Yamaha

[Lipkhas] Upaya Bosscha Beri Akses Pendidikan untuk Pribumi

  Selasa, 10 Desember 2019   Rizma Riyandi
Tosin bersama anak-anak SDN 04 Malabar. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

PANGALENGAN, AYOBANDUNG.COM -- Tosin tampak asik bercengkrama dengan murid-muridnya di jam istirahat. Pria berusia 60 tahun itu masih setia mendedikasikan masa tuanya untuk mengajar di SD Negeri 02 Malabar, yang kini berubah nama menjadi SD Negeri 04 Malabar.

"Saya memang sudah pensiun. Tapi saya masih ingin mengajar di sini. Karena dulu saya sekolah di sini, diangkat jadi PNS di sini, jadi sekolah ini sangat berarti bagi saya dan keluarga saya," ujarnya pada Ayobandung.com, Sabtu (7/12/2019).

Ditambah, ayah Tosin yang merupakan admin Perkebunan Teh Malabar di Pangalengan, Kabupaten Bandung, juga bersekolah di tempat yang sama. Bedanya, dulu tempat tersebut hanya terdiri dari tiga kelas dengan bentuk bangunan memanjang dan dinamakan dengan 'Vervoloog Malabar' atau Sekolah Rakyat (SR) Malabar.

Tosin Menuturkan, Vervoloog Malabar dibangun atas kebaikan hati juragan teh Karel Albert Rudolf Bosscha. Pria berkewarganegaraan Belanda itu tak ingin anak-anak para pegawai di Perkebunan Teh Malabar tumbuh menjadi orang-orang yang buta huruf.

Meski memilih tak menikah dan tak punya keturunan, Bosscha sangat memperhatikan anak-anak dan berharap mereka tumbuh menjadi manusia-manusia pintar di masa mendatang.

Maka itu pada 1901, Bosscha mendirikan sekolah rakyat dengan mendatangkan guru-guru yang ditugaskan untuk mengajarkan baca tulis. Tak hanya memberikan pelajaran, Vervoloog Malabar juga dibangun dengan mengedepankan nilai-nilai inklusivitas.

Di sekolah tersebut, anak-anak pribumi dan Belanda disatukan dalam satu kelas. Tak ada sekat pemisah, karena semua manusia setara dan berhak mendapatkan ilmu pengetahuan yang sama.

IMG-1861-1

Potret 'Vervoloog Malabar' atau Sekolah Rakyat (SR) Malabar. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

AYO BACA : Bosscha, Juragan Teh Malabar yang Banyak Berjasa

Saat ini Vervoolog Malabar masih berdiri kokoh dan menjadi cagar budaya di bawah kewenangan PTPN VIII dan Pemkab Bandung. Meski begitu bangunan tersebut sudah tak dipakai, lantaran pemerintah telah membuatkan bangunan SDN Malabar 04 baru yang tepat berada di sebelah Vervoloog Malabar.

Menurut Tosin, bangunan Vervoloog Malabar hanya terdiri dari empat ruangan. Tiga di antaranya merupakan ruang kelas, sementara satu lagi adalah ruang guru dan kepala sekolah.

"Dulu kan Sekolah Rakyat Malabar hanya ada tiga kelas, kelas satu sampai kelas tiga," ujar Tosin.

Bangunan tersebut berupa rumah panggung dengan dinding bilik dan lantai papan. Meski demikian, bangunan berusia 118 tahun itu masih tegak berdiri.

Tosin memaparkan, lantai kayu dan kusen Vervoloog Malabar masih sama seperti yang dulu. Tidak pernah diganti dan diperbaiki. Adapun yang diperbaharui hanya dinding bilik dan gentengnya saja karena beberapa kali terbang diterjang angin kencang.

IMG-1823
Bangunan SD Negeri 04 Malabar. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

Furnitur di dalam kelas seperti bangku, meja, dan tempat papan tulis pun masih asli seperti satu abad lalu. Bahkan kita tidak akan menemukan satu pun bagian yang cacat karena lapuk atau apapun dari perabotan sekolah tersebut.

"Dulu kalau siswa di SR Malabar sudah lulus, mereka bisa langsung bekerja di Perkebunan dan Pabrik Teh Malabar. Pokoknya yang penting sudah jago membaca, menulis, dan berhitung, itu sudah bisa langsung kerja," ungkap Tosin.

Setelah bekerja dan mampu, mereka bisa melanjutkan sekolahnya ke Bandung. Bosscha pun, kata Tosin, sering memberikan beasiswa bagi pegawainya yang pintar untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

AYO BACA : Eksistensi Perkebunan Teh Malabar yang Tak Kunjung Pudar

Adapun saat ini Vervoloog Malabar sudah dua kali berganti nama, yakni dari Sekolah Rakyat Malabar menjadi SDN 02 Malabar, kemudian menjadi SDN 04 Malabar. Sekarang SDN 04 Malabar berupa bangunan tembok yang terdiri dari enam ruang kelas, satu ruang guru dan kepala sekolah, serta satu ruang serba guna.

"Sekarang siswa di sini ada 200 orang dari empat Rukun Warga. Makanya dibagi jadi sekolah pagi dan sekolah siang," ujar Tosin.

IMG-1790
SD Negeri 04 Malabar. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

Menurutnya masalah di SDN 04 Malabar saat ini hanya kekurangan guru. Dari 10 guru, hanya tiga guru yang sudah berstatus PNS. Itu pun ditambah Tosin yang sebenarnya sudah pensiun. Karenanya ia berharap, pemerintah dapat menyelesaikan masalah kekurangan guru ini.

ITB dan Observatorium

Tidak hanya membangun Vervoloog Malabar, Bosscha juga ternyata menggagas pembangunan sekolah tinggi yang lebih besar di Kota Bandung pada 1920. Sekolah tersebut adalah Technische Hoogeschool te Bandoeng atau yang saat ini dikenal dengan sebutan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Selain menjadi penggagas dan donatur, Bosscha juga didapuk sebagai anggota Majelis Direktur Technische Hoogeschool te Bandoeng.

Usahanya mencerdaskan manusia melalui keberadaan Technische Hoogeschool te Bandoeng pun tak sia-sia. Lantaran dari sekolah tinggi tersebut telah muncul tokoh-tokoh cemerlang yang kita kenal sampai sekarang.

Selain itu, pada 1923, Bosscha menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan Observatorium di Lembang. Demi melengkapi observatorium dengan teknologi tercanggih pada masanya, Bosscha bersama Dr. J. Voute pergi ke Jerman untuk membeli Teleskop Refraktor Ganda Zeiss dan Teleskop Refraktor Bamberg.

Namun sayang, Bosscha sendiri tidak sempat menikmati peneropongan bintang lewat observatorium yang didirikannya. Sebab Bosscha meninggal beberapa saat setelah diganjar penghargaan sebagai Warga Utama Kota Bandung dalam upacara kebesaran yang dilakukan Gemente di Kota Bandung pada 1928.

Untuk mengenang jasa-jasa Sang Juragan Teh, namanya pun disematkan pada bangunan impiannya, yakni Observatorium Bosscha. Saat ini Observatorium Bosscha dikelola di bawah Fakultas MIPA Institut Teknologi Bandung.

AYO BACA : Berkunjung ke Rumah Antik Juragan Teh Malabar

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar