Yamaha

23 Fashion District 2019, Upaya Populerkan Fesyen Berkelanjutan di Bandung

  Sabtu, 07 Desember 2019   Nur Khansa Ranawati
Koleksi ready to wear Hijab Mandjha Ivan Gunawan / istimewa

CICENDO, AYOBANDUNG.COM -- Saat ini, gerakan ramah lingkungan dan sadar atas kesejahteraan masyarakat sekitar menjadi hal yang tengah banyak diimplementasikan di berbagai sektor kehidupan.

Salah satunya bidang fesyen. Hal tersebut dilaksanakan melalui konsep fesyen berkelanjutan atau sustainable fashion.

Di Indonesia, konsep ini tengah berupaya diterapkan oleh beberapa desainer lokal, tak terkecuali di Kota Bandung. 

Untuk itu, 23 Paskal Shopping Center bekerjasama dengan Indonesian Fashion Chamber (IFC) menggelar pagelaran fesyen bertajuk Towards Sustainable Fashion Trend Forecasting 2019/2020 di Main Atrium 23 Paskal pada 6-8 Desember 2019.

Di acara yang memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya ini, sebanyak lebih dari 50 desainer mode Indonesia turut berpartisipasi memamerkan koleksi ready to wear mereka yang mengacu pada perkiraan tren 2019/2020. Para desainer tersebut merupakan perwakilan beberapa kategori busana mulai dari modest wear, urban wear, hingga evening wear.

Sejumlah desainer yang terlibat antara lain  Danjyo Hiyoji, Alleira Batik, Andreas Lim, Bateeq, Sofie, Imaji Studio,Etu, Lekat Dua, Ferry Sunarto, Harry Ibrahim, Deden Siswanto, Irna Mutiara, Ivan Gunawan, Lenny Agustin, Weda Githa, Hannie Hananto, Nuniek Mawardi, Ariy Arka, dan lainnya. Selain itu, turut dipamerkan pula karya siswa sekolah mode dari Telkom University dan Universitas Kristen Maranatha.

National Chairman IFC sekaligus desainer asal Bali, Ali Charisma mengatakan, konsep fesyen berkelanjutan yang menjadi tema acara ini tidak hanya berakhir sebagai tagline. Para desainer yang terlibat, dia mengatakan, sudah mulai berupaya mengadopsi beberapa aspek yang masuk ke dalam kategori fesyen berkelanjutan.

"Sustainable fashion bukan hanya tema event ini saja tetapi juga komitmen kami untuk merubah gaya hidup dan cara memproduksi pakaian agar lebih etis, memperhatikan kesejahteraan para pekerjanya dan kelestarian lingkungan," ungkapnya pada Ayobandung.com ketika ditemui di sela acara, Sabtu (7/12/2019).

Konsep tersebut, dia mengatakan, juga berfokus pada hasil produksi pakaian yang awet dan tahan lama untuk mengurangi produksi sampah. Hal ini, dia mengatakan, meskipun tidak mudah tapi mulai banyak dipahami oleh desainer lokal.

"Tidak 100% desainer bisa mengaplikaskan itu tapi setidaknya arahnya sudah ke sana, paling tidak dengan mengurangi bahan sintesis, melakukan proses upcycling dan recycling, dan mengadopsi proses-proses yang mengarah ke sustainable fashion," jelasnya.

Sementara itu, General Manager 23,Paskal Shopping Center, M. Satriawan Natsir mengatakan, gelaran fesyen show ini sekaligus juga berupaya menguatkan image Kota Bandung sebagai kiblat tren fesyen Indonesia. Ajang ini juga menjadi kesempatan bagi para desainer lokal untuk mengenalkan produk ready to wear nya pada masyarakat luas.

"23 Fashion District diselenggarakan untuk mendukung dan menjalin sinergi dengan pelaku ekonomi kreatif sektor fesyen sebagai upaya mendorong perkembangan fashion di Indonesia. Serta diharapkan dapat lebih memperkenalkan kreativitas di industri fesyen nasional kepada masyarakat luas,” paparnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar