Yamaha

Persoalan HAM di Indonesia, Apa Respons Pemerintah?

  Selasa, 10 Desember 2019   Netizen Ridzky Rangga Pradana*
[Ilustrasi] Sejumlah massa mengikuti aksi kamisan di Depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (3/10/2019). Massa aksi kamisan kali ini mengusung tema Solidaritas untuk Korban Kekerasan Aparat beberapa waktu lalu. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

AYOBANDUNG.COM -- Tiap 10 Desember diperingati sebagai hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia. Hak asasi manusia memang kerap menjadi polemik yang pelik di seluruh dunia. Di beberapa penjuru dunia masih ada saja negara yang dibilang belum menegakkan HAM sebagaimana mestinya, padahal nyatanya HAM merupakan hak seluruh manusia yang hidup di dunia ini.

Tak terkecuali di Indonesia, yang masa sejarahnya sangat kelam dengan kasus–kasus pelanggaran HAM. Salah satu yang paling besar dan belum terungkap hingga sekarang tentu kasus seorang aktivis HAM, Munir Said Thalib, yang diracun di pesawat Garuda Indonesia Airlines (GIA) dalam perjalanannya menuju ke Belanda untuk memperdalam pengetahuan di bidang HAM.

Di Indonesia sendiri ada gerakan yang dipimpin oleh para orang tua dari korban kasus pelanggaran HAM yang menimpa anak–anak mereka. Salah satunya adalah ibu Sumarsih, yang anaknya hilang pada tragedi Mei 1998 dan tak ada kabar maupun kejelasan hingga sekarang mengenai keberadaan anaknya ini.

Gerakan ini diberi nama Aksi Kamisan. Setiap Kamis, di depan Istana Presiden, orang–orang berkumpul menggunakan pakaian serbahitam dan membawa payung hitam untuk menyuarakan keadilan bagi para korban kasus–kasus pelanggaran HAM, baik yang sudah terungkap maupun belum, hingga sekarang.

Gerakan ini nyatanya tak berjalan di ibu kota Jakarta saja, tetapi hampir seluruh Indonesia. Belum lagi sekarang merambah ke Aksi Kamisan yang dilakukan oleh organisasi–organisasi kemahasiswaan yang berada di sekitar kampus.

AYO BACA : Indonesia Jadi Anggota Dewan HAM PBB, JK: Ingat HAM Dalam Negeri

Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa, yang biasanya bersuara paling lantang ketika ada permasalahan di Indonesia dan sering menuntut keadilan juga turut ingin ikut mengungkap kasus–kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Pasalnya, korban–korban kasus pelanggaran HAM yang belum terungkap hingga sekarang cukup banyak mahasiswa ketika mencoba menyalurkan aspirasinya di hadapan pemerintahan di tahun 1998.

Aksi Kamisan ini sendiri berdiri sejak 18 Januari 2007. Setiap Kamis sore sejakr berdiri, mereka berdiri menuntut negara dan pemerintahan Indonesia untuk mengungkap dan menuntaskan kasus–kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan hingga saat ini.

Karena telah berjalan cukup lama dan bisa dibilang belum digubris baik oleh negara maupun pemerintahan, gerakan ini mulai menarik simpati dari berbagai kalangan. Mulai dari para pegiat isu HAM, orang–orang yang menjadi aktivis HAM, artis–artis, seniman, hingga musisi–musisi terkenal yang mengecam kasus–kasus pelanggaran HAM ini lewat lagu–lagu mereka.

Salah satu musisi yang cukup gencar bahkan bisa dibilang paling keras menyuarakan hal ini adalah band Efek Rumah Kaca. Band yang digawangi oleh Cholil Mahmud pada vokal dan gitar, Airil Nur Abadiansyah pada vokal dan bas, dan Akbar Bagus Sudibyo  pada drum ini cukup gencar menyuarakan isu–isu dan kasus–kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan. Mereka juga kerap mengikuti Aksi Kamisan dan menampilkan penampilan seperti membacakan puisi atau menyanyikan lagu–lagu mereka seraya mengiringi Aksi Kamisan yang mereka datangi.

Lagu–lagu mereka juga tak jauh dari kritik sosial, masyarakat, dan juga pemerintahan Indonesia. Salah satu lagu mereka yang cukup terkenal adalah yang berjudul “Di Udara,” lagu yang menceritakan tentang para aktivis HAM pada tragedi 1998 yang menghilang dan disingkirkan karena menyuarakan aspirasinya.

AYO BACA : Gantikan Wiranto, Mahfud MD Diharapkan Selesaikan Kasus HAM Berat

Hal yang menjadi isu utama pada lagu “Di Udara” ini adalah kasus Munir Said Thalib yang meninggal karena diracun di penerbangannya. Oleh karena pada masa itu ada indikasi Munir Said Thalib diracuni ketika pesawatnya masih berada di udara, Efek Rumah Kaca memberi judul lagu ini di udara.

Efek Rumah Kaca juga mengeluarkan lagu yang berjudul “Jingga,” lagu ini benar–benar mencerminkan Aksi Kamisan baik dari komposisi musik maupun lirik–liriknya. Bahkan di dalam lirik lagu tersebut ada 3 menit monolog penyebutan nama–nama mahasiswa atau aktivis HAM yang hilang pada tragedi–tragedi di sekitaran tahun 90-an. Setidaknya ada 13 nama yang disebutkan dalam monolog itu, dan semuanya hingga sekarang belum ada kabar dan kejelasan apakah mereka masih hidup atau bahkan sudah meninggalkan, oleh karena itu Efek Rumah Kaca selalu mengucap kata hilang ketika monolog penyebutan nama–nama tersebut.

Pada tahun 2019 ini, Aksi Kamisan telah terlaksana hingga 600 kali. Tepat pada haris Kamis, 5 September 2019, tepat di seberang Istana Kepresidenan Republik Indonesia, ratusan orang berkumpul memperingati ke-600 Aksi Kamisan. Capaian angka 600 gerakan Aksi Kamisan, apakah bukti tidak adanya keinginan pemerintah Republik Indonesia menuntaskan kasus–kasus pelanggaran HAM yang terjadi sejak dulu hingga saat ini?

Aksi Kamisan tak akan pernah berhenti hingga kasus–kasus pelanggaran HAM ini benar–benar diusut tuntas. Hal ini sudah seharusnya mulai lebih diperhatikan oleh pemerintah. Mau sampai kapan pemerintahan Republik Indonesia dianggap tidak peduli pada kasus–kasus pelanggaran HAM?

Rasanya, tepat bila saya mengatakan bahwa HAM di Indonesia masih kurang berharga di mata pemerintah. Bahkan, Hari HAM Sedunia pada 10 Desember 2019 ini belum menjadi alasan dan lecutan bagi pemerintah Indonesia untuk lebih menghargai hak asasi manusia sebagaimana mestinya dan menghukum para pelanggar hak asasi manusia yang masih berkeliaran. Selamat Hari Hak Asasi Manusia Sedunia, Indonesia. Cepatlah bangkit dan sadar tentang hal ini, berhenti bersembunyi dan segera lakukan apa yang seharusnya dilakukan.

*Ridzky Rangga Pradana, mahasiswa program studi Jurnalistik, Universitas Padjadjaran.

AYO BACA : Komnas: Masyarakat Ragu Jokowi Bisa Selesaikan Kasus HAM Berat

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar