Yamaha

Cara Unpad Berdayakan Masyarakat Lewat Wirausaha Sosial

  Rabu, 04 Desember 2019   Nur Khansa Ranawati
Unpad memanfaatan lahan kritis untuk digunakan sebagai tempat budidaya madu. (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Setahun lalu, tanah seluas 7 hektar di bilangan Dago Atas, Bandung yang terletak di belakang gedung Psikologi Universitas Padjajaran penuh dengan semak belukar yang tumbuh tidak beraturan. Kebun tanpa akses jalan tersebut kerap dimanfaatkan warga untuk membuang sampah.

Lahan kritis yang tidak membawa manfaat, demikian dosen kewirausahaan di Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad, Dwi Purnomo menyebutnya. Namun saat ini, lahan tersebut telah dimanfaatkan untuk budidaya lebah menggunakan teknologi sensor.

Belasan kandang lebah untuk menampung madu telah terpasang. Ekosistem untuk membangun vegetasi kehidupan lebah telah ditanam. Mulai dari bunga matahari hingga pohon petai cina tumbuh teratur di sebagian lahannya.

Dwi mengatakan, pemanfaatan lahan tersebut merupakan bagian dari penelitian kolaboratif soal teknologi lebah madu bertitel "Masagi" alias Madu Sehat Bergizi.

Penelitian tersebut melibatkan berbagai bidang kepakaran mulai dari industri pertanian, ekonomi, sosiologi, dan lainnya. Sejumlah mahasiswa Unpad pun turut terlibat.

Tak sekedar berteori di atas kertas, penelitian tersebut juga dihilirisasi agar dapat bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.

AYO BACA : Mahasiswa Unpad Kembangkan Nasi Bawang Dayak Antidiabetes

"Bukan hanya profit, tapi juga planet and people. Jadi kita pakai pendekatan social enterprise. Dari lahan kritis dan curam ini ternyata bisa kita sulap jadi lahan yang punya nilai ekonomis tinggi," ujarnya pada Ayobandung.com, Rabu (4/12/2019).

Dwi memaparkan, awalnya penelitian tersebut berfokus pada pengembangan sensor yang dapat mendeteksi kesehatan lingkungan sebuah lahan. Dari sana, penelitian terus bergulir.

Dalam perjalanannya, para peneliti menemukan momentum-momentum yang dapat kembali diteliti hingga melibatkan lebih banyak kepakaran yang akhirnya membawa dampak pada masyarakat.

"Awalnya meneliti sensor, kemudian dikembangkan model bisnisnya, kemudian dioptimalkan dengan kegiatan pemberdayaan, dari situ diteliti produk turunannya apa saja, dan seterusnya. Penelitian ini akhirnya melibatkan ibu-ibu hingga anak muda di lapangan," katanya.

Saat ini, dari penelitian lebah madu tersebut telah muncul sebanyak 18 produk turunan mulai dari sirup, limun, cookies dan sebagainya dimana produksinya melibatkan masyarakat sekitaran Jatinangor. Beberapa di antaranya telah berhasil dipasarkan.

Tak sampai di situ, pemanfaatan lahan budidaya lebah dan madu-nya pun dilakukan oleh masyarakat yang sebelumnya rentan secara ekonomi. Mereka dilatih dan diberdayakan hingga dapat memperoleh manfaat dari penelitian yang telah berjalan selama 1,5 tahun tersebut.

AYO BACA : Dosen Unpad Berhasil Gali Potensi Pemuda untuk Wirausaha Pertanian

Tantan Suparman misalnya. Pria asal Jatinangor tersebut sebelumnya sempat di-PHK setelah beberapa tahun bekerja sebagai Office Boy.

Setelah sempat menganggur, dirinya kemudian dilatih selama tiga bulan belajar mengenai lebah dan budidayanya di Ciburial, Bandung. Saat ini, dirinya bekerja mengelola budidaya lebah di lahan Dago tersebut.

"Sekarang saya tugasnya mengelola tanaman dan bunga untuk memastikan lebah memiliki pakan," ujarnya ketika ditemui di sela kegiatannya.

Hal serupa juga dialami Apep Suryana. Dirinya yang sempat bersekolah di salah satu SMA di Jatinangor tersebut tidak meneruskan sekolahnya dan kemudian memutuskan belajar menjahit untuk berbisnis konveksi skala rumahan.

Namun, Apep mengatakan, penghasilan dari kegiatan tersebut kurang memdai. Dirinya kemudian bertemu dengan sejumlah mahasiswa Unpad untuk bekerja di start-up mereka. Dari sanalah Apep akhirnya bertemu Dwi dan kemudian mulai dilatih untuk memantau lahan budidaya madu dan lebah tersebut.

"Kalau di rumah kan gitu-gitu aja, penghasilan juga tidak cukup. Kalau di luar begini banyak pengalaman, banyak ketemu orang, dapat ilmu baru. Itu sih yang paling penting," katanya ketika ditemui dalam kesempatan yang sama.

Selain Tantan dan Apep, masih banyak warga lainnya yang turut diberdayakan dalam penelitian tersebut. Tak hanya di bidang lebah dan madu, Dwi menyebutkan, pelibatan masyarakat dalam penelitian telah menjadi ciri khas keunggulan kampusnya.

"Kalau sekedar menciptakan teknologi dan alat, itu bisa saja ditiru dan direplikasi. Model bisnis social enterprise ini yang paling penting," ujar Dwi.

AYO BACA : Amorina, Produk Wirausaha Alumni Unpad Saingi Kosmetik Kekinian

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar