewasa. Selayaknya ibu yang menjadi sosok penuh kasih yang terus mengawal masa depan dan menjadi pendukung utama dalam hidup setiap anak-anaknya.

Memaknai hari Ibu menjadi momentum yang indah bagi setiap orang. Penghargaan bagi perjuangan seorang ibu hingga saat ini tak dapat dibalas oleh siapapun, karena tak akan ada yang sepadan oleh perjuangannya. Perjuangan ibu mengandung hingga membesarkan kita menjadi seorang anak yang penuh dengan talenta merupakan karunia yang paling berharga, seolah-olah ibu menjadi sosok pahlawan yang memiliki makna berbeda bagi tiap orang. Kasih sayang ibu tentu amat suci, dari mengayomi, mendidik, hingga menyayangi rasanya tak ada seorangpun yang dapat menggantikan posisi ibu.

Setiap orang memiliki kesan dan memori terhadap perjuangan ibu masing-masing. Ketika menyadari betapa besarnya kasih sayang seorang ibu, dengan memperingati Hari Ibu setiap 22 Desember, anak-anak dapat belajar sejak dini untuk menghargai dan membalas kasih sayang seorang ibu setiap harinya.

Memperingati Hari Ibu menghantarkan kita kembali pada memori indah bersama ibu. Begitu banyak pengorbanan, kasih sayang, hingga ketulusan hati ibu dalam menjaga kita selama ini. Dengan berbakti, menyayangi, dan menuruti apa yang ibu minta pada seorang anaknya, kita dapat menghormati perjuangan seorang ibu. Meski tak ada yang setimpal dengan perjuangan ibu, namun memberikan yang terbaik bagi ibu menjadi hal yang amat berharga dalam hidup.

Tak akan ada yang mampu menggantikan posisi ibu hingga kapanpun. Meski kita memiliki banyak teman, saudara, tetap saja kita hanya memiliki satu ibu. Tuhan hanya menciptakan satu ibu yang amat menyayangi anaknya.

Segala hal saat ini bergerak amat dinamis, teknologi, masyarakat, serta pola asuh berkembang mengikuti zaman. Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat tantangan yang dihadapi orangtua, terutama para ibu, dalam mendidik anak-anaknya pun meningkat. Dalam posisi ini, mendidik anak akan semakin mudah karena terpaparnya informasi secara gamblang terdapat di internet.

Di era serba digital, seorang Ibu dalam mendidik anaknya dituntut tidak ketinggalan zaman. Seorang ibu harus selangkah lebih maju ketimbang anak-anak sehingga mampu mengarahkan dan membimbing. Perkembangan otak dan perkembangan diri seorang anak dalam prosesnya tak mungkin terlepas dari bimbingan seorang ibu. Ibu memiliki peran yang besar dalam era digital ini agar tumbuh kembang anak senantiasa berjalan dengan baik.

Tidak hanya itu, perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola komunikasi di dalam keluarga, khususnya pada generasi milenial yang hidup dan tumbuh dengan dunia digital. Kondisi ini menjadi tantangan sendiri sehingga pola asuh dan bimbing tidak bisa seperti era-era sebelumnya. Peran ibu dalam menjaga dan membimbing anaknya kian dipenuhi hambatan yang berasal dari luar, karena perkembangan zaman pun dinamis. Maka, pola asuh juga harus disesuaikan dengan zaman yang ada.

Menjadi seorang ibu di era digital tentu merupakan suatu tantangan. Para ibu tidak hanya dituntut untuk menjaga dan mendampingi suami di dalam keluarga tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi dalam segala hal termasuk dalam meningkatkan kualitas hidup keluarga.

Orangtua, terutama ibu merupakan sang penunjuk arah bagi anak. Bagaimana caranya? Ibu sebagai orang terdekat bagi anak memberikan contoh dan pemahaman agama secara benar, mengajarkan cinta tanah air, membiasakan anak untuk membaca, berbahasa dan bertindak penuh kasih sayang, serta membatasi penggunaan teknologi secara bijak.

Ketika hal tersebut dapat dilakukan, maka perjuangan seorang ibu amat besar, hingga jika ada orang yang bilang pemuda akan mengubah dunia, khususnya Indonesia yang berkemajuan, hal tersebut dapat terwujud secara nyata. Perjuangan ibu tak henti-hentinya sejak mengandung hingga membesarkan anaknya menjadi seorang yang hebat.

Peringatan hari ibu tak tepat rasanya bila hanya diperingati untuk mengenang jasa ibu. Dalam era digital, yang seringkali membuat seseorang sibuk dengan dunianya masing-masing, hari ibu dapat kita pakai sebagai titik rutin yang dapat mengingatkan lagi setiap tahun dan menyadarkan kita akan hak dan kewajiban tiap orang sebagai penggerak bangsa Indonesia dalam suatu organisasi terkecil, yakni keluarga. Ketika ibu melakukan perannya sebagai pendidik anak paling pertama dalam keluarga, kita tak dapat melepaskan hal tersebut dari peran yang lainnya. Kesadaran memahami hak antara laki-laki dan perempuan tak selayaknya hanya dipahami perempuan.

Zaman yang telah berubah, seorang suami sebagai pasangan hidup istrinya harus mampu bekerja sama dalam rumah tangga dan menciptakan generasi penerus yang berkualitas. Mempersiapkan pendidikan bagi anak-anak untuk cinta dan bangga pada Indonesia, agar menjadi generasi yang santun, bermoral mulia dan cinta damai, serta mau menjaga bangsa Indonesia, semuanya berawal dari rumah. Kerja sama antara ibu dan ayah dalam mendidik anaknya, tak terlepas dari peran sang ayah untuk menjadi teladan yang baik bagi generasi penerusnya dalam rangka mengajarkan cara  mencintai negeri ini dengan penuh tanggung jawab.

Hari Ibu juga bentuk perayaan keluarga dalam menghargai perjuangan ibu dengan cara memberikan kasih sayang yang tulus pada ibu yang telah berkorban dalam mendidik, membina, dan menyayangi anak-anak dan suaminya. Seorang ibu, apapun pekerjaannya di luar rumah, tetaplah seorang ibu di rumah. Ialah ibu yang paling pertama bangun menyiapkan sarapan bagi keluarganya, hingga malam tiba sampai semua anggota keluarga terlelap kembali. Ibu akan selalu mengurus anaknya tanpa disuruh, ibu akan selalu menjaga anak-anaknya setiap malam jika butuh sesuatu, ibu pula yang akan selalu khawatir dengan kesehatan anak-anaknya. Seorang ibu tak pernah lelah berdoa dan matanya akan berusaha tetap terjaga ketika menjaga anaknya yang sakit.

Dalam posisinya sebagai keluarga, seorang laki-laki juga perlu paham, agar praktik patriarki tak mengakar kuat dan dapat tumbang suatu saat nanti. Perjuangan seorang ibu tak hanya dapat dilakukan sendirian, tetapi dukungan suami dan keluarga besar pun dapat mendukung ibu memberikan kasih sayang yang utuh bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan harapan, ketika doa ibu dan kasihnya menyertai kita, segalanya akan terasa mudah. Ibu memiliki kesan hangat dan damai ketika kita bersamanya, walaupun banyak rintangan dan hambatan yang ia lakukan demi membahagiakan anak-anaknya, semuanya akan terasa mudah dan menyenangkan ketika bersama. Keluarga rasanya akan selalu membutuhkan sosok ibu. Ibu tak akan tergantikan, walau jauh, walau sulit, ibu selalu akan jadi tempat pulang yang nyaman. Selamat Hari Ibu, panjang umur kasih sayang untuk para ibu di Indonesia!

(Adinda Shafira, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad).

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar