Yamaha

Sindangsono, Kampung Singgahnya Musafir Gunung Galunggung

  Kamis, 12 Desember 2019   Irpan Wahab Muslim
Kampung Sindangsono di Desa Sukamanah, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Suasana Kampung Sindangsono di Desa Sukamanah, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, tidak ubahnya seperti kampung lainnya. Aktivitas warga mulai dari pertanian, perdagangan, dan jasa, mewarnai kehidupan masyarakat kampung yang berpenghuni lebih dari 200 kepala keluarga ini.

Suasana di kampung ini pun terasa hening namun nyaman. Di tengah perkampungan, terdapat juga jalan yang cukup besar selebar 3 meter dan membentang menghubungkan rumah satu dengan yang lainnya.

Ayotasik.com (Ayo Media Network) penasaran dengan penamaan kampung itu hingga dinamai Sindangsono. Jika diterjemahkan, Sindangsono merupakan kata terpisah dalam Bahasa Sunda, terdiri dari kata sindang atau berarti "berhenti sebentar" (menyimpang) dan sono atau "merindukan".   

AYO BACA : Fitra Pertanyakan Nilai Bankeu Kabupaten Tasikmalaya yang Fantastis

Penelurusan Ayotasik.com pun dimulai dengan menghampiri beberapa warga hingga akhirnya dipertemukan dengan Ajid (80). Ajid yang merupakan warga asli Sindangsono pun tidak mengetahui pasti alasan penamaan kampungnya, namun ia mendapatkan kabar turun temurun dari orang tua.

Ajid menuturkan, berdasarkan cerita turun temurun itu, Sindangsono merupakan tempat yang ramai dikunjungi oleh para musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Galunggung yang kala itu, konon, merupakan pusat ilmu pengetahuan.

Duka da tos nami tidituna jang, tapi ceuk sepuh kapungkur mah Sindangsono teh tempat istirahatna anu sok angkat-angkatan, utamina anu bade angkat ka Galunggung (Kurang tahu, karena udah dari sananya nak, tapi kata orang dua dulu Sindangsono itu tempat istirahat untuk yang suka berpergian, utamanya yang mau pergi ke Galunggung)" kata Ajid, Kamis (12/12/2019).

AYO BACA : Hujan Disertai Angin Kencang Terjang Tasik 28 Kali dalam Sepekan

Karena warga setempat saat itu menyambut para musafir dengan ramah, para musafir pun tak sedikit yang merindukan untuk menginjakkan kaki lagi di kampung di bawah kaki Gunung Galunggung ini.

Nah muncul we saurna waktos harita nami Sindangsono. Pami leres henteuna mah duka bapak oge teu terang, tapi saur sepuh mah kitu caritana jang  (Kemudian katanya muncul akhirnya nama Sindangsono. Kalau betul salahnya saya kurang tahu, tapi kata orang tua dulu begitu ceritanya nak)“ tambahnya.

Ari Ahmad (35), warga lainnya menuturkan, terlepas dari sejarah yang kurang diketahuinya tentang Sindangsono, kampungnya itu memang sangat dekat dengan Galunggung. Bahkan Gunung Galunggung terlihat saat jelas pada pagi hari jika cuaca sedang cerah.

Kebanyakan warga pun menggeluti usaha pertanian karena hampir di sekililing Kampung Sindangsono, membentang area persawahan dan kolam-kolam ikan yang beragam luasnya.

“Kalau sejarahnya saya tidak tahu, mungkin dari dulunya sudah nama Kampung Sindangsono. Kebanyakan mah di sini jadi petani, tapi ada juga yang merantau ke kota besar terutama generasi mudanya,“ ucapnya.

AYO BACA : Isu Penelantaran Atlet, Ini Kata KONI Tasikmalaya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar