Yamaha

Angka Kematian Ibu Melahirkan di Cimahi Masih Terjadi

  Selasa, 10 Desember 2019   Tri Junari
Ilustrasi ibu melahirkan. (pixabay.com)

CIMAHI, AYOBANDUNG.COM--Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan di Kota Cimahi masih terjadi. Dalam tiga tahun terakhir, tercatat ada 35 kasus kematian pada ibu.

Rinciannya, 12 kasus di tahun 2017, sebanyak 11 kasus pada tahun 2018 dan sebanyak 12 kasus di tahun 2019 yang baru terdata hingga Oktober. Data itu diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Cimahi.

"Kita harapkan terus menurun, lebih kecil lagi. Makannya kita imbau untuk kerja samamanya dari masyarakat," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Dikke Suseno saat ditemui di Pemkot Cimahi, Jalan Rd. Hardjakusumah, Selasa (10/12/2019).

Dikke menjelaskan, ada berbagai faktor yang menyebabkan kematian pada ibu saat melahirkan. Seperti pendarahan pasca melahirkan, tekananan darah tinggi dan preeklampsia, infeksi, aborsi, pulmonary embolism (darah beku di paru-paru) hingga komplikasi kehamilan serta penyebab lainnya.

Namun kebanyakan kasus kematian ibu saat melahirkan di Kota Cimahi disebabkan terlambatnya penanganan. Ia mencontohkan, ketika seorang ibu memeriksakan kandungannya ke fasilitas kesehatan, sehingga kemudian tidak terpantau.

AYO BACA : Pendarahan, Penyebab Utama Kematian Ibu

"Biasanya persalinan yang terlambat. Jadi udah terlambat untuk dirujuk (ke fasilitas kesehatan)," terang Dikke.

Dikke melanjutkan, pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk terus menurunkan angka kematian pada ibu melahirkan. Seperi dengan program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Melalui program tersebut, pihaknya dibantu para kader dan mahasiswa Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Cimahi. Dalam program tersebut, kondisi ibu mengandung hingga melahirkan.

"HPK itu jadi melihat kondisi janin ibu selama 9 bulan. Untuk ibunya tetap, kalau berisiko tinggi tetap kita pantau," jelasnya.

Untuk pemantauan ibu hamil, ujar Dikke, dalam masa kehamilan sembilan bulan harus dilakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan baik di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), bidan dan fasilitas kesehatan lainnya.

AYO BACA : Rencana Kehamilan Kurangi Resiko Kematian Ibu dan Bayi Lahir

Idealnya, pemeriksaan dilakukan pada tiga bulan pertama, tiga bulan kedua. Kemudian tiga bulan terakhir dilakukan pemeriksaan dua kali. 

"Tapi kalau ada penyakit penyerta harus intens bisa sebulan sekali dan itu melahirkannya tidak boleh di bidan atau Puskemas, harus di rumah sakit," jelasnya.

Kemudian penanganan juga dilakukan dengan cara mengunjungi rumah ibu hamil melalui kader dan TP PKK. 

"Jadi mereka mendata wanita hamil dan memastikan untuk berobat ke fasilitas kesehatan," ucapnya.

Permasalahan gizi juga harus terus diperhatikan. Sebab, dengan asupan makanan yang bergizi akan berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin. 

"Dengan berbagai uapaya itu, harapannya angka kematian ibu saat melahirkan terus menurun," pungkasnya.

AYO BACA : Ini dia Lima Kantung Daerah yang Kematian Bayi, Ibu Melahirkan Tinggi di Jabar

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar