Yamaha

Fenomena Gotong Royong Online

  Rabu, 18 Desember 2019   Netizen Irsya Fitriansah
Ilustrasi: Kesetiakawanan antar-individu digambarkan dengan hubungan yang baik. (Foto: Irsya Fitriansah)

AYOBANDUNG.COM – Sepi ing pamrih, Rame ing gawe. Siapa yang familiar dengan peribahasa berbahasa Jawa ini? Mungkin orang asli Jawa yang akan paham artinya.

Namun, karena saya berharap yang membaca tulisan ini semua orang Indonesia dari Sabang sampai Marauke, maka mari kita coba maknai bersama.

Dari beberapa literatur yang saya baca, peribahasa tersebut diartikan sebagai tidak mengharapkan pamrih dalam mengerjakan sesuatu, tapi kerjakanlah sesuatu sebaik mungkin.

Jadi, saat mengerjakan suatu pekerjaan janganlah memikirkan dulu apa imbalan yang akan didapat. Tapi pikirlah dulu bagaimana pekerjaan itu bisa kita lakukan sebaik mungkin dan mengeluarkan segala kemampuan kita.

Indonesia dikenal sebagai masyarakatnya yang senang bergotong royong. Menurut sejarah, gotong royong di Indonesia sudah ada sejak tahun 2000 SM atau tepatnya sekitar tahun 1800-an. Saat bangsa Eropa datang ke Indonesia, masyarakat Indonesia melakukan gotong royong untuk menyelesaikan pekerjaan untuk keperluan bersama, misalnya memperbaiki saluran irigasi.

Gotong royong diartikan mengerjakan sesuatu bersama-sama. Bagi saya, peribahasa Sepi ing pamrih, Rame ing gawe cocok jika dikaitkan dengan istilah gotong royong. Mengapa? Ya jelas saja, dalam melakukan pekerjaan bersama-sama yang seharusnya dipikirkan adalah bagaimana bisa bekerja sama untuk mendapat hasil terbaik, bukan imbalan terbesar.

Bicara soal gotong royong, sepertinya hal ini memang sudah melekat dengan Indonesia. Bagaimana tidak? Mungkin belum banyak yang tahu jika Indonesia mempunyai peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional. Lantas, apa hubungannya gotong royong dengan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional? Hm, mari kita lihat sejarahnya.

Setelah Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda tahun 1945, Indonesia tidak semerta-merta mendapat “kemerdekaan” yang seutuhnya. Masyarakat Indonesia tetap harus berusaha untuk mempertahankan kemerdekaan dan tentu saja hal ini menimbulkan berbagai permasalahan sosial.

Melihat banyaknya permasalahan sosial tersebut, pada Juli 1949 Kementerian Sosial mengadakan penyuluhan sosial bagi tokoh masyarakat di Yogyakarta yang saat ini merupakan Ibu Kota Negara Indonesia. Kementerian Sosial merasa nilai kesetiakawanan dan kepedulian antar masyarakat Indonesia harus tetap tumbuh dan bertahan. Jangan sampai masalah sosial yang timbul merusak hal tersebut.

Maka, Kementerian Sosial menetapkan Hari Sosial atau Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional pada 20 Desember 1949. Hari Sosial ini melambangkan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki jiwa kesetiakawanan, jiwa persatuan, gotong royong, dan kekeluargaan.

Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional yang jatuh setiap tanggal 20 Desember ini memang tidak termasuk hari besar yang populer. Tidak seterkenal hari kartini, hari kemerdekaan, atau mungkin hari buruh. Kenapa ya? Apa karena tidak sepenting itu? Atau jangan-jangan karena memang tidak pernah diajarkan di sekolah? Mungkin, pembaca bisa menjawabnya dalam lubuk hati masing-masing.

Ya setidaknya walaupun tidak termasuk salah satu hari besar yang populer dikalangan masyarakat Indonesia, bagi saya sampai saat ini masyarakat Indonesia masih menanamkan nilai gotong royong dan saling peduli. Apa buktinya?

Gotong royong sekarang mungkin memang bukan lagi berperang melawan penjajah dengan senjata atau bertukar kebutuhan dengan istilah ‘barter’. Bila diperkecil lingkupnya, mungkin gotong royong seperti kerja bakti di lingkungan rumah pun sudah tidak banyak yang melakukan.

Tapi menurut saya, sekarang ini di Indonesia sedang marak dengan gotong royong versi modern. Gotong royong dengan memanfaatkan teknologi yang semakin berkembang. Dengan begitu masyarakat bisa saling membantu tanpa harus bertatap muka. Tentu saja tanpa menghilangkan nilai ‘mencapai tujuan bersama’ untuk hasil gotong royong.

Gotong royong modern yang saya maksud adalah saling membantu melalui fitur donasi online yang sekarang ini sudah cukup banyak di Indonesia. Sebut saja beberapa diantaranya Kitabisa.com, Aksi Cepat Tanggap, Wecare.id, dan masih banyak lagi. Melalui fitur donasi online ini masyarakat bisa saling membantu dengan memberikan donasi yang umumnya berupa uang untuk menyelesaikan suatu masalah.

Contohnya saat bencana gempa bumi di Palu yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Banyak relawan yang akhirnya membuka donasi dibeberapa fitur donasi online. Sehingga masyarakat yang ingin membantu tidak perlu kebingungan, entah karena jarak yang jauh atau ketidakjelasan wadah donasi.

Tahun 2018, berdasakan laporannya pada Indonesia Online Giving Report, Kitabisa.com berhasil mengumpulkan donasi sebanyak Rp 490 miliar dari 17 ribu penggalangan dana yang tersedia. Hal ini bisa membuktikan bahwa memang keberadaan fitur donasi online sangat dimanfaatkan dan dipercaya oleh masyarakat Indonesia untuk saling membantu satu sama lain.

Saya pernah melakukan survei sedarhana mengenai alasan seseorang menggunakan fitur donasi online sebagai wadah untuk membantu sesama. Survei ini dilakukan pada bulan Agustus 2019. Dan hasilnya menunjukkan bahwa 72% responden menggunakan fitur donasi online karena mudah dan dapat menghemat waktu.

Alasan tersebut tentu sejalan dengan fungsi adanya fitur donasi online. Hemat waktu karena tidak perlu membuat seseorang harus mendatangi langsung tempat atau sesuatu yang hendak dibantunya. Mudah karena penggunaan fitur donasi online yang praktis dan dapat digunakan kapanpun dan dimanapun.

Walaupun Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional tidak diperingati dengan meriah setiap tahunnya, bagi saya masyarakat Indonesia tetaplah masyarakat yang senang membantu. Nilai gotong royong itu masih sangat terasa, walaupun dengan cara yang berbeda.

Selamat Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional! Bantulah selagi bisa. Apa yang menurut mu tak ternilai, bisa saja sangat berharga untuk orang lain. Sebelum melangkah jauh, tengok kanan dan kiri mu, siapa tahu orang terdekat mu perlu dibantu.

*Penulis: Irsya Fitriansah

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik Unpad

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar