Yamaha

Warna Kopi

  Rabu, 11 Desember 2019   Netizen Atep Kurnia
Sangrai biji kopi adalah sumber istilah warna kopi. (wikipedia)

Umumnya sekarang kita mengenal warna coklat, padahal dulu dikenal sebutan warna kopi. Warna kopi nampak kalah terkenal dengan warna coklat. Paling tidak, ini adalah kesimpulan yang saya dapat setelah melakukan penelusuran terhadap berbagai pustaka terkait sejarah kopi dan coklat, terutama dalam bahasa Sunda.

Hal tersebut juga membuktikan adanya dialektika antara tumbuhan dengan produknya di satu pihak dan manusia dengan budayanya di pihak lain. Maksud saya, hal tersebut mencerminkan pergulatan dan pergelutan antara orang Sunda yang sejak abad ke-18 dipaksa menanam kopi serta hasilnya berupa penamaan warna tertentu dengan istilah kopi, dan kemudian karena kopi kalah populer dengan kakao berikut produksinya berupa coklat, istilah warna kopi pun diganti dengan warna coklat.

Di tingkat dunia, penggunaan istilah warna kopi sebenarnya sudah sangat lama. Menurut A. Maerz dan M. A. Paul dalam A Dictionary of Color (1930, 2008), kopi adalah warna kecoklatan seperti warna sangrai medium biji kopi. Dan sebagai istilah warna, coffee digunakan dalam bahasa Inggris sejak 1695. Sementara istilah warna Cafe au Lait atau warna kopi susu digunakan dalam bahasa Inggris sejak 1839.Dan warna Cafe Noir alias warna kopi hitam sejak 1928.

Foto-02

Seperti inilah yang disebut dengan warna kopi susu. (Wikipedia)

Jika di dunia berbahasa Inggris sudah dikenal sejak ahir abad ke-17, berarti pergulatan antara mereka dengan kopi sudah terjalin jauh sebelumnya, sehingga akhirnya karena tanaman kakao belum dibudidayakan dan tradisi minum coklat belum memasyarakat, warna kopilah yang lebih awal dikenal ketimbang warna coklat. Bagaimana dengan di Tatar Sunda? Karena kopi baru dibudidayakan paling tidak sejak tahun 1700-an atau awal abad ke-18, saya kira istilah warna kopi di Tatar Sunda, baru dikenal dan digunakan oleh orang Sunda pada abad ke-18 akhir atau bahkan abad ke-19.

Orang Sunda sendiri memang memiliki kebiasaan menamai istilah abstrak dengan sifat-sifat kata benda yang ada di sekitarnya. D.K. Ardiwinatabisa jadi orang pertama yang memberi penjelasan tersebut melalui bukunya, Elmoening basa Soenda: pikeun pangadjaran di sakola2 (Indonesische Drukkerij, 1916). Di dalam buku yang diindonesiakan Ayatrohaedi menjadi Tata Bahasa Sunda (1984) ini, Ardiwinata menyatakan bahwa “Ada juga sebagian sifat yang biasanya disesuaikan dengan sifat benda yang lain”.

Untuk memberi contoh kebiasaan orang Sunda memberi nama warna dari tumbuhan, Ardiwinata menyebutkan istilah hejo carulang (warna kulit antara hitam dan kuning, yang diilhami warna rumput carulang), koneng terong peuheur  (kuning warna terong getir), koneng bolang kahieuman (kuning seperti warna keladi tak terkena sinar matahari), wungu kopi (ungu kopi), dan hejo daun cau (hijau daun pisang).

Selain itu, masih banyak istilah warna yang ditimba dari nama tumbuhan. Seperti koneng gedang asak (kuning seperti pepaya masak), koneng omyang atau umyang (kuning seperti pisang masak atau padi masak), beureum cabe (merah seperti cabai masak), kasumba atau beureum galinggem (merah muda), hejo daun (hijau seperti daun), hejo lukut (hijau seperti lumut), bungur atau gandaria (ungu muda seperti bunga pohon bungur atau gandaria), gandola (ungu atau violet seperti gandola), tarum atau nila (biru tua seperti warna dari pohon indigo), gambir (merah agak kecoklatan seperti daun gambir). Bila ditambah dengan penelitian-penelitian warna yang dilakukan, misalnya, oleh Yusuf Affendi Djalari (“Desain Warna Susunan dan Fungsinya”, 1978;“Susunan Warna Lokal di Beberapa Daerah Indonesia”, 1982; dan “Susunan Warna Kasundaan: Suatu Pendekatan Interpretatif”, 2001) dan Pitria Dara Rusmawati (Persepsi Masyarakat Bahasa Sunda terhadap Penamaan Warna, 2010) niscaya nama warna yang berasal dari tumbuhan banyak sekali.

Yang jelas, menurut Pitria (2010), “Berdasarkan data penelitian, batas-batas atau fokus warna yang terdapatdalam bahasa Sunda dapat dikelompokkan ke dalam sepuluh kelompok, yaituHIDEUNG ‘hitam’, BODAS ‘putih’, BEUREUM ‘merah’, KONENG ‘kuning’,HEJO ‘hijau’, PAUL ‘biru’, KOPI ‘coklat’, KAYAS ‘merah muda’, BUNGUR‘ungu’, dan HAWUK ‘abu-abu’”. Oleh karena itu, selain ke-10 warna tersebut, warna-warna lainnya akan dinisbatkan kepada salah satu di antaranya.

Sebelumnya, Yusuf (2001) membagi susunan warna kasundaan ke dalam tiga kelompok, yaitu pertama, nada warna ke arah merah atau kemerahan dan kuning berupa beureum, beureum cabe, beureum ati, kasumba, kayas, gedang asak, gading, koneng, koneng enay; kedua, nada warnake arah biru atau kebiruan dan hijau berupa warna hejo, hejo lukut, hejo ngagedod, hejo paul, gandaria, gandola, bulao saheab, pulas haseup, bulao; ketiga, nada warna yang tidak termasuk ke dalam dua kelompok terdahulu berupa warna bodas, hideung, borontok, coklat kopi atau pulas kopi, kopi tutung, candra mawat, bulu hiris, warna bulu oa (dawuk, hawuk, kulawu, pulas lebu).

Untuk istilah warna, dalam bahasa Sunda dikenal paling tidak tiga istilah, yakni warna, pulas, dan rupa. Dalam kamus susunan Jonathan Rigg, A Dictionary of the Sunda Language of Java (1862), kata warna diberi arti sebagai “colour, hue, description, kind, sort, shape” (warna, corak, deskripsi, jenis, macam, ukuran). Pulas diartikan sebagai “to rub on paint, whitewash or the like. To daub” (mengecat, mengapuri, atau sejenisnya. Memulas). Sementara rupa diberi arti sebagai “appearance, shape” (tampilan, ukuran). Intinya ketiganya berkaitan dengan visualisasi atau penggambaran sesuatu.

Adapun warna kopi yang mendekati warna tanah itu di Tatar Sunda dikenal beberapa istilah. Selain wungu kopi (ungu kopi) sebagaimana disebut Ardiwinata, ada warna kopi, kopi tutung, dan kopi susu. Untuk menggambarkan kata wungu kopi, dalam Baroeang ka noe Ngarora (1914) karya D.K. Ardiwinata ada deskripsinya: “Boeahna noe geus arasak beureum areutjeuj, noe geus karolot pisan semoe woengoe” (Buah kopi yang masak warna merah sekali, buah yang terlalu tua berwarna agak ungu). Demikian pula dalam kutipan ini: “Noe katingal ngan salira gamparan, kopi asak katingalna djeng tariko woengoe, daoen kopi djiga tariko rawoen, noe sok dianggo pelesir” (Yang terlihat hanya engkau junjungan, kopi masak terlihat seperti kain ungu, daun kopi seperti kain rawun, yang biasa digunakan untuk pesiar).

Sementara istilah warna kopi dapat dilihat antara lain dari buku-buku Sunda berikutnya. Dalam Kandaga-A (1957) karya R. Momon Wirakusumah dan‎I. Buldan Djajawiguna ada kutipan berikut, “Unggal sakola warnana beda2, aja nu pulas kopi djeung bodas, aja nu beureum djeung bodas, djste” (Setiap sekolah warnanya berbeda-beda, ada yang berwarna kopi dan putih, ada yang merah dan putih, dan seterusnya).Dalam Njonja Kawasa (1964) karya Hajati alias M.A. Salmun antara lain ada narasi begini, “Ari andjing téh kabéh buluna bangsa poék baé, ngaranna gé nurutkeun warna buluna: Si Lutung, si Rujung, si Tjoklat, si Kopi djeung si Gambir, kabéh paméré Walanda-Walanda anu dipulang-pulangkeun ka nagarana” (Semua warna bulu anjing itu gelap, sehingga namanya sesuai dengan warna bulunya: Si Lutung, Si Ruyung, Si Coklat, Si Kopi dan Si Gambir, semuanya pemberian orang-orang Belanda yang kembali ke negaranya).Ach-San menulis demikian dalam novelnya, Tjarios Neng Omah (bentang Tjipriangan) (1965),  “Teu make sendal buludru pulas kopi oge” (Tidak juga memakai sandal beludru berwarna kopi).

Sebelumnya, Achdiat K. Mihardja (1911-2010) melalui novelnya yang terkenal, Atheis (1949), menggunakan juga istilah warna kopi. Meskipun novelnya ditulis dalam bahasa Indonesia, tetapi kita tahu Achdiat adalah penulis kelahiran Garut dan sering dengan sengaja memasukkan kosa kata bahasa Sunda ke dalam karya-karya sastranya yang berbahasa Indonesia. Warna kopidi dalam Atheissaya temukan dalam kutipan berikut, “Kartini duduk membelakangi pintu yang ke serambi tengah,berhadap-hadapan dengan kami. Ia berpakaian piyama dari sutrayang terdiri dari sebuah blus model kozak yang berwarna hijaumuda dan celana yang warna kopi”.

Kemudian contoh penggunaan istilah pulas kopi susu ditemukan antara lain dalam Djelema Bener (1965) karya R. H. Chodidjah Machtum. Di situ ada kutipan berikut, “Sakurilingna dikatja, gardéngna pulas kopi susu, njetél djeung pulas médja-korsina” (Sekelilingnya diberi kaca, gordinnya berwarna kopi susu, sesuai dengan warna meja dan kursinya).

Namun, yang istimewa agaknya adalah istilah warna kopi tutung. Istilah ini sering digunakan dalam konteks pembuatan batik di Tatar Sunda. Coba saja buka-buka buku-buku seperti Batik Tatar Sunda (2008) karya Saftiyaningsih Ken Atik, ‎Herman Jusuf, ‎dan Didit Pradito; The Dancing Peacock Colours and Motifs of Priangan Batik/Merak Ngibing, Warna dan Motif Batik Priangan (2010) karya Didit Pradito; Kamus Mode Indonesia (2013) karya Irma Hadisurya, Ninuk; dan Benang Raja: Menyimpul Keelokan Batik Pesisir (2013) karya Helen Ishwara.

Saftiyaningsih Ken Atik, dkk. (2008) menyebutkan bahwa batik Tasik umumnya menampilkan warna-warna merah tua, coklat tua yang dikenal dengan istilah kopi tutung (kopi gosong), dan warna putih ke arah krem hasil dari proses lepaan (latar kain yang ditutup dengan malam). Didit sendiri lebih rinci membahas ihwal pulas kopi dan kopi tutung dalam Merak Ngibing. Pada bahasan warna dan motif batik Ciamis, disebutkan: “Beberapa warna pada batik cimis mengacu kepada warna yang dimiliki benda alamiah seperti warna gading saheab (warna mirip gading), pulas taneuh (warna tanah), pulas bata (warna terakota), pulas kopi (warna biji kopi), kopi tutung (warna biji kopi gosong), dan bungur (ungu, diambil dari nama kembang bungur yang berwarna ungu), dan lain sebagainya. Ciri yang paling dominan adalah penggunaan warna cokelat tua (kopi tutung) dengan warna putih krem atau gading saheab.”

Kemudian pada “Daftar Istilah”, dalam buku Benang Raja, kopi tutungatau kopi hangus diberi arti sebagai “sebutan untuk batik tiga negeri yang warna dasarnya cokelat tua”.Sementara dalam Kamus Mode Indonesia (2013), terutama dalam entri “Sido Mukti” diterangkan bahwa, “Ragam hias batik dari Jawa Tengah, biasa dikenakan oleh sepasang pengantin. Dalam bahasa Jawa, sido artinya jadi, kesinambungan, terus-menerus, sedangkan mukti artinya hidup dalam berkecukupan dan kebahagiaan. Ragam hias yang berasal dari Jawa Tengah ini mempengaruhi juga ragam hias batik Jawa Barat. Meskipun struktur ragam hiasnya sama, tetapi di Jawa Barat ragam hias ini muncul dalam beragam varian seperti Sido Mukti Papatong (Garut), Sido Mukti Kopi Tutung (Garut), dan Sido Mukti Payung (Tasikmalaya).”

Dengan demikian, terutama dalam ranah budaya Sunda, istilah warna kopi berasal dari fase berbuah, yakni saat buahnya masak sekali sehingga muncul istilah warna wungu kopi (buah kopi masak yang berwarna keunguan); pada fase proses pasca-panen, yakni saat kopi disangrai sehingga menghasilkan warna kopi yang kecoklatan; serta pada fase dihidangkan sebagai minuman, yakni saat bubuk kopi dicampur dengan susu, sehingga menghasilkan warna kopi susu atau warna putih agak kecoklatan atau warna coklat agak putih.

Namun, soalnya kemudian, sejak kapan istilah warna coklat menggantikan warna kopi, paling tidak dalam ranah budaya Sunda? Menurut penelusuran saya, meski tanaman kakao sudah diperkenalkan ke Indonesia, terutama ke Minahasa (Sulawesi Utara), pada paruh kedua abad ke-16 atau tepatnya tahun 1560, tetapi budidayanya baru secara besar-besaran diupayakan pada abad ke-19. Hal ini pun berkaitan dengan kopi. Karena saat itu, tanaman kopi di Indonesia banyak terserang hama dan di sisi lain pasaran coklat di tingkat dunia sudah merangkak naik menjadi tren dunia. Hal-hal ini yang saya baca antara lain dari buku Buku Pintar Budi Daya Kakao (2010) yang disusun oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia dan  Budi Daya Cokelat (2010) oleh Tumpal H. S. Siregar dan kawan-kawan.

Foto-03

Merk dagang “Tjoklat” mulai digunakan Hollandsch-Zwitsersche Chocoladefabriek Amsterdam pada 1936. (Wikipedia)

Mengenai perkenalan tanaman kakao dan coklat ke ranah budaya Sunda yang cenderung lambat, saya pikir ada konfirmasinya dalam kamus Sunda-Inggris susunan Rigg (1862). Berbeda dengan istilah yang berkaitan dengan kopi (coffee) yang banyak tertulis, istilah yang berkaitan dengan kakao dan coklat hanya ditemukan dalam lema “Chokolada”. Di dalam kamus tersebut, lema “Chokolada” diartikan sebagai “European, The Cacao tree, Theobroma Cacao. Chocolate” (Eropa, pohon kakao, Theobroma Cacao. Coklat).

Dengan hanya satu dua kata cacao dan satu kata chocolate yang ditemukan pada kamus yang paling tidak mulai disusun pada tahun 1840-an dan selesai disusun pada tahun 1853 di Tatar Sunda tersebut tentu saja menyaran pada kenyataan bahwa kakao dan coklat belum umum dikenal di Tatar Sunda. Dengan demikian, baik sebagai tanaman maupun sebagai minuman, coklat baru belakangan dikenal oleh orang Sunda. Bisa jadi awal keterkenalan coklat di Indonesia adalah karena didirikannya pabrik coklat yang bernama Hollandsch-Zwitsersche Chocoladefabriek Amsterdam oleh Willem Cornelis Sickesz junior (1886-1971) pada 2 juni 1924. Pabrik ini pada 1925 sudah memproduksi 63 juta batang kopi dengan menggunakan nama Hollandsch-Zwitsersche chocolade reep. Pada 1936, pabrik yang bermarkas di Amsterdam, Belanda, itu menggantikan merk dagangnya dengan kata “Tjoklat”.

Bila demikian halnya, bila kembali ke awal tulisan ini, sejak kapan istilah warna kopi tersisihkan dan tergantikan dengan istilah warna coklat, terutama di Tatar Sunda?Ya, bila merujuk kepada perkembangan merk dagang perusahaan Hollandsch-Zwitsersche Chocoladefabriek Amsterdam, saya kira istilah warna kopi mulai seiring sejalan dengan istilah warna coklat setelah tahun 1936. Dengan catatan, istilah warna kopi masih tetap digunakan oleh orang Sunda paling tidak hingga tahun 1960-an.

Penulis: Atep Kurnia merupakan peneliti literasi Pusat Studi Sunda. Salah satu karyanya yakni buku 'Googling Gutenberg'. Di samping itu, berbagai tulisan seperti cerpen, puisi, serta feature banyak di media nasional seperti Pikiran Rakyat, Mangle, Kompas.com, dan lainnya.

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar