Yamaha

Pipa Ilegal Sedot Mata Air Bandung Utara

  Selasa, 10 Desember 2019   Tri Junari
Pipa ilegal di sumber mata air Sungai Cijanggel, Kecamatan Cisarua berada di Kawasan Bandung Utara. (Ayobandung.com/Tri Junari)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Bandung Barat (KBB), PT Perdana Multiguna Sarana (PMgS) menemukan banyaknya pipa ilegal di sumber mata air Sungai Cijanggel, Kecamatan Cisarua berada di Kawasan Bandung Utara.

Hasil analisis ada 4 pipa baru diduga ilegal dengan ukuran 6 inci, sementara pipa BUMD saja hanya 1 dengan ukuran 8 inci. Maraknya pipa ilegal berdampak pada pasokan air sambungan rumah dari 50 liter perdetik menjadi 15 liter perdetik.

Direktur BUMD PT PMgS KBB, Denny Ismawan didampingi Manager Perencanaan PT PMgS, Yovita Yulia Dewi mengatakan, temuan pipa baru tersebut sangat merugikan lantaran debit air semakin berkurang. 

Dampak utama yang dirasakan yakni pelayanan kepada masyarakat sebagai pelanggan BUMD harus digilir empat hingga tujuh hari sekali. Sehingga pihaknya memutuskan untuk langsung melaporkan kepada pihak Perhutani.

"Kami cek ke lapangan (sungai cijanggel), ternyata ada 4 pipa baru dengan ukuran 6 inci, itu sangat besar dan berdampak pada pasokan debit air. Biasanya kalau turun hujan seperti saat ini debit air bisa mencapai 40 sampai 50 liter per detik, tapi sekarang hanya 18 liter per detik saja. Makanya kami laporkan langsung ke Perhutani agar ditertibkan," kata Denny ditemui di kantornya, Selasa (10/12/2019).

AYO BACA : BUMD Bandung Barat Incar 2 Mata Air Baru

Denny mengaku tak mengetahui secara pasti munculnya pipa tersebut milik perorangan atau pelaku usaha. Namun, bagi dirinya pipa tersebut sangat mengganggu lantaran berada di kawasan milik BUMD. 

"Dalam kontrak juga kawasan BUMD sekian, terus milik yang lain sekian. Tapi, tiba-tiba ada muncul pipa baru di area BUMD, ini sangat merugikan buat kami. Akibatnya banyak pelanggan yang komplain karena harus digilir empat sampai tujuh hari sekali. Kami masih menunggu jawaban dan solusi dari Perhutani," katanya.

Denny menambahkan, minimnya debit air saat ini membuat pihaknya harus menahan calon pelanggan baru. Dengan alasan lantaran pasokan air saat ini belum stabil. 

"Kalau daftar tunggu untuk menjadi pelanggan baru sudah banyak, ada ratusan orang termasuk dari perumahan. Tapi, kalau kondisinya seperti ini, kami tahan dulu. Sekarang fokus melayani 4.800 pelanggan walaupun masih dengan cara digilir," tegasnya.

Saat ini, kata dia, BUMD terus berusaha memperbaiki layanan kepada pelanggan agar berjalan optimal. Sebab, kebutuhan air menjadi nomor satu bagi masyarakat dalam memenuhi kehidupan sehari-hari. 

"Petugas kami selalu bersiaga dan memantau di lapangan. Mulai dari memeriksa kebocoran pipa, laporan pelanggan, hingga memantau debit air disumbernya," katanya.

AYO BACA : Krisis Air Bersih Melanda 32.087 KK di KBB

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar