Yamaha

Cartem, Nenek di Indramayu yang Sebatang Kara dan Andalkan Tetangga

  Kamis, 12 Desember 2019   Erika Lia
Nenek Cartem hidup sebatang kara dalam kondisi kekurangan setelah kakinya lumpuh akibat terjatuh. Sayang, dirinya tak beroleh bantuan pemerintah. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

INRAMAYU, AYOBANDUNG.COM -- Seorang perempuan lanjut usia, Cartem, hidup sebatang kara di RT 02/01, Blok Telukan, Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu.

Tanpa keluarga dan sanak saudara, Cartem sehari-hari nyaris hidup dalam kesunyian di dalam rumah reyotnya.

Bukan hanya kesunyian yang menyergap, dia bahkan hampir tak bisa berbuat banyak selama tiga tahun belakangan kala kakinya lumpuh setelah terjatuh.

Nenek Cartem telah lama hidup sendirian sejak sang suami meninggal dunia. Selama menikah, dia dan suami tak memiliki anak.

Sementara, keluarga dekatnya tak pernah datang menjenguk. Padahal, mereka diketahui masih tinggal di kota yang sama, hanya berbeda kecamatan.

Dahulu kala kakinya masih bisa berjalan baik, Cartem bekerja sebagai buruh tani. Sayang, tiga tahun lalu ia terjatuh hingga membuat kakinya tak lagi bisa digerakkan.

AYO BACA : Peninggalan Kemaritiman di Indramayu Diteliti Kelompok Arkeolog

Di rumahnya berukuran 3x3 meter dan hanya berisi ranjang kayu sederhana dengan kasur tipis di atasnya, Cartem kini terpaksa memampukan diri untuk mandiri dalam keterbatasan.

Rumah Cartem sendiri tergolong memprihatinkan. Tak hanya berukuran kecil, lantainya pun seluruhnya berupa tanah.

Sebagian dinding terbuat dari bilik bambu, sedangkan sebagian lain berupa terpal plastik usang. Pintu rumah itu hanya berupa sehelai kain lusuh.

Saat musim hujan seperti sekarang, angin dingin kerap menyerobot masuk dari celah bilik yang berlubang. Di musim kemarau, suhu yang panas membuat Cartem kerap kegerahan di dalamnya.

Tak ada MCK yang melengkapi rumah Cartem. Untuk urusan buang hajat besar, dia harus menuju halaman rumah dengan memanfaatkan kekuatan tangannya sebagai tumpuan, menggantikan kaki.

Sementara, buang hajat kecil dilakukannya di dalam rumah ke dalam ember-ember kecil yang telah disiapkan.

AYO BACA : Jadikan Gudang Sebagai Tempat Dagang, Toko Modern di Indramayu Disegel

Rumah Cartem pernah roboh akibat angin kencang beberapa waktu lalu. Para tetangganya kemudian datang membangun kembali kediamannya.

Meski dengan kondisi itu, rumah Cartem tak pernah beroleh bantuan melalui program perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu) dari pemerintah.

Padahal, tanah tempat rumah itu berdiri milik Cartem sendiri. Kepemilikan tanah diketahui merupakan salah satu syarat seseorang berhak atas bantuan rutilahu.

Bukan saja rutilahu, bantuan pemerintah lainnya pun tak diperoleh Cartem. Ketua RW setempat, Muhamad Hasim mengklaim, telah memasukkan Cartem sebagai warga yang layak menerima bantuan pemerintah.

"Saya cuma bisa mengajukan bantuan ke (pemerintah) desa. Tapi tidak tahu kenapa tidak dapat bantuan," ungkap Hasim belum lama ini.

Tanpa pekerjaan dan penghasilan, praktis Cartem hanya bisa menerima belas kasih para tetangga.

Tak hanya para tetangga, belas kasih diperlihatkan pula para jurnalis yang tergabung dalam Journalist Indramayu Police (JIP) yang menyalurkan bantuan berupa kebutuhan pokok maupun donasi uang.

Ketua JIP, Udi Iswahyudi mengungkapkan keprihatinan para jurnalis terhadap Cartem yang hidup sendirian dan kekurangan.

"Kami lakukan ini dengan alasan kemanusiaan. Semoga bisa meringankan beban Nenek Cartem," ujarnya kepada Ayocirebon.com (Ayo Media Network). Pihaknya akan pula mengupayakan Cartem beroleh bantuan rutilahu.

AYO BACA : Telusuri Sumber Suap Supendi, KPK Geledah Rumah Dirut BPR Indramayu

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar