Yamaha

[Lipkhas] Bosscha, Juragan Teh Malabar yang Banyak Berjasa

  Minggu, 08 Desember 2019   Rizma Riyandi
Perkebunan Teh Malabar dan SD 04 Malabar.(Ayobandung.com/Rizma Riyandi)
PANGALENGAN, AYOBANDUNG.COM -- Semua warga Bandung pasti tak asing dengan nama Bosscha. Pasalnya nama tersebut tersemat di observatorium yang terletak di Lembang. Namun tak banyak yang tahu bahwa Bosscha adalah salah satu warga Belanda yang punya andil besar dalam perkembangan Kota Bandung. 
 
Untuk menggali informasi lebih dalam mengenai sosok dan peninggalan bosscha, wartawan Ayobandung.com, Rizma Riyandi ditugaskan membuat liputan khas (Lipkhas) ke tempat tinggal serta persemayaman terakhir Bosscha di Pangalengan. Berikut hasil liputan Rizma Riyandi:
 
Karel Albert Rudolf Bosscha
 
Sosok keji pasti akan terlintas dalam pikiran warga Indonesia jika membayangkan para pendatang Belanda pada zaman dahulu. Pasalnya mereka datang ke tanah air sebagai penjajah dan tak jarang berperilaku kejam saat memaksa rakyat Indonesia untuk melakukan kerja rodi. Namun hal tersebut tidak berlaku pada Bosscha. 
 
Pria yang dikenal sebagai Juragan Teh Malabar itu justeru diingat sebagai sosok dermawan yang baik hati. Bahkan hingga saat ini kebaikan-kebaikannya masih bisa kita dengar dari orang-orang di sekitar tempat tinggal Sang Tuan di Kebun Teh Malabar.
 
Pria bernama lengkap Karel Albert Rudolf Bosscha merupakan warga Belanda Keturunan Jerman yang lahir di Den Haag atau 's-Gravenhage pada 15 Mei 1865. Pada masa mudanya Bosscha memutuskan untuk mengikuti sang paman berkelana ke Indonesia. 
 
IMG-1745
Potret Karel Albert Rudolf Bosscha. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)
 
Sebagai ahli di bidang perkebunan, ia berusaha mencari wilayah yang cocok untuk mengembangkan teh di Pulau jawa. Sampai akhirnya Bosscha pun singgah di wilayah Malabar yang pada saat itu masih berupa hutan belantara.
 
Pada 1896 atau tepat di usianya yang ke-31 tahun, Bosscha memutuskan untuk membabat hutan Malabar dan mendirikan perkebunan teh di sana. Dengan kegigihan dan keuletan, Bosscha pun berhasil mengembangkan Perkebunan Teh Malabar yang saat ini masih bisa kita lihat kejayaannya. 
 
Makin lama, perkebunan teh milik Bosscha semakin luas. bahkan menyebar ke timur sampai wilayah Garut. Sejak saat itulah Bosscha mulai mengukuhkan posisinya sebagai penguasa perkebunan teh di Jawa Barat.
 
Meski demikian, kesuksesan tersebut tidak membuat sang juragan lupa diri. Ia malah semakin memperhatikan pekerjanya yang kebanyakan berasal dari kalangan pribumi. Berbagai hal Bosscha lakukan untuk menjamin kesejahteraan para pegawai. 
 
Begitulah yang disampaikan Kepala Wilayah Agrowisata Malabar Suhara yang tak lain merupakan anak dari 'Jongos' bosscha pada Ayobandung.com.
 
"Tuan Bosscha itu penyayang. Selain kepada manusia, beliau juga menyayangi binatang. Dulu di pinggir rumah, tuan bosscha memelihara rusa dan burung merak," tutur pria yang akrab disapa Ara itu di Rumah Bosscha, Malabar, Jumat (6/12/2019).
 
Menurut Ara, Sang Juragan selalu bersikap lembut pada pegawainya. Baik yang bekerja di kebun maupun di rumah. Tak pernah sekalipun Bosscha berperilaku kasar. Walau begitu, Bosscha adalah sosok yang disiplin. Tapi bukan juga juragan yang memaksa pegawainya untuk terus bekerja. Ia dikenal sangat manusiawi.
 
"Tuan Bosscha itu, kalau lihat pegawai sedang bekerja lalu tiba-tiba pegawainya merokok, beliau pasti menyuruh pegawainya untuk istirahat," tutur Ara.
 
Hal inilah yang membuat ia sangat dihormati, sekaligus disegani oleh para pegawai di perkebunan.
 
Selain memberi upah, Sang Tuan pun mendirikan berbagai fasilitas guna menunjang kehidupan para pegawai. Untuk menjamin kesehatan, Bosscha membangun klinik yang khusus diperuntukkan bagi pekerjanya yang sakit. Di klinik tersebut selalu ada mantri jaga yang siap untuk mengobati para pegawai secara gratis.
 
Di sisi lain Bosscha tak mau anak-anak pegawainya bodoh. Maka itu ia membangun Vervoloog Malabar atau Sekolah Rakyat Malabar pada 1901 bagi anak-anak di sekitar perkebunan. Di sana Bosscha menugaskan beberapa guru untuk mengajarkan baca tulis.
 
Di dekat rumahnya, Bosscha mendirikan perumahan bagi para pegawai perkebunan yang saat ini sudah berubah menjadi Desa Purbasari. Kemudian di sisi selatan perkebunan, Bosscha membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cilaki untuk menerangi wilayah Malabar.
 
"Jadi dulu, walaupun PLN belum ada, wilayah di sini (Perkebunan Malabar) mah sudah terang," ungkap Ara.
 
Di samping merupakan seorang ahli perkebunan, Bosscha sangat menggemari seni dan astronomi. Kecintaannya terhadap musik terlihat dari kebiasaan Bosscha yang sering memainkan pianonya di sudut rumah. 
 
Bahkan di pelataran rumahnya, Bosscha sengaja membuat tempat pertunjukkan musik tradisional seperti gamelan. Ia sering mengundang para pemusik untuk menggelar pertunjukkan yang dapat dinikmati siapapun.
 
Adapun kecintaannya di bidang astronomi diluapkan melalui pembangunan observatorium di Lembang. Bersama sahabatnya yang seorang ahli astronomi, Robert Albert Kerkhoven, Bosscha mendirikan sebuah pusat peneropongan bintang pada tahun 1923.
 
"Tapi sayang, Tuan Bosscha menikmati keberadaan peneropongan bintang hanya sebentar. Karena baru tiga tahun setelah pembangunan peneropongan bintang selesai, beliau meninggal," papar Ara.
 
Wafatnya Sang Miliuner
 
Petaka itu dimulai saat Bosscha menunggangi kuda. Tuan nan bijaksana yang awalnya sehat walafiat mendadak sakit tetanus setelah jatuh dari tunggangan hewan peliharaan.
 
"Dulu kan di sini Tuan punya banyak kuda. Nah suka keliling perkebunan pakai kuda. Suatu waktu beliau terjatuh dari kuda, lalu kakinya terluka. Maklumlah, luka mungkin infeksi, ya kotor gitu lah, kena virus. Jadi tetanus," kata Ara.
 
Meski sudah mendapat pengobatan, akhirnya Bosscha wafat karena penyakit tersebut di usia 63 tahun pada 1928. Namun beberapa saat sebelum meninggal ia sempat berwasiat untuk di makamkan di lokasi favorit, tempat biasa ia bertetirah.
 
20191206-093123
Prasastri Bosscha. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)
 
Oleh karenanya pada prasasti Bosscha yang terletak tepat di dekat makam, tertulis jelas "Peristirahatannya yang terakhir di sini adalah tempat beliau bertetirah di sela-sela kesibukannya sehari-hari."
 
Saat ini kita bisa melihat sebuah makam bergaya eropa, lengkap dengan pilar-pilar dan kubah bercat putih, berdiri tegak di rerimbunan pohon di tengah-tengah Perkebunan Teh Malabar. Adapun desain makam Bosscha memang disesuaikan dengan kepribadiaannya yang hangat. Kubah di atas makam, menurut Ara disesuaikan dengan bentuk topi yang selalu dipakai Sang Juragan.
 
Selain sering didatangi oleh para pejiarah, banyak wisatawan yang mengunjungi makam Bosscha. Sebab wilayah di sekitar makam memang menarik untuk dikunjungi.
 
Saking seringnya dikunjungi oleh wisatawan, warga sampai membuat area parkir di dekat makam Bosscha. Caca (65) yang merupakan penjaga parkiran Makam Bosscha menuturkan, wisatawan yang berkunjung ke makam tak hanya berasal dari Indonesia. Ia bahkan sering melihat para bule berjiarah ke Makam Bosscha.
 
20191206-093203
Makam Bosscha. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)
 
"Banyak yang suka berkunjung ke sini (Makam Bosscha) mah. Apalagi kalau Sabtu dan Minggu, sekalian berjiarah, mereka juga suka foto-foto di kebun teh," ujar Caca.
 
Baginya, meski sudah meninggal, keberadaan Bosscha tetap membawa berkah bagi warga sekitar. Hal ini sangat ia rasakan, sebab dengan menjadi penjaga parkiran di makam, Caca juga memperoleh rejeki.
 
"Ya alhamdulillah sejak pensiun dari PTPN, saya langsung ikut bantu-bantu ngurus makam ini, rejeki mah selalu ada saja setiap hari. Selain uang, kadang dapat makanan dari pengunjung," kata Caca sambil tersenyum.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar