Yamaha

Sisindiran Kopi

  Rabu, 18 Desember 2019   Netizen Atep Kurnia
Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (tahun 1518) menyebut adanya “kawih sisindiran”. (Sumber: naskah-sunda.blogspot.com)

AYOBANDUNG.COM -- Kehadiran sisindiran (pantun) dalam khazanah kebudayaan Sunda sudah lama dikenal. Paling tidak, sisindiran telah tercatat sejak awal abad ke-16 sebagaimana yang terbaca dari naskah Sunda kuna Sanghyang Siksa Kandang Karesian.

Pada naskah yang bertitimangsa tahun 1518 itu tertulis antara lain kutipan berikut ini, “Hayang nyaho di sakweh ning kawih ma: “kawih bwatuha, kawih panjang, kawih lalanguan, kawih panyaraman, kawih sisindiran, kawih pengpeledan, bongbong kaso, pererane, porod eurih, kawih babahanan, kawih bangbarongan, kawih tangtung, kawih sasambatan, kawih igel-igelan; sing sawatek kawih ma, paraguna tanya (Bila ingin tahu segala macam lagu, seperti: kawih bwatuha, kawih panjang, kawih lalanguan, kawih panyaraman, kawih sisindiran, kawih pengpeledan, bongbongkaso, pererane, porod eurih, kawih babahanan, kawih bangbarongan, kawih tangtung, kawih sasambatan, kawih igel-gelan: segala macam lagu, bertanyalah kepada paraguna).

Meski demikian, khusus kawih sisindiran hingga kini tidak ditemukan contoh-contohnya dari khazanah Sunda kuna. Upaya pengumpulan dan pencatatan sisindiran baru dilakukan oleh orang Belanda pada pertengahan abad ke-19. Hal ini seiring dengan mulai tertariknya minat K.F. Holle untuk mempelajari pelbagai segi kebudayaan Sunda. Karena sebelumnya tidak ada orang yang melakukannya. Oleh karena itu, Holle bisa dianggap sebagai orang pertama yang mengumpulkan sisindiran. Buktinya adalah tulisannya “Proeve van Soendasche poëzij (sindirs)” yang dimuat dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (TBG) 6 (1857). Dia memasukkan 20 sisindiran, yang semuanya bernuansa percintaan.

J.A. Uilkens serta Holle menyentil sisindiran dalam Notulen Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) tahun 1872 dan 1874, terutama mengenai “Soendssche wisselrijmen (Bangbalikan)”. Bangbalikan, menurut Ajip Rosidi dalam Puisi Sunda I (1995), bersama dengan sesebred, susualan, dan paparikan adalah kata-kata lain untuk sisindiran. Selain Holle, para penulis lain yang membahas mengenai sisindiran adalah J.J . Meijer (“Proeve van Zuid-Bantĕnsche Poëzie” dalam BKI 39, 1890), C.M. Pleyte (“Badoejsche Geestekinderen”,  TBG LIV, 1912), F.H. Taylor dan L.A. Lezer (Het Soendaneesche volkslied , 1921), R.E. Bratakusuma dan Mas Adinata (Wawangsalan djeung Sisindiran, 1924), K. Hidding (Gebruiken en Godsdienst der Soendaneezen, 1935), R.A. Kern (“Zang en tegenzang”, BKI 104, 1948), dan R. Satjadibrata (“Sindir djeung Sisindiran”, Medan Bahasa 2, 6, 1952).

Dalam tulisannya, Meijer menyertakan 170 buah soesoewalan yang berasal dari Banten Selatan. Isi sisindiran-nya kebanyakan berupa percintaan dan lelucon. Pleyte mencatat 11 bangbalikan dari daerah Baduy yang nuansa isinya sama dengan soesoewalan. Adapun Hidding membagi sisindiran menjadi dua macam, yakni paparikan dan wawangsalan. Dan Kern membahas mengenai seni gondang yang menggunakan lirik dari sisindiran.

Dari riwayat publikasi sisindiran sejak zaman Holle ditambah hasil penelusuran sekarang, saya mendapatkan beberapa sisindiran yang di antaranya menggunakan kata kopi. Kenyataan ini, saya pikir, dimungkinkan karena budidaya kopi sudah mengakar kuat di tengah-tengah orang Sunda, sehingga secara sadar maupun tidak, ikut mewarnai dan mempengaruhi ungkapan folklornya.

AYO BACA : Bajigur Kopi

Mana sisindiran yang berkaitan dengan kopi? Saya kira, saya harus mengedepankan yang paling tua sekaligus paling menarik dari pelbagai hasil pencarian. Di dalam hal tersebut, saya harus mendulukan sisindiran kopi dari khazanah pantun Sunda: bentuk lainnya dari folklor Sunda yang terdiri dari sebagaian tuturan lisan dan sebagian pagelaran, serta sama-sama jenis puisi yang disebut dalam naskah Sunda kuna Sanghyang Siksa Kandang Karesian.

Foto-01

Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (tahun 1518) menyebut adanya “kawih sisindiran”. (Sumber: naskah-sunda.blogspot.com)

Pantun Sunda yang memuat kata dan sisindiran kopi adalah Tjarita Njai Soemoer Bandoeng, Pigarwaeunana Ratoe Agoeng Poerba Mantri Pangeran Poerba Koesoema Ratoe Nagara Koeta Waringin. Folklor ini dikumpulkan C.M. Pleyte dan dimuat dalam Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (VBG) LVIII (1911). Kata kopi, saya temukan dalam ungkapan ini, “Demi kai-kai dileuweung sakoer noe kasorang koe noe perang, mani rarebah kabeh; kajaning: Tangkal tapak djeung kilalak, kikamonteng kiara koneng, boengboengdelan handajakan, hoeroe dapoeng djeung kimaoeng, hantap heulang djeung boengboelan, kai sapi djeung kipoetri, tangkal kopi djeung kihoeni” (Adapun kayu-kayu di hutan yang terkena orang yang berperang itu semuanya berebahan, seperti pohon tapak dan kikalak, kikanmonteng, kiara koneng, bungbungdelan, handayakan, huru dapung dan ki maung, hantap heulang dan bungbulan, kayu sapi dan kiputri, pohon kopi dan kihuni”).

Sementara sisindiran kopi yang saya maksudkan ada pada kutipan, “Pokna Nji Soemoer Bandoeng: ‘kirim koering kembang boelan, kirim koering kembang taoen, kembang sagala dongdoman, kembang kopi aloem aking, bisi akang meunang boelan, bisi akang meunang taoen, oelah salah rija dongdonan, soepaja poelang ka koering” (Ujar Nyai Sumur Bandung: ‘kirimi aku bunga bulan, kirimi aku bunga taun, bunga segala dongdoman, bunga kopi alum aking, jika kau sudah berbulan-bulan, bila kau sudah bertahun-tahun, jangan sombong menyambangi, agar kembali kepadaku).

Tentu saja pantun Tjarita Njai Soemoer Bandoeng yang dicatat Pleyte baru dituturkan setelah budidaya kopi dikembangkan di Tatar Sunda. Karena barangkali bila pada masa Sanghyang Siksa Kandang Karesian, kopi sudah dikenal, pasti kata tersebut akan juga merasuk ke dalam naskah-naskah Sunda kuna lainnya. Sebagai catatan, dalam Sanghyang Siksa Kandang Karesian, disebut-sebut adanya pantun Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, dan Haturwangi. Keempatnya sayang tidak ada yang sampai kepada kita saat ini.

Selanjutnya, satu dekade lebih sebelum pemuatan Tjarita Njai Soemoer Bandoeng, sisindiran kopi bisa ditemukan pada buku Mangle: nja-eta roepa-roepa tjarita reud-jeung tjonto, pikeun sakola Soenda (1890) susunan Willem Gelder. Di dalamnya, sisindiran kopi ditemukan dalam konteks nyanyian kanak-kanak (kakawihan barudak), Dengkleung Dengdek. Berikut petikannya, “Ari Si Patjet eundeuk-eundeukan dina tangkal djarak barina ngawih, kijeu pokna: ‘Dengkleung dengdek, boewah kopi raranggeujan. Mingkeun noe dewek, oelah pati diheureujan’ (Si Pacet bergerak-gerak pada pohon jarak sambil bernyanyi, katanya: ‘Dengkleung dengdek, buah buah kopi bertangkai-tangkai. Biarkan punya saya, jangan terlalu digoda).

AYO BACA : Kopi Kekes

Kakawihan dari sisindiran ini termasuk sering dinyanyikan anak-anak atau umumnya orang Sunda. Tetapi dalam penulisannya kadang-kadang ada sedikit perbedaan. Misalnya, bila dalam buku Mangle ditulis “mingkeun”, sementara pada buku Mengenal Sisindiran Masyarakat Sunda (1997) karya Budi Rahayu Tamsyah, ditulis “ingkeun”.

Sisindiran kopi yang lainnya yang masih bisa dijejaki adalah dari buku Soendaneesche Volkslied (Sisindiran) yang dikumpulkan oleh F.H. Taylor dan diedit serta diberi catatan penjelas oleh L.A. Lezer. Di dalam buku yang diterbitkan Visser di Bandung ini paling tidak ada dua sisindiran kopi. Pertama, “Hajang nginoem euweuh kopi, aja oge golondongan. Hajang njioem anoe tadi, aja oge popotongan” (Hendak minum tidak ada kopi, hanya ada yang gelondongan. Hendak mencium yang tadi, yang ada hanyalah mantan). Kedua, “Kembang kopo kembang kopi, kembang sagala dongdoman. Oelah poho nja kabeuki, ngeukeupan masing djongdjonan” (Bunga kopo bunga kopi, bunga segala dongdoman. Jangan lupa pada yang kau sukai, dekaplah jangan lepaskan).

Saya membaca adanya sisindiran kopi dalam bentuk paparikan dangding dengan pupuh asmarandana, dalam buku Kandaga: Kasusastran (1957) karya M.A. Salmun. Ini cangkang (sampirannya), “Kapinis ulah disumpit, tangkal muntjang ngarangrangan, kembang kopi kembang kopo, karungkang putjuk karungkang, lampujang tjotjongoan, bawaeun ka Radjagaluh, batutulis di sakola” (Burung layang-layang jangan disumpit, pohon kemiri berguguran, bunga kopi bunga kopo, karungkang pucuk karungkang, lempuyang ada ujungnya, untuk dibawa ke Rajagaluh, batutulis di sekolah). Dan ini isinya (eusi): “Ieu nulis bade pamit, doakeun ti kaanggangan, ulah lali ulah poho, karuhan masing karuhan, ku hajang sosonoan, isuk mah urang padjauh, tjing hajang papanggih heula.” (Yang menulis mohon pamit, doakanlah dari kejauhan, jangan lupa jangan lupakan, tentu saja tentu saja, kepingin berkangen-kangenan, besok kita akan berjauhan, marilah kita bertemu dulu).

Foto-02

Dalam album ketuk tilu Bardin, yang dinyanyikan oleh Nany Suryani, disertakan sisindiran kopi dalam lagu “Rayak-rayak”. (Sumber: madrotter-treasure-hunt.blogspot.com)

Dalam Mengenal Sisindiran Masyarakat Sunda, selain memuatkan kawih Dengkleung Dengdek, Budi Rahayu Tamsyah juga memuatkan sisindiran kopi yang sering digunakan dalam lirik ketuk tilu, yaitu,  “Cai-cai kopi-kopi, peupeuriheun dileueut moal. Calik-calik sareng abdi, peupeuriheun pacaket moal” (Air-air kopi-kopi, walaupun tidak akan diminum. Duduk-duduk dengan saya, walaupun tidak akan berdekatan). Versi lain sisindiran ini saya simak dari lagu “Rayak-rayak” dalam album ketuk tilu Bardin, yang dinyanyikan oleh Nany Suryani dari Subang. Dalam lagu itu terdengar, “Cai-cai kopi-kopi, cai kopi panas keneh. Calik-calik sareng abdi, bogoh abdi aya keneh” (Air-air kopi-kopi, air kopi masih panas. Duduk-duduk dengan saya, kasihku masih ada).

Foto-03

Kata “gudang kopi” muncul dalam sisindiran pada lagu “Cikeruhan” dalam album Ketuk Tilu Rineka Seni Sunda Gentra Madya pimpinan Nano S. (Sumber: madrotter-treasure-hunt.blogspot.com)

Kemudian saya mendengar juga lagu “Cikeruhan” dalam album Ketuk Tilu Rineka Seni Sunda Gentra Madya pimpinan Nano S. Di situ terdengar kata-kata sebagai berikut, “Ka mana nyiar payung, ka dinya ka gudang kopi. Ka mana menta tulung, anging ka gusti yang widi” (Ke mana mencari payung ke sana ke gudang kopi. Ke mana meminta tolong, kecuali kepada Gusti yang Kuasa).

Alhasil, saya mendapatkan beberapa contoh sisindiran yang mengandung kata kopi. Bila dikelompokkan, ternyata konteks kopi yang digunakan dalam sisindiran tersebut berkisar di sekitar proses budidayanya, yang terbukti dengan digunakannya kata “kembang kopi”, “buah kopi”, dan “golondongan” (kopi biji gelondongan, belum ditumbuk atau digiling), proses pascapanen dengan adanya sisindiran yang menggunakan kata “gudang kopi” dan konsumsi kopi dengan hadirnya kata “nginum kopi” serta “cai kopi”. Dengan demikian, paling tidak, ini membuktikan daya serap tradisi lisan atau folklor terhadap tanaman yang diperkenalkan ke alam dan budaya Sunda, sekaligus juga mengawetkan kenangan kolektif masyarakat Sunda terhadap kopi.  

* Atep Kurnia, Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYO BACA : Warna Kopi

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar