Yamaha

[Lipkhas] Candaan Tentang Janda yang (Seharusnya) Tak Undang Tawa

  Rabu, 04 Desember 2019   Nur Khansa Ranawati
Ilustrasi. (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Di masyarakat Indonesia, seseorang dengan status janda kerap menanggung bebannya tersendiri. Salah satunya adalah stigma negatif yang kerap muncul mengenai perempuan tanpa suami, hingga tak jarang terejawantah menjadi lelucon yang terkesan merendahkan para janda.

Misalnya, sebutan "janda kembang" atau "janda hot" untuk menunjukan kemolekan seorang perempuan yang telah tidak bersuami, atau sebutan lainnya yang memunculkan kesan "genit" bagi para janda. Padahal, status janda dan kesan "perempuan genit" bukanlah hal yang identik dan tidak serta-merta saling berhubungan.

Menanggapi hal tersebut, psikolog dan konselor keluarga, Diah Mahmudah mengatakan bahwa derajat kewajaran untuk melontarkan bercandaan terhadap janda tersebut berbeda-beda di antara masyarakat. Ada yang menganggap hal tersebut biasa, namun banyak pula yang tidak.

Baginya, bercandaan terhadap status janda tersebut jelas merupakan hal tidak wajar dan bahkan dapat dikategorisasi sebagai bentuk bullying atau perisakkan. Pasalnya, terdapat perasaan yang terluka selepas bercandaan tersebut dilontarkan.

"Kenapa masuk kategori bullying, karena ada satu serangan verbal yang berdampak pada perasaan yang tidak menyenangkan atau sampai menyakitkan pada orang yang dijadikan objek bercandaan soal janda," ungkapnya pada Ayobandung.com belum lama ini.

Bentuk bullying tersebut, dia mengatakan, dapat berwujud verbal hingga seksual. Dikatakan bullying verbal karena meskipun diniatkan untuk bercanda, namun unsur "hiburan" yang dilontarkan juga sekaligus berdampak pada rasa tersinggung, terutama dari objek yang dijadikan lelucon.

AYO BACA : Maudy Kampanyekan Stop Perundungan Kecantikan di Medsos

"Meskipun niatnya bercanda dan hanya nyeletuk doang, ini tidak masuk ke dalam kategori menghibur. Bukan menimbulkan perasaan nyaman, malah menghasilkan perasaan tersinggung dari sang janda. Ini serangan verbal yang dilakukan dengan sengaja," jelasnya.

Sementara itu, sebutan "janda hot" atau panggilan yang merujuk pada kesan seksualitas janda tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Kategori ini, Diah menyebutkan, satu tingkat berada di atas verbal bullying.

"Sebutan-sebutan itu sudah mengandung bumbu-bumbu sexual harassment, termasuk melecehkan dan jelas tidak pantas," ungkapnya.

Memilah respon

Meski demikian, Diah mengatakan, ejekan dan stigma terhadap janda yang telah terbentuk di masyarakat adalah hal yang berada di luar kontrol sang janda. Sehingga, hal yang paling dapat dilakukan oleh para janda adalah dengan mempertebal keyakinan diri bahwa hal-hal tersebut bukanlah kebenaran.

Pertama-tama, Diah menyebutkan, menerima dengan tegas bahwa dirinya memiliki status janda adalah hal yang penting. "Penerimaan status akan mempermudah dia mengelola berbagai perasaan yang tidak nyaman dari cap yang diberikan oleh orang lain," ungkapnya.

AYO BACA : Fitur Anti-bullying di Instagram Tuai Banyak Pujian

"Stigma kan sudah sesuatu yang berada di luar wilayah kontrol seseorang, kita tidak bisa mengatur dan mengendalikan omongan orang lain. Hal yang bisa kita kendalikan adalah mental kita agar tidak terpengaruh oleh omongan orang lain," tambahnya.

Sehingga, dia mengatakan, memilah respon diri terhadap hal yang dilontarkan orang lain tersebut menjadi senjata terpenting. Belajar untuk tidak mengambil pusing persepsi orang dan merasa yakin pada diri sendiri harus diupayakan.

"Kita harus belajar bahwa hidup tidak tergantung dari penilaian orang lain, tetap belajar untuk berdaya dan menganggap bahwa hidup ini hidup saya, terserah orang mau berkata apa. Omongan yang tidak menyenangkan dianggap angin lalu," ungkapnya.

Salah satu cara untuk dapat menepis stigma tersebut adalah dengan fokus membenahi dan menggali potensi diri sehingga dapat hidup mandiri dan berdaya di masyarakat. Bila sudah demikian, masyarakat pun dapat melihat bahwa janda bukanlah seperti yang dipersepsikan dalam stigma yang ada.

"Tunjukkan bahwa janda pun bisa berkarya, berdaya dan memiliki kekuatan sehingga orang tidak mengaitkan stigma tersebut dengan dirinya. Menjadi produktif bisa membuat diri lebih bersinar, bahwa ada orang yang kagum itu adalah bonus," ungkapnya.

Selain itu, dia mengatakan masyarakat pun sebaiknya harus memiliki empati dan kepedulian terhadap orang lain. Menjaga lisan adalah hal yang sangat penting agar tidak berdampak menyakiti perasaan orang lain.

"Orang juga seharusnya punya empati dan rasa peduli. Hal yang keluar dari lisannya bisa berdampak pada orang lain. Daripada berkata buruk, lebih baik diam," tutupnya. 

AYO BACA : Instagram Luncurkan Fitur Baru untuk Lawan 'Bully Online'

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar