Yamaha

[Lipkhas] Eksistensi Perkebunan Teh Malabar yang Tak Kunjung Pudar

  Minggu, 08 Desember 2019   Rizma Riyandi
Pintu gerbang Perkebunan Teh Malabar. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

PANGALENGAN, AYOBANDUNG.COM -- Perkebunan Teh Malabar sudah dikenal sejak abad ke-18. Bahkan, menurut beberapa literasi, teh yang diproduksi oleh kebun ini sempat merajai dunia. Teh dari Kecamatan Pangalengan ini diekspor hingga Timur Tengah, Asia Timur, dan Eropa.

Tidak hanya identik dengan kekayaan alam dan teh, perkebunan yang didirikan oleh Karel Albert Rudolf Bosscha pada tahun 1896 ini juga menyuguhkan panorama yang luar biasa indah.

Kesan istimewa tertangkap mata saat melihat gerbang Perkebunan Teh Malabar. Bahkan setelah melewati gerbang dan melangkah ke area perkebunan, kita seolah sedang masuk ke dunia lain yang berbeda. Sejauh mata memandang kita hanya melihat pepohonan teh yang terhampar seperti permadani hijau, diselingi bukit bukit yang naik turun mempercantik seluet alam.

Hawa sejuk di Perkebunan Teh Malabar bahkan mampu membuat pikiran kita tenang, badan terasa ringan, dan hati pun senang. Maka itu, tak heran jika Perkebunan Teh Malabar sering dikunjungi wisatawan, baik dalam dan luar negeri. Sebab area seluas 11.300 hektare ini memang memiliki daya pikat yang tinggi.

AYO BACA: Bosscha, Sang Juragan Teh Malabar

Pabrik Teh Malabar

IMG-1721

Pabrik Pertama Teh Malabar. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

Tak lama setelah mendirikan Kebun Teh Malabar, Karel Albert Rudolf Bosscha membangun Pabrik Teh Malabar. Pabrik pertama yang dibangun terletak tidak jauh dari rumah Boscha. Di gedung seluas lapangan bola itu ia mempekerjakan ratusan pegawai yang bertugas mengolah daun teh menjadi teh siap konsumsi.

Namun karena kondisi tanah yang labil, lantaran di pinggir pabrik terdapat sebuah lembah, pada tahun 1901, Pabrik Teh Malabar dipindahkan ke Tanara dan masih kokoh berdiri hingga sekarang.

Kepala Wilayah Agrowisata Malabar Suhara menuturkan, meski sudah tidak beroperasi, gedung pabrik yang pertama sempat dijadikan sebagai gelanggang olah raga (GOR) oleh warga. Di gedung tersebut warga biasa bermain badminton dan bola voli.

Namun karena semakin ke sini warga pun mulai beralih ke lapangan di perkampungan, saat ini gedung bekas pabrik teh tersebut hanya kosong melompong, tak dipakai sebagai apapun. Meski begitu, kontruksi bangunan pabrik masih terlihat kokoh. Tiang-tiang penyangganya pun masih berdiri tegak.

"Uniknya bangunan ini tidak memakai paku. Jadi dulu pakai pasak dan baut, tapi kuat sampai sekarang. Padahal usianya sudah lebih dari 100 tahun," tutur Suhara yang juga akrab disapa Ara di bekas Pabrik Teh Malabar pada Ayobandung.com, Jumat (6/12/2019).

Dia memaparkan, dulu produksi Teh Malabar semakin lama semakin meningkat. Sebab permintaan dari luar negeri semakin banyak. Menurut data yang ia peroleh, Perkebunan dan Pabrik Teh Malabar, paling banyak pernah memperkerjakan 1.300 pegawai. Semuanya termasuk para pemetik teh hingga pekerja di pabrik.

"Tapi karena sekarang pesaingnya semakin banyak, ya produksi juga agak menurun. Makanya sekarang pekerja di sini (Pekebunan dan Pabrik Teh Malabar) hanya sekitar ratusan orang. Dan kebanyakan yang bekerja pun PHL (pekerja harian lepas)," ujar Ara.

IMG-1722

AYO BACA : (Lipkhas) Bosscha, Juragan Teh Malabar yang Banyak Berjasa

Sisi dalam Pabrik Pertama Teh Malabar. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

Meski demikian, kualitas Teh Malabar tetap terjaga. Sampai saat ini teh hasil pabrikan Malabar masih dikenal sebagai salah satu teh terbaik di dunia. Selain karena aroma dan rasanya yang nikmat, kekentalan dan ketahanan teh ini pun berada di atas teh yang lain.

"Misal perbandingannya kalau teh celup yang lain itu satu kantung teh celup hanya bisa untuk satu gelas, Teh Malabar mah satu kantung itu bisa untuk empat gelas," kata Ara.

Adapun hingga saat ini, Pabrik Teh Malabar hanya memproduksi teh ortodok atau teh hitam. Hal ini dilakukan untuk menjaga spesialisasi perkebunan yang memang dikenal sebagai spesialis penghasil teh hitam.

Ara mengakui pembuatan teh hitam memang mebutuhkan proses yang lebih lama. Jika cuaca sedang bagus, proses pengeringan bisa memakan waktu 12 jam. Tapi jika musim hujan bisa sampai 24 jam. Hal tersebut terjadi lantaran aktivitas pengeringan memang dilakukan sampai air yang terkandung dalam daun teh hanya mencapai 30%.

"Setelah pengeringan, baru teh diolah di pabrik dan dikemas sampai siap diantar ke konsumen," kata Ara.

Meski telah bertahan lebih dari satu abad, eksistensi Teh Malabar masih diakui dunia. Sampai sekarang Teh Malabar masih diekspor ke wilayah eropa, timur tengah seperti Arab Saudi, dan negara-negara Asia lainnya seperti Jepang.

Cara Terbaik Menikmati Teh Malabar

teh-1

Ilustrasi. (Pixabay)

Meski teh yang kita minum adalah Teh Malabar yang merupakan teh terbaik dunia, rasanya tidak akan nikmat jika cara penyajiannya tidak tepat. Ara menyampaikan, untuk memperoleh rasa teh terbaik, penyeduhan teh tidak boleh dilakukan secara gegabah.

"Menyeduh teh itu ada tekniknya, supaya rasanya keluar dan tidak gosong," papar Ara.

Menurutnya, berbeda seperti kopi yang harus langsung diseduh dengan air panas mendidih, penyeduhan teh justeru tidak boleh dilakukan dengan teknik tersebut.

Penyeduhan teh yang benar dimulai dengan memasak air hingga mendidih kurang lebih 300 derajat celcius. Setelah itu diamkan air selama 10 menit, kemudian baru seduhkan air yang telah didiamkan ke gelas atau wadah berisi teh.

"Kalau langsung dituangkan air mendidih bisa-bisa tehnya jadi gosong," ungkap Ara.

IMG-1754

Sejumlah produk Teh Malabar. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

Dia mengatakan, teh yang gosong karena proses penyeduhan yang salah tidak akan mengeluarkan rasa yang enak. Malah teh tersebut akan terasa pahit.

Ciri-ciri seduhan teh gosong sendiri dapat dilihat dari warnanya. Air teh yang bagus akan memiliki warna kemerahan. Sementara air seduhan teh yang gosong warnanya cenderung cokelat kehitaman.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar